
Forumrakyat.co.id — Dalam masyarakat Aceh, prosesi sunat bukan hanya menjadi bagian dari syariat, tetapi juga dirayakan dengan penuh makna melalui tradisi Peusijuk Sunat. Upacara ini menjadi bentuk restu, doa keselamatan, serta ungkapan syukur keluarga ketika seorang anak laki-laki menjalani proses khitan.
Peusijuk Sunat umumnya dilakukan sehari sebelum atau sesudah prosesi sunat. Keluarga dan tetangga berkumpul, sementara seorang teungku memimpin doa dan ritual tepung tawar. Anak yang akan disunat duduk di atas tikar khusus, dikelilingi keluarga dekat yang memberikan restu satu per satu. Tepung tawar, air perwangi, daun pandan, dan beras kunyit menjadi elemen utama yang digunakan sebagai simbol pembersihan, keberkahan, dan kekuatan.
Abubakar, 63 tahun, tokoh masyarakat dari Lhokseumawe, mengatakan bahwa Peusijuk Sunat adalah momen penting yang menandai awal kedewasaan seorang anak.
“Peusijuk itu tanda bahwa anak diberi doa, bahwa dia memasuki tahap baru sebagai laki-laki Aceh. Tradisi ini menguatkan mental dan membuat anak merasa disayangi,” ujarnya.

Sementara itu, Siti Rahmah, ibu dari Aceh Barat, menyebut bahwa tradisi ini membawa kebahagiaan bagi keluarga.
“Walaupun sederhana, tapi Peusijuk Sunat membuat suasana jadi hangat. Semua keluarga datang memberi dukungan, dan anak jadi lebih tenang sebelum disunat,” katanya.
Biasanya, setelah Peusijuk Sunat dilakukan, keluarga menggelar hidangan kenduri sebagai bentuk syukur. Hidangan seperti kuah beulangong, pulut kuning, hingga berbagai kue tradisional menjadi pelengkap acara yang penuh keakraban. [Adv]








