Bu Kulah Aceh Timur: Kuliner Adat Warisan Leluhur yang Tetap Jadi Hidangan Kehormatan

oleh
oleh

 

Aceh Timur, FR – Di balik meriahnya setiap kenduri dan acara adat di Aceh Timur, ada satu hidangan tradisional yang selalu mencuri perhatian: Bu Kulah. Makanan khas ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Aceh, terutama dalam acara Maulid, kenduri peutron aneuk, peusijuek, hingga doa selamat.

Bu Kulah dibuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, santan, gula aren, dan sedikit garam. Namun, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan karena harus dimasak perlahan agar menghasilkan tekstur lembut dan aroma khas yang menggugah selera.

Menurut Nurhayati, warga Peudawa yang sudah puluhan tahun membuat Bu Kulah untuk keperluan hajatan desa, makanan ini bukan hanya sekadar hidangan.
“Bu Kulah adalah simbol kasih sayang. Dulu orang tua kami membuatnya untuk menyambut tamu dan keluarga yang pulang jauh. Jadi ada nilai kebersamaannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meski kini banyak makanan modern hadir di meja kenduri, Bu Kulah tetap menjadi hidangan wajib.
“Kalau kenduri tanpa Bu Kulah, rasanya belum lengkap. Anak muda juga banyak yang belajar membuatnya karena ini warisan nenek moyang,” katanya.

Bu Kulah biasanya disajikan dalam wadah kecil berlapis daun pisang atau piring tradisional. Teksturnya yang lembut, manis alami dari gula aren, dan aroma santan menjadikannya sajian yang disukai semua kalangan.

Di beberapa desa Aceh Timur, Bu Kulah bahkan dijadikan simbol penghormatan kepada tamu istimewa. Selain itu, makanan ini kerap dibagikan secara massal kepada masyarakat setelah doa bersama atau Maulid Nabi.

Tradisi membuat dan menyajikan Bu Kulah menjadi bukti bahwa kekayaan kuliner lokal masih sangat dijaga dan dihargai oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai identitas budaya Aceh Timur yang diwariskan turun-temurun. (Adv)

No More Posts Available.

No more pages to load.