Forumrakyat.co.id – Aceh memiliki banyak tradisi adat yang diwariskan turun-temurun, salah satunya Peucicap, yaitu prosesi memberi rasa pertama kepada bayi menggunakan berbagai makanan simbolis. Tradisi ini masih lestari di banyak daerah, terutama di Aceh Timur, Pidie, dan Aceh Besar. Peucicap biasanya dilakukan ketika bayi berusia beberapa minggu, sebagai bentuk doa dan harapan agar ia tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki akhlak baik.
Prosesi biasanya dipimpin oleh teungku gampong atau orang tua yang dituakan dalam keluarga. Bayi didudukkan di pangkuan ibunya, lalu makanan simbolis seperti madu, air zam-zam, garam, dan pisang diletakkan sedikit ke bibir bayi. Setiap bahan memiliki makna: madu sebagai lambang manisnya kehidupan, garam sebagai penyeimbang dan penolak bala, sedangkan pisang melambangkan kemudahan rezeki.
Menurut Fatimah (55), tokoh masyarakat di Aceh Timur, Peucicap bukan sekadar adat, tetapi wujud rasa syukur keluarga. “Dari dulu Peucicap dilakukan untuk memulai kehidupan bayi dengan doa-doa baik. Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap anak adalah amanah yang harus dijaga sejak hari pertama,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Yunus (38), warga Peureulak, mengatakan tradisi ini juga mempererat hubungan keluarga. “Peucicap biasanya dihadiri keluarga dekat. Walaupun sederhana, suasananya hangat. Ini momen penting untuk mengumumkan kehadiran anggota keluarga baru,” jelasnya.
Peucicap sering disertai dengan zikir singkat dan doa keselamatan. Meskipun zaman terus berubah, tradisi ini tetap digelar karena dianggap bagian dari identitas budaya Aceh. Banyak keluarga kini menggabungkannya dengan acara syukuran kecil, sehingga tetap relevan di masa modern.
Dengan mempertahankan tradisi Peucicap, masyarakat Aceh tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga memastikan nilai-nilai adat tetap hidup di tengah generasi muda. Tradisi ini adalah bukti bahwa budaya dapat terus bertahan selama dirawat dengan cinta dan kebersamaan. [Adv]







