Forumrakyat.co.id – Di Dusun Badar Khalifah, Desa Bandrong, Kecamatan Perlak, Aceh Timur, waktu seperti berjalan dengan irama yang berbeda. Angin yang turun dari perbukitan dan menyusuri Sungai Perlak menghadirkan bisikan masa lalu bisikan tentang seorang sultan, sebuah negeri maritim, dan denyut dagang yang pernah menggema ke penjuru dunia.
Di tengah dusun itu berdiri sebuah situs sejarah yang memancarkan wibawa sunyi Makam Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah, pendiri Kerajaan Bandar Khalifah Perlak. Bagi masyarakat setempat, makam ini bukan hanya titik orientasi spiritual, tetapi juga poros yang menjaga kesinambungan memori kolektif, budaya, dan identitas mereka.
Setiap tahun, tiga kenduri besar digelar di sini: Kenduri 1 Muharram, Kenduri Blang, dan Kenduri Jerat. Di antara ketiganya, hanya pada 1 Muharram kisah tentang pendiri dan berdirinya Kesultanan Perlak diceritakan kembali suatu ritual lisan yang menjembatani generasi modern dengan para leluhur maritim mereka.
Pada hari-hari itu, makam Sultan menjadi ruang perjumpaan antara dunia sejarah dan spiritual. Orang-orang datang dari berbagai daerah untuk melepas hajat, berdoa, atau sekadar merasakan kedamaian yang memancar dari kompleks makam. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa yang sulit dilacak awalnya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, mengikat masyarakat Bandar Khalifah dengan lintasan sejarah yang mereka junjung.
Pada masa lampau, Kesultanan Bandar Khalifah Perlak membentang dari Kuala Beukah hingga Semanah Jaya wilayah yang saling terhubung oleh aliran Sungai Perlak. Sungai itu bukan sekadar sungai; dialah nadi kehidupan, jalur dagang, dan jalan raya air yang mengantar Perlak pada masa kejayaannya.
Di tepiannya, perahu-perahu kayu berisi hasil bumi dan rempah melaju menuju satu pusat kegiatan yang menjadi denyut jantung ekonomi kerajaan: Kuala Perlak.
Kuala Perlak pelabuhan tua yang kini lebih dikenal lewat cerita ketimbang gemerlapnya pernah menjadi salah satu simpul perdagangan internasional di pesisir timur Aceh. Sebuah tempat yang namanya melintasi batas waktu lewat catatan penjelajah ternama.
Pada tahun 1292, Marco Polo, dalam perjalanan pulang ke Venesia, singgah di Perlak dan mencatat sesuatu yang penting: bahwa penduduknya sebagian besar masih menyembah berhala, tetapi di kota-kota pelabuhan, banyak yang telah memeluk Islam melalui para saudagar Saracen yang datang silih berganti. Catatan sederhana ini kini menjadi bukti betapa kuatnya peran jalur dagang dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Para saudagar dari Parsi, Arab, hingga India bermukim di Kuala Perlak, menjadikan pelabuhan ini titik temu berbagai bangsa, bahasa, dan budaya. Pada masa itu Perlak menjadi penghasil lada yang diperhitungkan bahkan jauh sebelum komoditas itu merajai ekspor Nusantara pada abad ke-18.

Ketika senja turun di atas Bandar Khalifah, bayang-bayang pohon kelapa menjuntai panjang di atas makam sang sultan. Air sungai beriak pelan, seakan mengulangi lagu-lagu yang dahulu dinyanyikan perahu-perahu dagang dari negeri jauh.
Di sini, sejarah tidak hanya dibaca ia dirasakan. Ia hadir dalam ritual, dalam narasi para tetua, dalam nama dusun dan kampung yang masih mempertahankan identitas kesultanannya, dan dalam kesetiaan masyarakat menjaga makam pendiri kerajaannya.
Bandar Khalifah bukan sekadar tempat dalam peta. Ia adalah halaman terbuka dari sebuah kisah besar tentang kesultanan maritim, perdagangan internasional, dan perjalanan panjang spiritualitas yang terus hidup hingga hari ini.
Dan di tengah semua itu, makam Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah berdiri sebagai saksi abadi diam, namun tak pernah padam. [Adv]








