Forumrakyat.co.id |Aceh Barat : Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Barat tahun ini berlangsung tidak serentak. Sejumlah wilayah telah melaksanakan Shalat Idul Adha pada Rabu, 27 Mei 2026, namun sebagian masyarakat lainnya memilih menunda perayaan hingga Kamis, 28 Mei 2026.
Pantauan tim Forum Rakyat pada Rabu pagi menunjukkan masih banyak warga yang belum melaksanakan Shalat Idul Adha, khususnya di Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. Kecamatan yang terdiri dari 27 desa tersebut tampak masih menjalani aktivitas seperti hari biasa.
Saat melintas di sejumlah desa dalam kawasan Arongan Lambalek, tim Forum Rakyat melihat hewan kurban seperti sapi dan kambing masih belum disembelih. Bahkan, sejumlah pedagang daging di Desa Teupin Peuraho masih membuka lapak jualan sejak pagi hari. Potongan paha kerbau dan sapi terlihat masih bergelantungan di kios-kios penjual daging.
Salah seorang pedagang daging yang enggan disebutkan namanya mengaku bersyukur dengan ditundanya pelaksanaan Idul Adha di daerah mereka.
“Karena lebaran ditunda hari ini, kami masih punya kesempatan menghabiskan daging meugang yang kemarin belum habis terjual. Hari ini masih bisa kami jual lagi, ini jadi rahmat bagi kami,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, salah satu kepala desa setempat, Amirudin, menjelaskan bahwa masyarakat di wilayahnya belum melaksanakan Shalat Idul Adha karena mengikuti maklumat para ulama dan tengku dayah yang menjadi panutan warga.
Menurutnya, para ulama saat ini masih menjalani sulok, yakni ritual ibadah dengan berpuasa dan berzikir di dayah bersama jamaah sebagai bentuk peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Hari ini kami belum melaksanakan Shalat Idul Adha karena para ulama dan Tengku Dayah masih berada dalam kegiatan sulok. Insya Allah besok, Kamis 28 Mei 2026, baru kami rayakan bersama,” kata Amirudin.
Perbedaan waktu perayaan Idul Adha di beberapa daerah di Aceh bukan kali pertama terjadi. Tradisi mengikuti keputusan ulama dayah setempat masih sangat kuat di tengah masyarakat, terutama di wilayah pedalaman dan komunitas yang memiliki ikatan erat dengan tradisi keagamaan dayah.
Meski berbeda hari pelaksanaan, suasana masyarakat tetap berlangsung aman dan penuh toleransi. Warga tetap saling menghormati perbedaan penentuan hari raya yang didasarkan pada keyakinan dan keputusan ulama masing-masing.
(Zaini Dahlan / Forum Rakyat)






