Seumapa sampai bubur pedas. Beragam warisan budaya negeri muda sedia untuk kesuksesan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 dipersembahkan. Persembahan tersebut sebagai keberadaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang di ajang bergengsi yang digelar 4 tahun sekali] tak bisa dipandang sebelah mata.
Seumapa atau berbalas pantun menggunakan bahasa Aceh merupakan khazanah adat Aceh yang dilakukan pada upacara-upacara perkawinan menjadi andalan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur ini.
Sebab; Pagelaran Seni dan Budaya yang disuguhkan di ajang bergengsi itu sangat memberikan makna yang dalam. Betapa tidak, kilas pantun penyambut tamu, menjadi ikon untuk menarik para tamu ketika berkunjung ke anjungan Pemkab Aceh Tamiang.
Apalagi strata gurindam dan tambo itu sudah sangat langka dan sulit dilakukan, tetapi masih tetap dipertahankan di Tanah Bumi Muda Sedia dari generasi ke generasi.
Hingga Seumapa Aceh Tamiang didapuk pada PKA 8 sebagai kontingen terbaik, karena unik dan tampil sangat memukau. Bait kata dan konstruksi kalimatnya shahih serta sambung menyambung menjadi untaian yang tak terpisah.
Apalagi itu, suguhan bubur pedas yang disajikan, sangat diminati para pengunjung. Rasanya unik dan sangat lezat cita rasanya. Membuat anjungan Aceh Tamiang terkesan favourite di ajang PKA 8.

“Tamiang memang sempurna, saya apresiasi untuk Aceh Tamiang. Terlebih berbagai tampilan atraksi yang disuguhkan sangat elegan dan menarik sekali. Patut kita acungkan jempol untuk anjungan Aceh Tamiang,” sebut seorang pengunjung di Anjungan Aceh Tamiang, Murtiah 45 tahun warga Aceh Jaya.
Pengakuan Murtiah, anjungan Aceh Tamiang kerap menjadi tujuan utama dirinya, “Ini PKA ketiga kali yang saya ikuti, tetap Tamiang destinasi utama saya. Sebab kalau ingin melihat miniatur Indonesia ada di Aceh Tamiang. Yang multi etnis dan linear,” ungkapnya.
Kata Murtiah, Aceh Tamiang itu memiliki berbagai macam suku di Indonesia, ruah menjadi satu kesatuan yang kuah dan sangat kokoh. “Saya ada baca tentang literatur Aceh Tamiang hasil searching di google. Makanya sedikit saya tahu Aceh Tamiang,” katanya.
Itu sekilas yang didapat tentang Aceh Tamiang dari salah satu pengunjung di Anjungan Aceh Tamiang. Apresiasi pengunjung begitu luar biasa.
Terima Anugerah Budaya Shah Alam
Kabupaten Aceh Tamiang mencatatkan satu tokoh seni, adat dan budaya lokalnya sebagai penerima Anugerah Budaya Aceh tahun 2023. Penyelenggaraan kegiatan yang menjadi rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8 tersebut berlangsung di Pendopo Wali Nanggroe. Senin, 6 November 2023 malam lalu, di Aceh Besar.
Tokoh adat penerima penghargaan anugerah budaya dalam kategori “Syah Alam” adalah Ir. Muntasir Wan Diman, MM. Penghargaan ini diberikan atas sumbangsih dan konsistensinya dalam pelestarian adat dan budaya, terutama sejarah dan peradaban melayu di Bumi Muda Sedia.
Pj. Bupati, Dr. Drs. Meurah Budiman, SH, MH, yang menerima kabar tersebut menyampaikan apresiasi besar kepada Muntasir Wan Diman. Dikatakan Meurah, yang bersangkutan memang dikenalnya sebagai orang yang konsisten memberikan sumbangsih menjaga sejarah serta memajukan peradaban melayu Tamiang.
“Alhamdulillah, selamat untuk Pak Muntasir. Kami atas nama Pimpinan Daerah Aceh Tamiang mengapresiasi Penetapan Anugerah Budaya Syah Alam. Anugerah ini menjadi bukti keseriusan kita melestarikan Adat dan Budaya Aceh Tamiang,” ungkap Meurah memuji.
Diterangkan Meurah, dirinya yakin anugerah ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat Aceh Tamiang. “Ini menjadi evidence, bahwa apa yang diwariskan para pendahulu kita masih terpelihara dan terjaga dengan baik. Sekali lagi saya ucapkan selamat, semoga pak Mun semakin berkiprah menjaga sejarah dan memajukan peradaban melayu Tamiang,” pungkas Pj. Bupati Meurah.
Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Al-Haytar dalam sambutannya menyampaikan, seperti tahun-tahun sebelumnya, Lembaga Wali Nanggroe kembali memberikan anugerah budaya, bertepatan dengan PKA-8 tahun 2023.
