Banda Aceh, FR – Temuan cadangan gas alam raksasa di kawasan South Andaman, Aceh, kembali membangkitkan harapan besar terhadap masa depan ekonomi daerah. Namun, di balik potensi ekonomi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp2.700 triliun, sejumlah kalangan mengingatkan agar pengelolaan gas Andaman tidak mengulangi pengalaman masa lalu saat Aceh menjadi penghasil energi besar, tetapi rakyatnya belum sepenuhnya menikmati hasil kekayaan alam tersebut.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Februari 2026 menyebut total temuan gas di kawasan Andaman mencapai sekitar 11 triliun kaki kubik (TCF). Temuan tersebut menjadikan South Andaman sebagai salah satu proyek migas paling strategis di Indonesia saat ini.
Secara konversi energi, cadangan 11 TCF diperkirakan setara sekitar 1,8 miliar barel minyak ekuivalen (BOE). Dengan asumsi harga energi global sekitar 90 dolar AS per barel, nilai bruto kandungan energinya diperkirakan mencapai sekitar 165 miliar dolar AS atau lebih dari Rp2.700 triliun.
Besarnya potensi tersebut mengingatkan publik pada sejarah Gas Arun di Lhokseumawe yang ditemukan pada 1971. Dengan cadangan sekitar 16 TCF, Arun pernah menjadi salah satu ladang gas terbesar dunia dan menjadi tulang punggung ekspor LNG Indonesia selama puluhan tahun.
Namun, Ketua DPA Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, menilai pengalaman Arun harus menjadi pelajaran penting dalam menyambut era Andaman.
“Jangan sampai sejarah Arun kembali terulang di Andaman. Aceh pernah menjadi daerah penghasil energi terbesar, tetapi rakyat justru merasakan ketimpangan dan keterbelakangan. Kekayaan alam tidak boleh lagi menjadi sumber ketidakadilan bagi masyarakat Aceh,” kata Sulaiman Manaf kepada wartawan, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, selama puluhan tahun Aceh telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui sektor minyak dan gas. Namun manfaat yang dirasakan masyarakat dinilai belum sebanding dengan besarnya kekayaan alam yang dihasilkan.
Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan proyek Andaman tidak boleh hanya diukur dari besarnya cadangan atau nilai investasi, tetapi harus terlihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri daerah, serta berkurangnya angka kemiskinan yang masih menjadi tantangan di Aceh.
“Rakyat Aceh jangan hanya menjadi penonton ketika kekayaan alam diambil dari tanahnya sendiri. Gas Andaman harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi Aceh dan menghadirkan manfaat nyata bagi generasi mendatang,” tegasnya. (R)








