JAKARTA, FR — Pemerintah kembali menegaskan bahwa investasi pada industri baterai, terutama yang berbasis nikel, adalah kunci penggerak ekonomi nasional di tengah percepatan transisi menuju energi bersih. Industri ini diproyeksikan menjadi lokomotif pertumbuhan sekaligus fondasi utama pembangunan jangka panjang.
Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang menargetkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7% pada fase pertama 2025–2029 hingga fase akhir 2040–2045. Investasi diposisikan sebagai engine of growth yang harus diberi ruang sebesar-besarnya.
Ahli Muda Kementerian Hilirisasi dan Investasi/BKPM, Dwianta Hadi Pramana, menuturkan bahwa kebutuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dipatok mencapai Rp47.500 triliun pada periode tersebut. Dari jumlah itu, pemerintah berharap kontribusi investor swasta bisa menyentuh porsi signifikan.
“Investasi swasta ditargetkan berkontribusi sekitar Rp13.032 triliun, atau hampir sepertiga dari total kebutuhan,” ujar Dwianta.
Pemerintah menilai, baterai nikel merupakan komponen strategis untuk memperkuat rantai pasok kendaraan listrik global. Namun, teknologi LFP (Lithium Iron Phosphate) disebut mulai memberi tantangan baru karena menawarkan efisiensi tinggi dan umur pakai lebih panjang. Meski demikian, Indonesia tetap optimistis bahwa keunggulan sumber daya nikel mampu menjaga daya saing industri baterai nasional.
Dengan momentum investasi yang terus bergerak, pemerintah memastikan ekosistem industri ramah lingkungan akan menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di dekade mendatang.