“Penyerahan anugerah tentunya bukan sebuah hal kebetulan, melainkan hasil proses panjang, mulai dari tahapan rapat persiapan, pendaftaran, penilaian, hingga verifikasi calon penerima anugerah. Begitu pula dengan calon penerima untuk setiap masing-masing kategori. Anugerah yang diserahkan malam ini juga bukan hasil yang diperoleh secara instan, tapi buah dari dedikasi berpuluh tahun lamanya,” ujarnya.

Untuk itu, tutur Malik Mahmud, jika dibandingkan dengan apa yang telah diabdikan oleh masing-masing calon penerima, anugerah ini tentunya tak dapat dibanding-bandingkan. “Namun inilah salah satu bentuk nyata upaya kami dalam menghargai dan mengapresiasi setinggi-tingginya jasa besar para penjaga warisan indatu di bumi Serambi Mekkah ini,” ungkapnya.
Lembaga Wali Nanggroe Aceh memberikan penghargaan kepada 13 orang yang berjasa serta berkontribusi dalam seni, adat dan budaya. Dalam pada itu, ada tiga jenis penghargaan yang diberikan, yakni Penghargaan Meukuta Alam, Tajul Alam, dan Penghargaan Syah Alam.
Para penerima diseleksi melalui penjaringan yang ketat oleh tim juri yang diketuai seorang akademisi, Prof. Dr. Syahrizal Abbas. Sementara anggota tim juri terdiri dari Dr. Yusri Yusuf, M.Pd, Drs. Nurdin AR, M.Hum, Drs. Nabhany, Dr. Rafiq, dam Muhammad Taufiq Abda.
Dalam penganugerahan semalam, ada 4 tokoh/penggiat budaya yang menerima Penghargaan Meukuta Alam, 2 tokoh/penggiat budaya penerima anugerah Tajul Alam, dan 7 tokoh/penggiat budaya lainnya menerima anugerah budaya Syah Alam.
Tampil Memukau, Aceh Tamiang Terbaik Seumapa
Tak hanya penghargaan anugerah seni budaya yang diperoleh Anjungan Aceh Tamiang, tetapi cabang Seumapa juga jadikan Aceh Tamiang yang terbaik.
Apalagi, diajang Seumapa, Aceh Tamiang tampil sangat memukau di cabang berbalas pantun, Kontingen Aceh Tamiang menjadi yang terbaik. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Kontingen, Drs. Asra, melalui Koordinator Lomba Seni dan Budaya, Elisa, S.Pd, M.Pd, Rabu, 8 Novembet 2023 lalu, dari Taman Budaya Aceh, Banda Aceh.
“Alhamdulillah, cabang Seumapa/Berbalas Pantun kita meraih dua nomor. Juara 1 kategori Kabupaten/Kota, dan Juara 3 kategori umum,” lapor Elisa singkat via selular.
Sementara itu, Pj. Bupati, Dr. Drs. Meurah Budiman secara spontan mengucapkan syukur atas torehan gemilang itu. Dikatakan Meurah, kemenangan tim Seumapa/berbalas pantun Aceh Tamiang menunjukkan bahwa berbalas pantun ciri khas kepiawaian masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, kemenangan tim seumapa/berbalas pantun Aceh Tamiang di PKA-8 menunjukkan bahwa berbalas pantun ciri khas kepiawaian masyarakat setempat dalam berseni tutur,” sebutnya.
Dikatakan Pj. Bupati Meurah, dalam banyak kesempatan dirinya kerap berpantun kala menyampaikan pengantar atau berpidato. “Sebagai salah satu seni budaya, saya kira menjadi tugas kita bersama melestarikan pantun. Kita mesti berbangga melantunkan pantun baik dalam acara resmi atau informal sekalipun,” imbuh Meurah menguatkan.
Dilansir dari jadwal pelaksanaan, sore ini kontingen Aceh Tamiang, mulai pukul 16.00 WIB akan kembali tampil di panggung utama Taman Sulthanah Safiatuddin dalam Lomba Musik Garapan. Sementara malam nanti, mulai pukul 20.00 WIB, kontingen akan mengikuti eksebisi tari melayu Zapin di panggung venue Taman Budaya Aceh.
Seumapa atau seni tutur atau pantun merupakan bentuk puisi dalam kesusastraan Melayu yang paling luas dikenal. Pada masa lalu pantun digunakan untuk melengkapi pembicaraan sehari-hari. Sekarang pun, sebagian besar masyarakat Melayu masih menggunakannya.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, pantun hingga kini dipakai oleh para pemuka adat dan tokoh masyarakat dalam pelbagai kesempatan, pidato seremonial, lamaran, pernikahan, dan acara serta kegiatan lainnya. Lazimnya, pantun berisi satu atau sejumlah makna yang bisa diterjemahkan secara tersirat maupun tersurat.
Secara sederhana, struktur pantun terdiri dari bait, baris, kata, rima, sampiran dan isi. Sementara unsur pantun terdiri atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam pantun ialah terdapatnya tokoh, tema, amanat, setelan tempat dan waktu, plot atau alur dan lain sebagainya. Ciri khas pantun dalam unsur intrinsik adalah rima, rima dalam pantun memiliki akhiran yang serupa.
