
Forumrakyat.co.id — Di berbagai daerah di Aceh, Upacara Khatam Qur’an tetap menjadi salah satu tradisi sakral yang menandai keberhasilan seorang anak atau santri menamatkan bacaan Al-Qur’an. Lebih dari sekadar seremoni keagamaan, tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur keluarga dan masyarakat, sekaligus pengukuhan moral untuk terus menjaga ayat-ayat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Upacara ini umumnya dilaksanakan di dayah, meunasah, atau rumah keluarga. Anak yang khatam dipersilakan membaca ayat terakhir dari Al-Qur’an, kemudian dilakukan prosesi peusijuek sebagai tanda restu dan harapan agar anak tersebut menjadi insan yang berakhlak baik.
Tokoh agama dari Aceh Utara, Tgk. Hasanuddin (63), menjelaskan bahwa Upacara Khatam Qur’an di Aceh bukan hanya perayaan, tetapi juga penguatan karakter.
“Di Aceh, khatam itu bukan akhir, tapi awal perjalanan seorang anak untuk mencintai dan memahami isi Al-Qur’an. Tradisi ini membentuk adab dan akhlak sejak kecil,” ujarnya.

Upacara ini biasanya diiringi dengan doa bersama, tausiah singkat, dan pembagian bingkisan kepada anak-anak yang mengikuti pengajian. Beberapa daerah mengangkat tradisi ini menjadi acara gampong yang meriah dengan zikir, syair, hingga hidangan khas seperti bu kulah dan ketan.
Suryani (35), seorang ibu di Aceh Besar, mengatakan bahwa tradisi ini membawa suasana haru sekaligus kebanggaan.
“Melihat anak khatam Qur’an rasanya seperti melihat doa kita dikabulkan. Peusijuek membuat acara lebih sakral,” tuturnya.
Meski zaman terus berubah, masyarakat Aceh tetap menjaga Upacara Khatam Qur’an sebagai fondasi pendidikan agama. Banyak dayah dan meunasah kini mengemasnya lebih menarik untuk mendorong minat anak belajar mengaji sejak dini.
Upacara Khatam Qur’an bukan hanya tradisi, tetapi warisan berharga yang memperkuat nilai religius, kebersamaan, dan identitas masyarakat Aceh. [Adv]








