Forumrakyat.co.id – Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus lembut dari ufuk timur ketika langkah kaki mulai memasuki jalan rabat beton menuju Bate Balee. Cahaya keemasan memantul di permukaan nisan-nisan tua yang berdiri dalam diam, seakan memanggil siapa saja yang lewat untuk berhenti dan mendengarkan kisah masa silam. Di Desa Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, kompleks pemakaman ini menyimpan ribuan bisikan sejarah sejarah yang eksotis, penuh kejayaan, namun kini terluka dan nyaris terlupakan.
Tak banyak yang sadar bahwa hamparan makam sunyi ini pernah menjadi pusat peradaban Islam pertama di Nusantara bernama Kerajaan Samudera Pasai.
Di sini, pada nisan-nisan yang mulai pudar, tertulis nama-nama sultan besar seperti Sultan Shalahuddin, Abu Zaid Ahmad, Mu’izzuddunya Waddin Ahmad, hingga Sultan Zainal Abidin IV para pemimpin yang dulu menggetarkan jalur perdagangan internasional. Mereka adalah bayang-bayang kemuliaan masa lalu yang kini tersembunyi dalam retakan batu dan lumut hijau.
Husaini Usman, peneliti sejarah Aceh, menyebut makam ini sebagai saksi nyata peradaban Islam abad ke-15 yang menakjubkan.
“Setiap nisan adalah catatan abadi,” ucapnya lirih.
Namun ia juga menyadari, sebagaimana sejarah, batu nisan pun memiliki batas waktu untuk bertahan. Ketika tulisan Arab kuno di atasnya mulai menghilang, maka perlahan hilang pula sebagian dari identitas bangsa yang pernah berjaya di tepi Selat Malaka.
Bate Balee pernah menjadi tempat persinggahan Christian Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang datang dengan senyum penasaran, namun meninggalkan jejak kontroversi. Hasil penelitiannya kelak digunakan pemerintah kolonial untuk mengaburkan akar-akar sejarah Pasai. Ironis, kompleks yang begitu suci bagi masyarakat Aceh pernah dimanfaatkan untuk kepentingan penjajah guna melemahkan ingatan kolektif sebuah bangsa.
Hari ini, kemegahan itu seperti dirundung duka. Banyak nisan yang pecah, sebagian rebah ditelan tanah yang lembap.

Epigrafnya yang dulu mengukir gelar para raja kini nyaris tak terbaca. Angin yang berhembus dari arah laut seakan mengelus makam makam itu dengan bela sungkawa, seolah tahu bahwa tempat ini sedang berjuang melawan kepunahan. Sejarah begitu besar di sini, namun pemeliharanya semakin sedikit.
Melangkah di antara nisan yang retak, pengunjung seolah bisa mendengar bisikan masa lalu suara pedagang asing di pelabuhan Pasai, lantunan ayat Al-Qur’an dari para ulama, hingga gemerincing dirham yang pernah menjadi mata uang terkuat di Nusantara. Semua itu masih hidup sebagai bayang-bayang di Bate Balee, mengambang di udara yang sarat nostalgia.
Namun, jika pemerintah tetap abai dan masyarakat terus lupa, Bate Balee mungkin hanya akan menjadi dongeng yang perlahan memudar. Sejarah yang pernah eksotis dan megah itu akan hilang bersama reruntuhan nisan yang dibiarkan patah. Dan ketika hari itu tiba, bukan hanya batu yang rapuh—tetapi juga ingatan sebuah bangsa yang kehilangan cerminnya sendiri. [Adv]









