Pesona Wisata Pidie: Tari Laweut Sanjungan Kepada Sang Nabi Muhammad SAW

oleh
oleh
Tari Laweut ini dimainkan oleh 8 penari perempuan

Forumrakyat.co.id – Kabupaten Pidie memiliki ragam budaya, pesona wisata alam dan kuliner yang sangat memikat hati. Tak cuma keindahan alamnya, panganan meningkatkan selera, olahraga untuk menyehatkan tubuh bahkan hingga tarian. Malah salah satu tari yang ‘booming’ di bumi serambi Mekkah berawal dari Kabupaten Pidie.

Olah gerak tubuh itu adalah Tari Laweut. Istilah Laweut sendiri berasal dari kata Seulaweut atau biasa dikenal dengan Sholawat. Tari Laweut ini dimainkan oleh 8 penari perempuan dan dua orang anak syahi.

Untuk menghindari dari monoton, gerakan-gerakannya sudah dimodifikasi dengan gerakan tangan, gerakan bahu dan gerakan langkah tanpa alat musik. Dan disinilah terlihat Tari Laweut  seperti tari Seudati.

Disebutkan pula bahwa tari Seudati itu bermula dari cikal bakal Tari Laweut. Pada mulanya, budaya tari ini berasal dari daerah Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat membuat budaya tari ini kemudian menyebar ke seluruh daerah di Provinsi Aceh.

“Yang saya tahu tarian Laweut ini digelar saat acara penting saja. Seperti saat kegiatan pesta rakyat, pesta perkawinan dan peringatan hari-hari besar lainnya. Intinya Tari Laweut berisi senandung, pujian yang menyanjung Nabi Muhammad SAW,” ungkap Dinda, yang dulunya mengaku pernah menari Laweut ini, Rabu 9 Oktober 2024.

Tari Laweut disebut juga Tari Seudati Inong karena dilihat dari jumlah penari, gerakan-gerakannya, pola tarian, proses dan teknik dari tarian ini mirip seperti Tari Seudati. Adapun syair-syair dari Tari Laweut kesemuanya dituangkan dalam gerakan seperti: Saleum, Likok, Saman, Kisah, Lanie

Ada juga syair-syair yang terdapat pada Tari Laweut mengandung pesan-pesan tersendiri seperti mengenai keimanan, kemasyarakatan, pembangunan, dan lain-lain.

Kata Laweut pada nama tari ini berasal dari bahasa Arab yaitu kata Salawat yaitu sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad S.A.W. Syair-syair yang mengiringi tarian ini memang lebih banyak bershalawat atas nabi.

Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali tari ini disebut dengan Tari Akoon (Seudati Inong). Sebelum tarian dimulai, para penari memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.


Tari Laweut

“Pastinya dalam tarian ini harus memiliki keseragaman. Jadi di antara penari harus ada satu orang pemandu yang melantunkan sholawatan,” tambah Nuni yang merupakan teman dari Dinda.

Zaman dahulu tari ini dimainkan oleh perempuan-perempuan dewasa. Namun seiring dengan perkembangan zaman berubah dimainkan oleh remaja-remaja putri. Malah, menurut Nuni, sekarang sudah ada sanggar tari atau pengasuh dalam seni tari ini.

Yang membedakan yaitu kekhasan Tari Seudati menggunakan tepukan dada sedangkan Tari Laweut menggunakan tepukan paha bukan dada. Musik yang digunakan dalam tarian ini yaitu musik internal yang berasal dari tubuh penari seperti tepukan paha, petikan jari,tepukan tangan, hentakan kaki dan vokal syahi yang menyanyikan syair dari tarian ini.

Mengutip Wikipedia, Saleum berisi lantunan salam dan sapaan yang dimulai oleh syekh dan dilantunkan secara bersahutan bersama-sama dengan penari. Syair dimulai oleh syeh lalu diikuti penari lainnya sambil melantunkan pantun. Likok merupakan lantunan syair tentang kisah atau peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Lalu kisah berisi syair tentang hikmah yang bisa menjadi tuntunan dari kisah maupun peristiwa yang telah disusun menjadi sebuah syair pada likok, kadangkala juga memuat pesan-pesan dari pemimpin atau pemerintah. Terakhir, lanie, syair bebas yang sifatnya menghibur. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.