“Sebelum tumbang kayu raksasa Trumbesi itu, kami masyarakat sekitar sudah menyurati Pemerintah Kota Pemko yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesaran Kota Sabang, selaku instansi yang bertanggung jawab terhadap keindahan dan keselamatan manusia, namun tidak ditanggapi sampai musibah ini terjadi,” kata salah seorang korban Fandi Zulhadi, S.I.Kom.
Sabang, FR – Warga kota Sabang pada pukul 23.00 tengah malam dikejutkan sekira pukul 23.00 WIB, setelah tersiar kabar salah satu pohon peninggalan jaman penjajahan yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun tumbang di Jalan Teungku Cik Ditiro, persisnya depan Masjid Agung Babussalam, Gampong Kuta Ateuh, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.
Saat kejadian cuaca di kota Sabang sedang angin disertai hujan deras sehingga, tidak banyak masyarakat yang melintas di lokasi tumbangnya kayu bernama Trumbesi itu. Akibat tumbang kakeknya kayu ini merusakan beberapa bangunan dan kendaraan.
Menurut keterangan dari para masyarakat yang berdomisili dan pedagang sekitar kejadian, belum lama ini mereka termasuk Keuchik (Kepala Desa) telah Dinas terkait, agar memangkas cabang-cabang yang mengarah pada bangunan rumah dan kedai yang ada sekitar.
Namun, surat permohonan tersebut kabarnya tidak ditindak lanjuti oleh Dinas dimaksud seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat. Sehingga, kayu yang memang sudah sangat gaek dan tak kuat menahan beban dahannya yang rimbun ini pun tidur dengan sendirinya dan menimpa beberapa bangunan termasuk kendaraan.
“Sebelumnya tumbang kayu raksasa Trumbesi itu, kami masyarakat sekitar sudah menyurati Pemerintah Kota Sabang yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Sabang, selaku instansi yang bertanggung jawab terhadap keindahan dan keselamatan manusia, namun tidak ditanggapi sampai musibah ini terjadi,” kata salah seorang korban pengelola Penginapan Barokah Fandi Zulhadi, S.I.Kom, Jum’at (05/07/2024) di Sabang.
Hal yang sama juga disampaikan salah seorang pedagang Muhammad, yang berjualan bereskan dengan pohon yang tumbang tersebut. Menurut dia pohon yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun itu sudah kelihatan tak kuat menahan beban cabangnya yang rimbun.
Dimana kondisi pohon sudah miring condong ke arah bangunan arah timur, artinya sudah tidak seimbang lagi akibat dilakukan peremajaan sebelah jalan depan Mesjid Agung Babussalam. Sedang cabang dan dahan arah bangunan sebelah timur tidak pernah dirapikan dan banyak cabang-cabang kering jatuh sendiri.
Kami berharap kepada Pemerintah Kota (Pemko) Sabang, supaya dapat memperhatikan dalam perawatan kayu-kayu peninggalan sejarah ini, agar tidak terus memakan korban. Kemudian juga dimohon bantuannya kepada saudara-saudara yang telah menjadi korban yang hartanya tidak dapat dipergunakan lagi., pintanya.
Pada tahun 2023 satu keluarga yang berwisata ke Sabang, telah menjadi korban akibat tertimpa dahan kayu semacam itu, bahkan satu keluarga yang berlibur saat melintasi di jalan Diponegoro taman kota Sabang setelah tertimpa cabang kayu yang patah dua orang meninggal dunia. (Redaksi).








