Forumrakyat.co.id – Desember 2004 tak akan lekang dari ingatan masyarakat Aceh. Gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang bumi Serambi Mekkah. Luluh Lantak hingga porak porinda. Bangunan rubuh, rumah hancur, namun berbeda dengan masjid yang satu ini.
Yakni Masjid Baitul A’la Lilmujahidin atau lebih dikenal Masjid Abu Beureueh. Masjid yang dikunjungi masyarakat untuk berwisata religi ini terletak di Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Keude Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.
Dari sejumlah literasi menyebutkan Masjid Abu Beureueh tetap berdiri kokoh di tengah hempasan gempa dan tsunami yang melanda provinsi paling barat pulau Sumatera itu. “Jangankan rubuh, bahkan dinding dan menara masjid saja tak rusak, bang,” sebut Maskur, sebagaimana yang pernah didapatnya saat berkunjung informasi ke Masjid Abu Beureueh, Senin 23 September 2024.
Maskur sendiri bukanlah orang Pidie, melainkan tinggal di Pidie Jaya. Dia mengakui sudah beberapa kali mendatangi Masjid Abu Beureueh. Selain suasananya yang bikin tenang, di lingkungan masjid juga disediakan tempat untuk beristirahat.
“Berada di masjid ini begitu terasa religiusnya. Makanya ketika melintas ke sini saya selalu singgah, pun sekedar shalat atau beristirahat sejenak,” tambahnya.
Selain aman dari bencana gempa yang melanda Aceh pada 20 tahun silam, kisah berdirinya Masjid Abu Beureueh juga cukup mengiris hati. Sebab, untuk membangun masjid tersebut, baik warga Pidie maupun di luar Pidie diserukan dengan segenggam beras serta telur ayam.
Beras dan telur dikumpulkan lalu dijual untuk pembiayaan pembangunan Masjid Abu Beureueh. Inisiatif itu diarahkan langsung oleh ulama kharismatik dan pejuang Aceh yakni Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Masjid yang dibangun pada tahun 1951 itu kini telah terdaftar sebagai salah satu cagar budaya Indonesia yang harus dilindungi. Setelah pondasi siap, pembangunan masjid sempat terhenti selama 10 tahun. Bukan karena tak ada biaya, tapi saat itu Tengku Daud Beureueh memilih hijrah ke hutan akibat konflik DI/TII di Aceh.
Usai pemberontakan reda, mantan Gubernur Aceh ini kembali mengajak masyarakat untuk melanjutkan pembangunan masjid yang sempat tertunda. Pada tahun 1963, masyarakat Kabupaten Pidie dan luar Pidie mengumpulkan bantuan berupa beras segenggam dan telur. Bantuan yang dikumpulkan kemudian dijual untuk membeli berbagai bahan.
Pembangunan masjid dimulai dari penimbunan hingga fondasi yang dikerjakan warga dari beberapa kecamatan di Pidie secara sukarela. Mereka bergiliran mendapat jatah sesuai yang ditunjuk oleh Tengku Daud Beureueh. Pada tahun 1973, bangunan masjid seluas 1.350 meter persegi itu selesai dibangun.
“Keberadaan Masjid Abu Beureueh ini tiap hari ramai dikunjungi masyarakat. Apalagi memang lokasinya sangat strategis di jalan lintas nasional. Tak cuma mengerjakan shalat, para pengunjung juga kadang berziarah ke Makam Tengku Daud Beureueh,” sebut Ridwan yang juga seorang pengunjung.

Makam Tengku Daud Beureueh. | (Foto Net).
Pada masa Abu Beureu masih hidup, banyak masyarakat yang melintas baik dari arah timur maupun barat berupaya mendukung salat Jumat di masjid yang berukir hiasan flora ini.
Bukan hanya masjid yang ramai disinggahi warga, tapi juga Makam Tengku Daud Beureueh yang terletak di samping masjid. Makam tersebut di pagar dengan teralis putih ukuran segi empat.
Di dalamnya terdapat dua pohon jarak dan batu nisan berikut “Tgk Syi’ Di Beureu’eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureu’eh), Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987) .”
Tak jauh dari bangunan masjid berdiri sebuah balai yang sering digunakan warga yang melakukan perjalanan untuk beristiharat.
Pada tahun 2004 masjid ini ditetapkan sebagai benda cagar, situs atau kawasan yang harus dilindungi berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor KM.51/OT.007/MKP/2004. Dalam surat keputusan yang dituliskan, penetapan ini dilakukan oleh I Gede Ardika. (***)







