Jakarta, FR – PT Bank Syariah Indonesia (BSI) resmi naik kelas menjadi Persero. Perubahan status ini berlaku sejak 23 Januari 2026, setelah mendapatkan persetujuan Kementerian Hukum menyusul keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Desember 2025 terkait perubahan Anggaran Dasar Perseroan.
Dengan perubahan tersebut, nama resmi perusahaan kini menjadi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk.
Peresmian status Persero ditandai dengan Tasyakuran Milad ke-5 BSI yang digelar di BSI Tower, Jakarta, Senin (2/2/2026). Dalam acara itu, BSI juga meluncurkan kampanye ‘Langkah Emas Generasi Emas’, sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi BSI sebagai satu-satunya bank emas (bullion bank) di Indonesia.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk Anggoro Eko Cahyo mengatakan, perubahan status ini menjadi penguatan peran BSI dalam mendukung kebijakan strategis pemerintah, khususnya dalam penguatan ekosistem keuangan syariah nasional.
“Amanah pemegang saham ini akan memperkuat kapasitas dan kapabilitas BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, sehingga semakin lincah, solid, dan mampu mendorong ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Anggoro.
Ia menegaskan, BSI tetap mengedepankan tata kelola perusahaan dan kepatuhan terhadap regulasi dalam menjalankan mandat tersebut. Penyesuaian status sebagai Persero juga dinilai selaras dengan penguatan ekosistem Danantara serta implementasi Undang-Undang BUMN.
“BSI telah melewati lima tahun pertama dengan baik sebagai milestone awal, dan kini siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya,” ujarnya.
Mayoritas Pembiayaan ke Konsumer dan Ritel
Sejak merger pada 2021, BSI konsisten menyalurkan pembiayaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Fokus utama diarahkan ke segmen konsumer dan ritel, terutama dalam ekosistem halal.
Hingga tutup buku 2025, sekitar 90% pembiayaan BSI disalurkan ke segmen ritel, konsumer, UMKM, dan komersial skala kecil, termasuk sektor pendidikan dan layanan kesehatan. Pembiayaan tersebut menyasar pegawai, pelaku usaha mikro, kecil, menengah, serta ekosistem BUMN.
“Kami bersyukur BSI bisa hadir melayani umat dengan sepenuh hati melalui pembiayaan yang fokus pada segmen konsumer dan ritel, sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat luas,” ujar Anggoro.
Status BSI sebagai bank bulion juga memperkuat kinerja perseroan. Hingga akhir Desember 2025, total pembelian emas melalui aplikasi BYOND tercatat mencapai lebih dari 2,1 ton, dengan jumlah nasabah BSI yang kini menembus 23 juta orang.
Layanan bulion ini memungkinkan masyarakat berinvestasi emas secara mudah, murah, dan inklusif, karena dapat diakses 24 jam melalui aplikasi dengan nilai investasi mulai sekitar Rp50 ribu.
Selain itu, BSI juga aktif mendukung program pemerintah, seperti FLPP, KUR, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi sosial, BSI turut berkontribusi dalam pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera, khususnya Aceh, dengan total bantuan lebih dari 210 ton. [*]








