Forumrakyat.co.id – suara ayam penanda cakrawala akan melintang panjang, nyanyian suara dapur pun mulai terasa nyaman ditelinga, terlihat masakan Aceh timur mulai menari indah diantar wajan yang panas, seketika jalan kecil menuju pemakaman desa di Aceh timur mulai dipenuhi langkah kaki keluarga yang rindu akan kenangan.
Laki-laki, perempuan, hingga anak-anak berjalan beriringan sambil membawa sapu lidi, parang kecil, serta panci berisi hidangan khas kampung. Di kejauhan, gemerisik dedaunan bercampur dengan suara salam yang saling bersahutan. Inilah Khanduri Jrat, tradisi tua yang menciptakan pemakaman berubah dari tempat sunyi menjadi ruang penuh kehidupan dan doa.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami merawat hubungan dengan keluarga yang telah pergi jauh” tutur seorang warga yang sedang membersihkan pusara orang tuanya.
“Kami percaya doa anak cucu akan menjadi cahaya untuk mereka di alam sana.”
Bagi rakyat Aceh timur, Khanduri Jrat bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah penghubung antara dunia yang hidup dan yang telah pulang, sebuah cara untuk menjaga hubungan spiritual dengan para leluhur.
Tradisi ini di mana keluarga berkumpul di Tempat Pemakaman Umum untuk mendoakan arwah orang tua, kerabat, dan sanak saudara.
tibalah di area pemakaman, para keluarga lansung memenuhi menyebar lansung ditempat sanak saudaranya disemayamkan, membersihkan rumput liar dan dedaunan kering yang menutupi nisan.
Tangan-tangan yang bekerja itu tak hanya merapikan pusara, tetapi juga merawat ingatan.
“Setiap nisan memiliki kenangan tersendiri,” ujar seorang ibu paruh baya sambil mengusap batu nisan ayahnya,
“dan kami datang untuk memastikan cerita itu tidak hilang.” Perlahan, suara sapu lidi mereda, terdengar sayup sayup lantunan ayat suci dari Teungku yang mulai memimpin zikir dan Yasin. Suara doa mengalun lembut, melingkari pemakaman dengan nuansa sakral.
Angin pun turut membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga setaman yang baru ditabur. Di detik ini tak hanya langit yang menangis banyak warga menunduk lebih dalam ada yang menahan haru, ada yang tersenyum mengenang sosok yang telah pergi.
“Doa bersama ini bagaikan pelukan bagi mereka yang telah mendahului,” kata Teungku kampung di tengah keramaian keluarga.
“Kami percaya, setiap lafaz yang terucap akan menjadi cahaya untuk yang berada dibawah Nisan ini.”

Usai doa, Khanduri Jrat memasuki babak yang tak kalah menyatu yaitu Pajoh Khanduri, makan bersama di tengah pemakaman. Tikar digelar di antara makam-makam yang sudah bersih, dan aroma makanan pun memenuhi ruang pepohonan rindang yang meneduhi insan dibawahnya.
Harum kuah beulangong yang menari diantaranya rongga hidung seakan diminta untuk segera disantap, ayam tangkap yang menggoda, hingga timphan dan keukarah yang ditata rapi. Tak ada konsep makanan milik keluarga tertentu semua dihidangkan untuk dinikmati bersama.
Di tengah senda gurau dan cerita yang mengalir, hubungan sosial terjalin lebih erat. Khanduri Jrat bukan hanya mempertemukan manusia dengan leluhur mereka, tetapi juga mempertemukan sesama warga dalam hangatnya kebersamaan.
Meski berakar pada nilai religius, tradisi ini juga menjadi cerminan betapa masyarakat Aceh menjaga harmoni antara adat, agama, dan kehidupan sosial. Di saat banyak tradisi perlahan luntur, Khanduri Jrat justru bertahan sebagai simbol identitas kultural yang kuat.
Setiap tahun, ketika suara zikir kembali menggema di pemakaman, masyarakat Aceh timur seakan diingatkan bahwa kematian bukan pemutus hubungan melainkan pintu bagi doa, kenangan, dan tradisi untuk tetap hidup. Dan selama nilai itu dijaga, Khanduri Jrat akan terus menjadi bagian eksotis dan penuh makna dari denyut budaya Aceh timur. [Adv]








