Forumrakyat.co.id – Sabang selama ini dikenal sebagai destinasi bahari dengan lanskap laut yang memikat. Namun di balik keindahan itu, kota di ujung barat Indonesia ini menyimpan lapisan sejarah yang kuat—sebuah narasi tentang peran strategisnya dalam peta militer dunia. Julukan “Kota 1000 Benteng” bukan sekadar simbolik, melainkan cerminan nyata dari banyaknya situs pertahanan yang tersebar di kawasan ini.
Di berbagai titik pesisir Pulau Weh, wisatawan dapat menemukan sisa-sisa benteng yang dibangun pada masa Perang Asia Pasifik. Struktur-struktur tersebut, yang sebagian besar dibangun pada era pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, menjadi bukti penting bagaimana Sabang pernah memegang peranan krusial sebagai titik pertahanan maritim.

Salah satu lokasi yang kerap menjadi tujuan adalah Benteng Anoi Itam. Dari titik ini, hamparan laut lepas terbentang luas, menghadirkan perspektif yang sama seperti yang pernah dilihat para penjaga benteng di masa lalu. Selain itu, kawasan seperti Sabang Fair hingga kompleks pertahanan Benteng Meteo (Batere A) turut menyimpan jejak artileri yang masih berdiri kokoh.
Meriam-meriam anti-kapal yang kini membisu menjadi saksi bisu strategi pertahanan masa lampau. Di beberapa lokasi lain, seperti Benteng B dan C, struktur beton dan posisi tembak masih dapat dikenali dengan jelas, memberikan gambaran nyata tentang sistem pertahanan yang pernah diterapkan.
Menariknya, kunjungan ke benteng-benteng ini tidak hanya menawarkan pengalaman sejarah, tetapi juga panorama alam yang memukau. Dari ketinggian, wisatawan dapat menikmati pemandangan laut luas, aktivitas kapal yang melintas, hingga momen matahari terbit dan terbenam yang dramatis. Perpaduan antara nilai historis dan keindahan alam menjadikan wisata ini memiliki daya tarik tersendiri.

Menurut Humaira, pengembangan wisata sejarah di Sabang merupakan bagian penting dari konsep pariwisata berkelanjutan.
“Dengan mengangkat wisata sejarah, kita tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menciptakan keseimbangan dalam pariwisata. Ini memberi ruang bagi alam untuk tetap terjaga,” ujarnya.
Keberadaan benteng-benteng ini menjadi pengingat bahwa Sabang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan cerita. Menjelajahi situs-situs tersebut adalah perjalanan melintasi waktu—menghubungkan generasi masa kini dengan jejak sejarah yang pernah membentuk kawasan ini.
Pada akhirnya, menjaga dan melestarikan benteng-benteng di Pulau Weh bukan sekadar upaya konservasi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah. Sebab, di antara dinding beton dan meriam yang sunyi, tersimpan kisah besar yang terus hidup dan layak untuk dikenang. (Adv)










