ACEH BESAR, FR – Hanya sekitar 20 menit berkendara dari pusat Kota Banda Aceh, ada sebuah desa yang membuktikan bahwa kemajuan pariwisata tidak harus mengorbankan budaya. Di tengah derasnya arus modernisasi, Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, justru memilih jalan yang berbeda: menjadikan tradisi sebagai napas utama pengembangan desanya.
Di tempat ini, budaya tidak disimpan di balik etalase museum atau hanya ditampilkan saat perayaan tertentu. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Anyaman daun kelapa masih dibuat dengan tangan, tabuhan rapai masih menggema di balai desa, dan tradisi menangkap ikan di sungai masih diwariskan dari generasi ke generasi.
Inilah yang menjadikan Gampong Nusa lebih dari sekadar destinasi wisata.
Desa ini menawarkan pengalaman untuk mengenal Aceh dari akarnya, melalui masyarakat yang tetap menjaga identitas budayanya di tengah perubahan zaman.
Perjalanan menuju Gampong Nusa cukup mudah. Berjarak sekitar sembilan kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, desa ini dapat dijangkau dalam waktu kurang dari setengah jam. Begitu memasuki kawasan desa, suasana langsung berubah.
Sungai yang mengalir mengelilingi permukiman, hamparan sawah hijau, deretan pondok kayu di tepi aliran air, serta siluet Bukit Siron di kejauhan menciptakan panorama pedesaan yang tenang dan menyegarkan.
Banyak pengunjung memilih duduk santai di pondok-pondok sambil menikmati kopi Aceh atau menyantap kuliner tradisional. Namun, keindahan alam hanyalah pembuka dari pengalaman yang sesungguhnya.
Daya tarik utama Gampong Nusa justru terletak pada interaksi langsung dengan masyarakat.
Berbeda dengan banyak destinasi wisata lain yang hanya menawarkan pemandangan, di Gampong Nusa wisatawan diajak menjadi bagian dari kehidupan desa. Pengunjung dapat belajar menganyam daun kelapa bersama warga, sebuah keterampilan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Dari tangan para perajin lahir berbagai karya, mulai dari ketupat hingga hiasan khas Aceh yang sarat makna budaya.
Pengalaman berlanjut ketika suara tabuhan rapai, alat musik tradisional Aceh, mulai menggema. Wisatawan tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diberi kesempatan mencoba memainkan instrumen yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dalam kesenian dan adat masyarakat Aceh.
Bagi pencinta aktivitas luar ruang, tersedia pengalaman Dop Eunkot, yaitu menangkap ikan secara tradisional di sungai desa. Aktivitas ini bukan sekadar permainan, melainkan cara mengenalkan kembali hubungan masyarakat Aceh dengan alam serta nilai kebersamaan yang masih terpelihara.
Semua kegiatan tersebut dikelola langsung oleh warga desa.
Inilah kekuatan terbesar Gampong Nusa.
Masyarakat bukan sekadar penerima manfaat pariwisata, tetapi menjadi perancang, pelaku, sekaligus penjaga keberlangsungan desa wisata. Model pengelolaan berbasis komunitas ini menjadikan setiap aktivitas tetap autentik karena lahir dari tradisi yang memang masih dijalankan, bukan sekadar atraksi yang dibuat untuk wisatawan.
Keberhasilan pendekatan tersebut mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada tahun 2021, Gampong Nusa berhasil masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia dan meraih Juara I Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa desa wisata berbasis masyarakat mampu berkembang sekaligus menjaga kelestarian budaya.
Tidak hanya menjadi tujuan rekreasi, Gampong Nusa juga kerap menerima kunjungan studi banding, penelitian akademik, hingga kegiatan edukasi dari pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari konsep pengelolaan desa wisata secara langsung.
Agam Provinsi Aceh 2023, Vima Syaddad Alfathan, menilai Gampong Nusa sebagai contoh nyata bagaimana budaya dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
“Gampong Nusa menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan pengembangan wisata dan justru saling menguatkan. Ketika masyarakat punya kepentingan langsung untuk menjaga budayanya, upaya itu menjadi jauh lebih berkelanjutan dibanding program yang datang dari luar,” ujarnya.
Menurut Vima, keberhasilan Gampong Nusa tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan tradisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di tengah banyaknya desa yang berlomba membangun destinasi wisata modern, Gampong Nusa memilih memperkuat apa yang telah dimilikinya sejak lama: budaya, gotong royong, dan kearifan lokal.
Pendekatan tersebut menjadi contoh bahwa pariwisata dapat berkembang tanpa menghilangkan identitas daerah. Justru sebaliknya, budaya yang terawat menjadi alasan utama wisatawan datang dan kembali.
Berkunjung ke Gampong Nusa bukan sekadar menikmati pemandangan pedesaan yang asri. Di setiap anyaman daun kelapa, setiap hentakan rapai, dan setiap langkah menyusuri pematang sawah, tersimpan cerita tentang masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan penuh kesadaran.
Di sinilah wisata memiliki makna yang lebih dalam. Bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi juga memahami cara hidup, belajar dari tradisi, dan merasakan hangatnya sebuah komunitas yang menjadikan budaya sebagai bagian dari masa depan.
Gampong Nusa membuktikan bahwa desa kecil pun dapat menjadi inspirasi besar. Sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang autentik, hidup, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Adv








