LANGSA, FR — Upacara adat Khanduri Laot, tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir Aceh, kembali digelar dengan penuh khidmat di kawasan Kuala Langsa. Tahun ini, masyarakat nelayan terlihat lebih antusias, menjadikan ritual ini bukan hanya sebagai simbol adat, tetapi juga momentum memperkuat kebersamaan.
Dipimpin oleh Panglima Laot Lhok Langsa, acara dimulai dengan pembacaan doa, prosesi tabur bunga, hingga kenduri bersama yang melibatkan seluruh warga pesisir.
Suara Masyarakat: “Khanduri Laot itu Nafas Kami sebagai Nelayan”
Salah satu warga nelayan Kuala Langsa, M. Iskandar (42), yang telah melaut sejak remaja, menyebut bahwa Khanduri Laot adalah acara yang paling ditunggu setiap tahun.
“Khanduri Laot itu nafas kami. Ini bukan sekadar doa, tapi cara kami menghormati laut. Kami hidup dari laut, jadi kami harus menjaga adat yang sudah diturunkan dari nenek moyang,” ujarnya sambil menyiapkan perahu untuk prosesi adat.
Ia juga menambahkan bahwa tradisi ini mempererat hubungan antar nelayan.
“Kalau ada kenduri seperti ini, semua berkumpul. Yang muda hormat pada yang tua, yang tua membimbing anak-anak baru belajar melaut. Inilah kekuatan kami sebagai masyarakat pesisir,” lanjutnya.
Pemerintah Dorong Jadi Ikon Wisata Budaya
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Langsa, mengatakan bahwa Khanduri Laot memiliki daya tarik wisata yang sangat kuat.
“Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung ritual ini. Tahun depan, Khanduri Laot akan menjadi salah satu agenda resmi dalam kalender wisata Kota Langsa,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memberi dukungan agar tradisi ini tetap hidup dan dapat memperkuat identitas budaya Langsa sebagai kota pesisir yang kaya sejarah.

Lebih dari Sekadar Ritual
Budayawan Langsa, Tgk. Mahdi Abdullah, menilai bahwa Khanduri Laot merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang menjaga harmoni antara manusia dan alam.
“Tradisi ini adalah bentuk pendidikan budaya. Para nelayan diajarkan bagaimana menghormati laut, tidak rakus mengambil hasil, dan menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.
Acara ditutup dengan makan bersama di balai nelayan, di mana masyarakat bebas menikmati hidangan khas pesisir seperti gulai ikan, asam pedas, dan ikan bakar.
Khanduri Laot: Tradisi yang Menghidupkan Identitas Pesisir Langsa
Dengan dilibatkannya pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat nelayan seperti M. Iskandar, Khanduri Laot bukan hanya bertahan sebagai adat tua, tetapi berkembang sebagai ikon budaya dan wisata yang memperkuat karakter Kota Langsa sebagai kota pesisir penuh nilai tradisi.







