GAZA, FR – Aroma perdamaian yang baru saja tumbuh usai gencatan senjata Israel dan Iran belum sempat menyejukkan suasana Timur Tengah. Sebaliknya, bara konflik justru bergeser ke Jalur Gaza. Dalam waktu 24 jam terakhir, serangan brutal militer Israel di wilayah tersebut menyebabkan lebih dari 80 warga Palestina gugur, sebagian besar adalah warga sipil.
Laporan dari Al Jazeera, Rabu (25/6/2025), menyebutkan bahwa Israel menggencarkan operasi darat secara masif di seluruh wilayah Gaza. Dua titik paling terdampak adalah Khan Younis di selatan dan Jabalia di utara. Di Jabalia, warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka di tengah hujan tembakan tank dan sniper yang tak kunjung henti.
“Sebagian besar penduduk di daerah itu telah melarikan diri ke ujung barat Kota Gaza,” ujar koresponden Al Jazeera dari lapangan.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Iran diumumkan. Namun, alih-alih meredakan konflik, fokus serangan tampaknya dialihkan ke Gaza—wilayah yang selama ini dianggap sebagai basis perlawanan rakyat Palestina.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Situasi di Gaza semakin genting. Akses terhadap bantuan kemanusiaan hampir terputus. Rumah sakit kewalahan, logistik makanan menipis, dan ribuan keluarga terjebak di tengah reruntuhan bangunan.
Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional telah berulang kali menyerukan gencatan senjata total dan pembukaan jalur kemanusiaan, namun suara-suara itu belum cukup kuat menghentikan laju agresi.
PBB dan sejumlah negara regional pun menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi terbaru ini. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa kekerasan akan segera berhenti. [*]
Sumber: Al Jazeera








