Di Balik Megahnya Antaran Linto: Peran Pemuda-Pemudi dalam Peugot Peurakan

oleh
oleh

 

ACEH TIMUR, FR — Dalam adat pernikahan Aceh Timur, prosesi antaran linto bukan hanya tentang membawa rombongan pengantin laki-laki menuju rumah dara baro, tetapi juga melibatkan kerja besar di balik layar. Tradisi Peugot Peurakan, terutama yang dilakukan oleh pemuda-pemudi gampong, menjadi kekuatan utama dalam menyiapkan bawaan atau perlengkapan yang akan dibawa pada hari prosesi.

Berhari-hari sebelum acara, para pemuda mulai berkumpul di rumah mempelai untuk menyiapkan berbagai perlengkapan. Mereka mengatur meja hantaran, mengecat tiang dekorasi, merapikan halaman, menata kursi tamu, hingga mengangkut perlengkapan adat. Sementara itu, para pemudi bertugas mempercantik bawaan, mulai dari menata kain adat, menyusun kue-kue hantaran, menghias sirih lengkap, hingga mempersiapkan dulang-dulang khusus untuk rombongan linto.

Yasir, 27 tahun, pemuda dari Idi Rayeuk, mengatakan bahwa Peugot Peurakan adalah momen kebersamaan yang selalu ditunggu.
“Kalau ada antar linto, kami pemuda pasti turun tangan. Mulai dari angkat barang, susun tenda, sampai jaga malam. Ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai generasi muda,” ujarnya.

Sementara itu, Nurlaila, 22 tahun, pemudi dari Darul Aman, menyebut bahwa menyiapkan bawaan adalah seni yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Kue hantaran harus rapi dan cantik. Kami belajar dari ibu-ibu, lalu mengerjakannya bersama teman-teman. Ini membuat suasana jadi seru dan penuh rasa kebersamaan,” katanya.

Dalam tradisi antaran linto, bawaan seperti kain tradisional, sirih lengkap, buah-buahan, penganan khas, hingga perlengkapan adat disusun secara estetis. Pemuda-pemudi memastikan semuanya siap, tertata, dan layak dibawa dengan penuh kehormatan ke rumah dara baro. [Adv]

No More Posts Available.

No more pages to load.