JAKARTA, FR – Tokoh nasional asal Aceh yang juga mantan Ketua Komite I DPD RI periode 2014–2024, Dr. H. Fachrul Razi, M.IP, menilai penemuan cadangan migas raksasa di kawasan Andaman merupakan momentum strategis yang dapat menentukan masa depan ekonomi Aceh dalam beberapa dekade ke depan.
Menurut Fachrul, temuan migas yang dilakukan oleh perusahaan energi global Mubadala Energy dan Harbour Energy termasuk salah satu giant discovery terbesar di dunia, dengan nilai ekonomi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp5.400 triliun.
“Jika dikonversikan berdasarkan harga energi global saat ini dan kurs rupiah sekitar Rp18.000 per dolar AS, nilai ekonomi total cadangan migas Andaman diperkirakan mencapai Rp5.400 triliun. Ini adalah kekayaan luar biasa yang harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Aceh,” kata Fachrul dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Mengacu pada data Kementerian ESDM dan SKK Migas, total potensi sumber daya migas di kawasan Andaman diperkirakan mencapai 4.965 juta barel minyak ekuivalen (million barrels of oil equivalent/MMBOE), dengan cadangan gas bumi berkisar antara 6 hingga 11 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF).
Fachrul menegaskan, besarnya potensi tersebut harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan skema pengelolaan yang mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi Aceh dan masyarakatnya.
Ia juga mendukung langkah Gubernur Aceh yang meminta penundaan sementara persetujuan Plan of Development (PoD) hingga terdapat kejelasan terkait skema pengolahan gas yang memberikan manfaat lebih besar bagi daerah.
“Permintaan Gubernur Aceh untuk menunda sementara Plan of Development sampai ada kejelasan skema pengolahan di darat merupakan langkah yang tepat. Pemerintah pusat tidak boleh hanya mengejar target produksi nasional dengan mengabaikan hak dan kepentingan daerah penghasil,” tegasnya.
Menurut Fachrul, pengolahan gas melalui fasilitas Onshore Receiving Facility (ORF) di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus Arun akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan penggunaan skema Floating Production Storage and Offloading (FPSO) di tengah laut.
Selain menghidupkan kembali infrastruktur energi yang telah tersedia, skema pengolahan di darat diyakini mampu mendorong pertumbuhan industri hilir, membuka ribuan lapangan kerja baru, serta meningkatkan pendapatan daerah di tengah tren penurunan Dana Otonomi Khusus Aceh.
“Blok Andaman bukan sekadar proyek migas. Ini menyangkut masa depan ekonomi Aceh dan keadilan bagi rakyatnya. Kekayaan alam Aceh tidak boleh kembali hanya menjadi sumber keuntungan bagi pihak luar, sementara masyarakat di daerah hanya menjadi penonton,” ujar Fachrul.
Ia menambahkan, momentum penemuan migas Andaman harus menjadi titik balik bagi Aceh untuk memastikan sumber daya alam yang dimiliki benar-benar mampu menghadirkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemandirian ekonomi bagi masyarakat.
“Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar kekayaan alam Aceh benar-benar menjadi instrumen kesejahteraan rakyat, bukan sekadar angka besar dalam laporan investasi,” pungkas Fachrul Razi. (R)