Sementara unsur ekstrinsik adalah unsur yang berasal dari luar struktur pantun. Maksudnya, sebuah keadaan yang menjadi penyebab munculnya pantun. Unsur ini menjadi bagian yang sangat penting, sebab menentukan isi pantun dan penguat unsur intrinsik.
Unsur ekstrinsik dalam suatu pantun bisa berupa adat, norma, dan nilai yang berlaku di masyarakat. Unsur ekstrinsik bisa digunakan untuk mengarahkan gaya bahasa dan makna, yang bisa didapat di dalam isi pantun yang dibuat tersebut.
Bubur Pedas Aceh Tamiang Unjuk Kualitas
Kontingen Aceh Tamiang kembali mencatatkan raihan prestasi di ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8. Adalah cabang lomba Mengarang & Membaca Hikayat yang menjadi Juara 3 saat diumumkan Jumat, 10 November 2023 lalu, di Taman Budaya Aceh, Banda Aceh.
Kabar menggembirakan itu disampaikan oleh Ketua Umum Kontingen, Drs. Asra, melalui Koordinator Lomba Seni dan Budaya, Elisa, S.Pd, M.Pd. Berkabar via pesan instan, ia menyampaikan berita tersebut secara singkat.
“Alhamdulillah, kita dapat juara lagi. Cabang lomba Mengarang & Membaca Hikayat mendapat juara ketiga dari 23 Kabupaten/Kota yang bertanding,” lapornya ringkas.
Pj. Bupati, Dr. Drs. Meurah Budiman, SH, MH, ikut senang mendapatkan kabar tersebut. “Alhamdulillah, bangga kita Aceh Tamiang mencatatkan prestasi lagi,” ujarnya tulus.
Disebutkan, pada lomba Mengarang dan Membaca Hikayat, peserta asal negeri Bumi Muda Sedia mengangkat ceritera “Si Bubur Pedas”. Dalam proses pembuatannya, “Si Bubur Pedas” menggunakan 44 macam bahan rempah, sesuai dengan tema kPKA-8, “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia,” pungkasnya.
Aceh adalah Bangsa dan Suku yang Besar, Disegani dan Heroik
Penjabat (PJ) Bupati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang. Dr. Drs. Meurah Budiman, SH. MH. Sangat menikmati pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8 di taman Ratu Safiatuddin, Lampriek. Banda Aceh.
Suguhan Anjungan yang mencerminkan adat dan budaya 32 Kabupaten Kota masing-masing daerah di provinsi Aceh, tumpah ruah menjadi satu kesatuan suku-suku di Aceh.
“Ini adalah peradaban kaum di Aceh yang multi etnik, beragam kebudayaan terlihat malam ini. Inilah kaum Aceh. Kalau saya boleh katakan, saatnya orang di luar Aceh. Jika ingin melihat keberagaman suku dan budaya di sini,” jelas Meurah sambil menyeruput kupi di Anjungan Aceh Tamiang. Tadi malam [Sabtu, 4 November 2023 lalu] di Banda Aceh.
Apalagi itu, jelas Meurah. Dari berbagai tarian yang disuguhkan menggambarkan betapa masyarakat Aceh itu energik dan sangat heroik. “Apalagi pada zamannya kesultanan Iskandar Muda dan Keumalahayati, Aceh dikenal pemberani dan patriotik. Malam ini adegan itu disuguhkan lewat tarian yang sangat memukau,” jelasnya.
Keta Meurah, melalui ajang PKA. Selayaknya dunia luar memandang Aceh tidak kecil, sebaliknya Aceh adalah peradaban yang maju. Karena multi etnik, betapa tidak; dengan 13 suku yang mendiami seluruh wilayah Aceh dan memiliki 11 bahasa induk daerah menjadikan Aceh kaum yang besar dan disegani.
Bahkan, jabar Meurah, dari satu bahasa induk [bahasa utama] di daerah Aceh. Terpecah lagi dari menjadi bahasa pulau dan wilayah setempat dengan logat dan lapat yang berbeda.
Meurah terlihat sumringah, mengisahkan secuil keberadaan suku, adat dan bahasa Aceh pada malam itu. Sebagai orang Nagan Raya yang dikenal heroik dan tegas. Tergambar ketika Meurah bercerita. Apalagi dirinya bagian dari titisan darah biru. Yang ikut memperjuangkan wilayah Aceh.
Keakraban Meurah dengan tim di Anjungan Aceh Tamiang begitu kental, sesekali Dia berkelakar. Yang membuat tim tersenyum dan ter bahak karena celotehnya.
Meurah begitu bersemangat malam itu. Beban tugas yang menggelayut seakan lepas dari pikirannya. Karena pengaruh kekuatan ruh PKA ke 8 yang menghipnotis dirinya.
“Asabat saya, Insha Allah. Aceh Tamiang bisa memberikan hadiah teristimewa bagi seluruh warga di sini. Mudah-mudahan dengan ijin Allah SWT. Kita doakan bersama. Sebab anjungan Aceh Tamiang ini sangat unik dan fenomenal,” pungkas Meurah. [***].








