Riyadh, FR – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menyatakan secara tegas bahwa negaranya tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer oleh negara mana pun, termasuk Amerika Serikat dan Israel, untuk melakukan serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan MBS dalam sebuah pertemuan terbatas dengan jajaran pejabat senior keamanan Arab Saudi, Kamis (26/6/2025), di tengah meningkatnya eskalasi ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami tidak akan pernah membiarkan tanah Arab Saudi dimanfaatkan oleh siapa pun untuk menyerang negara lain, termasuk Iran,” ujar MBS seperti dikutip dari kantor berita Saudi Press Agency (SPA). “Arab Saudi berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan Timur Tengah.”
Sikap Tegas di Tengah Ketegangan Regional
Pernyataan tersebut dinilai sebagai langkah politik luar negeri yang strategis dan penuh kehati-hatian. Arab Saudi, di bawah kepemimpinan MBS, tampak semakin menunjukkan arah diplomasi yang independen dan tidak terseret dalam konflik kepentingan kekuatan global.
Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat, Arab Saudi juga tengah menjalin komunikasi yang lebih terbuka dengan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Proses normalisasi hubungan Riyadh-Teheran yang dimediasi oleh Tiongkok pada 2023 menjadi pijakan penting menuju kerja sama regional yang lebih konstruktif.
Sumber diplomatik menyebutkan, pernyataan MBS juga dimaksudkan untuk meredam spekulasi bahwa Arab Saudi akan berpihak dalam konflik terbuka antara Israel dan Iran, yang dalam beberapa waktu terakhir semakin membara akibat serangkaian serangan udara dan retorika tajam dari kedua belah pihak.
Pilihan Netral dan Diplomasi Regional
Langkah MBS ini dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai bentuk penegasan posisi Arab Saudi sebagai negara yang mengedepankan solusi damai dan stabilitas regional. Arab Saudi disebut tidak ingin menjadi alat dalam konflik global, apalagi jika berisiko mengancam keamanan nasionalnya sendiri.
“Ini adalah pesan jelas bahwa Arab Saudi tidak akan memihak dalam konflik yang tidak membawa manfaat bagi kawasan,” kata seorang analis politik Timur Tengah kepada media lokal. “Arab Saudi memilih memainkan peran sebagai penyeimbang, bukan pemicu.”
Sebagai salah satu negara berpengaruh di Timur Tengah dan anggota G20, kebijakan luar negeri Arab Saudi saat ini dinilai semakin pragmatis, dengan fokus pada pembangunan ekonomi nasional, investasi internasional, dan stabilitas jangka panjang.
Di saat banyak negara di kawasan masih terjebak dalam pertarungan blok kekuatan besar, Riyadh memilih membangun posisinya sendiri sebagai kekuatan regional yang mandiri dan berdaulat dalam mengambil keputusan strategis. [R]








