Forumrakyat.co.id – Dua hari sebelum Ramadhan tiba, ketika fajar masih menggantung malu di langit Aceh Timur, aroma daging yang direbus dan digulai perlahan mulai merayap dari dapur-dapur rumah penduduk. Suasana berubah lebih hidup dari biasanya. Di pasar, suara tawar-menawar bersahut-sahutan; sementara di desa-desa, perempuan memotong bumbu dengan khidmat, dan laki-laki memastikan potongan daging terbaik sudah siap di tungku. Inilah Meugang tradisi tua yang tetap berdiri tegak di tengah arus modernitas.
Di Tanah Rencong, Meugang bukan sekadar pesta makan. Ia adalah denyut sejarah yang diwariskan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam catatan Profesor Ali Hasyimi (1983), Sultan membagikan daging dalam jumlah besar kepada yatim dan duafa sebagai penegasan bahwa kekuasaan mesti membersamai rakyat.
Sementara dalam karya Denys Lombard, Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda, disebutkan bahwa pada hari Meugang, Sultan juga menzirahi makam para pendahulunya. Tradisi ini menjadi perpaduan antara syukur, hormat, dan kasih pada sesama sebuah ritual yang menautkan bumi dan langit.
Hingga kini, nilai-nilai itu tetap hidup, termasuk di Aceh timur, yang merayakan Meugang. Pagi itu, para pembeli mulai memadati lapak daging. Di antara pedagang berdiri di belakang timbangan tuanya. Beberapa helai rambutnya memutih, tetapi semangatnya tetap menyala sebagaimana Meugang pertama yang pernah ia jalani puluhan tahun lalu.
“Meugang tahun ini turun dari sebelumnya,” ujarnya sambil menata potongan daging kerbau.
Meski begitu, ia tersenyumsenyum orang yang tahu bahwa bukan angka penjualan yang menjaga tradisi, melainkan hati yang ingin tetap melestarikan warisan indatu.
Harga daging Meugang tahun ini memang sedikit menanjak: Rp 180.000 hingga Rp 200.000 per kilogram untuk daging kerbau, sementara tulang dibanderol Rp 100.000 per kilogram. Namun masyarakat Aceh nyaris tak pernah mundur oleh harga.
Meugang adalah prioritas, bahkan kewajiban kultural. Tidak lengkap rasanya menyambut Ramadhan tanpa sepanci gulai daging yang mengisi rumah dengan wangi nostalgia.

Seiring matahari merayap turun, setiap rumah mulai dipenuhi tawa keluarga yang berkumpul, menyantap hidangan Meugang dengan penuh syukur. Di luar sana, tradisi modern datang dan pergi, tetapi Meugang tetap bertahan senyap namun kuat, menyulam masa kini dengan masa lalu.
Di Aceh timur, Meugang bukan hanya makanan. Ia adalah ingatan, ia adalah identitas, ia adalah cara sebuah masyarakat menyampaikan cinta dan penghormatan kepada sejarah yang mereka junjung tinggi. Dan selama bara dapur terus menyala pada hari Meugang, selama itulah warisan Sultan Iskandar Muda akan terus bernapas dalam kehidupan orang Aceh. [Adv]









