Bireuen, FR | Tim dosen Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar pelatihan pemanfaatan sensor magnetometer pada smartphone sebagai media eksperimen fisika bagi guru-guru di Kabupaten Bireuen. Kegiatan yang berlangsung pada 24–27 April 2026 di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen itu diikuti 25 guru fisika yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika Kabupaten Bireuen.
Pelatihan dipimpin Dra. Nurulwati, M.Pd selaku ketua tim pengabdian, didampingi Drs. Ngadimin, M.Si dan Mawarni Saputri, M.Pd sebagai anggota sekaligus narasumber. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam mengoptimalkan teknologi smartphone sebagai alat pembelajaran dan praktikum fisika yang mudah diakses.
Nurulwati menjelaskan, smartphone kini tidak sekadar alat komunikasi, melainkan juga memuat berbagai sensor yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran sains—salah satunya magnetometer, yang mampu mengukur kuat medan magnet di lingkungan sekitar.
*”Pemanfaatan teknologi yang dekat dengan keseharian dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan kontekstual. Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkenalkan alternatif praktikum fisika yang mudah diterapkan di sekolah,”* ujarnya.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi konsep dasar medan magnet, prinsip kerja sensor magnetometer, serta penggunaan aplikasi pendukung untuk melakukan pengukuran berbasis smartphone. Sesi teori dilanjutkan dengan praktik langsung, memungkinkan peserta memahami cara kerja aplikasi sekaligus menginterpretasikan data hasil pengukuran.
Para guru tampak antusias saat mencoba berbagai aktivitas pengukuran medan magnet menggunakan perangkat masing-masing, sembari mendiskusikan kemungkinan penerapannya dalam pembelajaran di kelas.
Tak hanya praktikum, peserta juga mendapat pendampingan menyusun perangkat pembelajaran berbasis teknologi digital. Mereka dilatih merancang modul ajar dan aktivitas pembelajaran yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka melalui teknologi yang mudah diakses peserta didik.
Narasumber Mawarni Saputri menyebut pendekatan ini sebagai solusi konkret bagi sekolah yang memiliki keterbatasan peralatan laboratorium.
“Dengan memanfaatkan fitur yang sudah tersedia pada smartphone, guru tetap dapat melaksanakan praktikum sederhana yang membantu siswa memahami konsep fisika secara lebih konkret,” katanya.
Para peserta menyambut positif pelatihan ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan guna memperkaya inovasi pembelajaran fisika di sekolah. Tim dosen FKIP USK pun berharap guru-guru fisika Bireuen semakin terampil memanfaatkan teknologi digital sehingga proses belajar menjadi lebih interaktif, efektif, dan relevan dengan perkembangan zaman. (Red)







