Forumrakyat.co.id – Di sebuah senja yang hangat di Aceh Timur, suara pukulan perkusi bertalu-talu memecah keheningan. Getarannya tidak sekadar terdengar ia merambat ke tanah, memeluk udara, dan mengetuk pintu ingatan kolektif masyarakat Aceh. Dari lingkaran para pemain bersarung dan berkopiah itu, tampil sebuah kesenian yang telah hidup berabad-abad lamanya yang bernama Rapai Bandar Khalifah.
Rapai, alat musik bundar yang terbuat dari kayu, rotan, logam, dan kulit kambing, dipukul dengan telapak tangan kosong oleh para seumeupôh para pemukul rapai. Namun dentingnya bukan sekadar bunyi. Setiap hentakan menyimpan jejak perjalanan panjang Aceh, sejak seorang ulama dari Baghdad, Syech Rapi atau Syech Rifai, memperkenalkan alat ini sambil menyebarkan syiar Islam ke tanah Serambi Mekkah.
Dan Bandar Khalifah nama yang melekat pada kesenian ini, bukan sekadar gelar. Ia adalah ingatan atas sebuah pusat peradaban ibu kota Kerajaan Aceh pada abad ke-11. Di sanalah rapai pertama diperdengarkan. Di sanalah denting perkusi menjadi bahasa spiritual, budaya, dan persatuan.

Kini, Gampong Bandar Khalifah di Aceh Timur menyimpan gema masa silam itu. Setiap kali para pemain rapai berkumpul, desa seakan kembali menjadi pusat kerajaan, tempat di mana musik bukan hiburan semata, melainkan medium penyampaian pesan, penanda ritme kehidupan, bahkan penguat identitas masyarakat.
Meski zaman terus melaju, rapai tidak mati. Ia berkembang menjadi berbagai bentuk kesenian seperti Rapai Dabôih, Rapa’i Geurimpheng, Rapai Pulôt, hingga Rapai Pase. Namun Rapai Bandar Khalifah tetap memegang posisi khusus ia adalah akar yang melahirkan cabang-cabang itu.
Keistimewaan ini membuat Rapai Bandar Khalifah kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan itu tidak hanya mengabadikan nilai sejarahnya, tetapi juga menegaskan bahwa denting rapai adalah suara identitas bangsa, suara yang perlu dirawat agar tidak lenyap ditelan modernitas.
Melihat para pemain rapai hari ini adalah melihat sebuah upaya menjaga jati diri. Anak-anak muda duduk bersila, belajar memukul rapai dengan penuh hormat. Para tetua mengajarkan bukan hanya teknik, tetapi juga filosofi bahwa rapai adalah jembatan antara manusia dan nilai-nilai luhur.
Ketika malam turun dan pertunjukan mencapai puncaknya, hentakan rapai seakan membentuk gelombang yang mengalir dari masa lalu ke masa kini. Sebuah gelombang yang mengingatkan bahwa Aceh bukan hanya tanah yang subur dan religius, tetapi juga negeri yang merawat seni sebagai warisan sakral.
Di tengah gempuran budaya modern, Rapai Bandar Khalifah berdiri tegak sebagai penjaga memori, penanda jati diri, dan pesona eksotis yang menunggu untuk terus diceritakan dari generasi ke generasi, dari denting ke denting. [Adv]







