
Forumrakyat.co.id — Pakaian adat Aceh sejak masa kerajaan dikenal sebagai salah satu busana tradisional paling berwibawa di Nusantara. Warna mencolok, detail sulaman emas, dan simbol-simbol keberanian membuat busana ini bukan hanya penanda identitas, tetapi juga representasi sejarah panjang masyarakat Aceh.
Keindahan Busana Laki-laki: Linto Baro
Pakaian adat laki-laki Aceh disebut Linto Baro. Busana ini terdiri dari meukasah (baju berlengan panjang), celana panjang, dan sarung songket khas Aceh yang disebut Ija Kroeng. Penutup kepala Meuketop, yang dihiasi ornamen emas dan bertanduk, menjadi simbol kegagahan khas pahlawan Aceh.
Tokoh adat Banda Aceh, Ismail Gade (62), menyebut Linto Baro bukan sekadar busana, melainkan simbol kehormatan.
“Warna hitam dan emas itu lambang keberanian dan kejayaan Aceh di masa lalu. Setiap laki-laki yang memakainya dianggap membawa marwah leluhur,” ujarnya.
Busana Perempuan Aceh: Daro Baro
Untuk perempuan, busana adat disebut Daro Baro. Baju berhiaskan sulam emas dipadukan dengan kain songket Aceh yang kaya motif seperti pucok reubong, awan meulat, hingga bungong mata uroe. Perempuan Aceh juga mengenakan perhiasan seperti daling, taloe kiweng, dan subang, yang menggambarkan kelembutan dan kemuliaan.
Nurhaliza (30), pelaku usaha busana adat di Aceh Besar, mengatakan permintaan busana tradisional terus meningkat.
“Banyak anak muda memakai Daro Baro untuk akad nikah atau festival adat. Ini tanda bahwa pakaian adat Aceh tetap diminati,” katanya.

Identitas yang Tetap Hidup
Busana adat Aceh kini bukan hanya dipakai dalam acara adat seperti perkawinan, penyambutan tamu, dan festival budaya, tetapi juga populer dalam ajang fashion dan seni pertunjukan. Motif dan warnanya yang kuat membuat pakaian ini mudah dikenali di mana pun.
Dengan pelestarian oleh perajin lokal dan dukungan generasi muda, pakaian adat Aceh tetap menjadi simbol kebanggaan, keberanian, dan keelokan budaya Aceh yang tak lekang oleh waktu.










