BANDA ACEH, FR – Di kawasan pesisir Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, berdiri sebuah kompleks makam yang setiap tahun didatangi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara-negara serumpun Melayu. Bangunannya sederhana, jauh dari kesan megah, tetapi nama yang bersemayam di dalamnya menjadikan tempat ini memiliki arti yang sangat besar dalam sejarah Islam Nusantara.
Di sinilah dimakamkan Syeikh Abdurrauf As-Singkili, ulama besar Aceh yang lebih dikenal masyarakat sebagai Teungku Syiah Kuala. Ia bukan hanya seorang ahli fikih, sufi, dan mufti Kesultanan Aceh Darussalam, tetapi juga sosok yang diakui luas sebagai penyusun Tarjuman al-Mustafid, tafsir Al-Qur’an lengkap berbahasa Melayu yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan keilmuan Islam di kawasan Nusantara.
Berkunjung ke makam ini bukan sekadar perjalanan wisata religi. Ia adalah perjalanan menelusuri jejak seorang cendekiawan yang membangun jembatan antara ilmu pengetahuan Islam dari Timur Tengah dengan dunia Melayu.
Dari Singkil Menuju Pusat Keilmuan Islam Dunia
Syeikh Abdurrauf lahir sekitar tahun 1615 M di kawasan Fansur (Singkil), yang kini termasuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Nama lengkapnya adalah Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Singkili.
Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama. Pendidikan agama pertama diperolehnya dari ayah dan para ulama di kampung halamannya. Namun, semangat menuntut ilmu membawanya meninggalkan Aceh menuju Jazirah Arab pada pertengahan abad ke-17.
Perjalanan intelektual itu berlangsung hampir dua dekade.
Selama kurang lebih 19 tahun, ia belajar kepada banyak ulama di berbagai pusat keilmuan Islam, mulai dari Yaman, Jeddah, Makkah hingga Madinah. Di sana ia mendalami beragam disiplin ilmu, mulai dari fikih, hadis, tafsir, tasawuf, filsafat, mantik, hingga sastra Arab.
Di Madinah, ia berguru kepada ulama terkemuka seperti Syekh Ahmad al-Qusyasyi dan kemudian Syekh Ibrahim al-Kurani. Dari kedua gurunya itulah ia memperoleh ijazah keilmuan sekaligus amanah sebagai khalifah dalam Tarekat Syattariyah.
Bekal ilmu yang diperolehnya kemudian menjadi fondasi penting ketika ia kembali ke Aceh pada tahun 1662 M.
Menjadi Mufti Kesultanan Aceh
Sekembalinya ke tanah air, Syeikh Abdurrauf dipercaya mengemban jabatan Qadhi Malik al-Adil atau mufti Kesultanan Aceh Darussalam.
Masa itu bukanlah periode yang mudah.
Kesultanan Aceh tengah menghadapi perdebatan panjang mengenai pemikiran tasawuf, terutama antara kelompok pendukung ajaran wujudiyah dan kelompok yang menentangnya. Dengan keluasan ilmunya, Syeikh Abdurrauf berupaya menghadirkan jalan tengah yang menekankan keseimbangan antara syariat dan tasawuf.
Perannya juga sangat penting ketika Kesultanan Aceh dipimpin oleh para sultanah. Melalui pandangan keagamaannya, ia memberikan landasan yang memungkinkan kepemimpinan perempuan diterima dalam konteks Kesultanan Aceh Darussalam.
Karena keluasan ilmu dan kewibawaannya, ia tetap dipercaya menjadi mufti pada masa pemerintahan beberapa sultanah Aceh secara berturut-turut.
Warisan Besar Bernama Tarjuman al-Mustafid
Di antara puluhan karya yang ditinggalkannya, Tarjuman al-Mustafid menjadi yang paling berpengaruh.
Karya tersebut diakui secara luas sebagai tafsir Al-Qur’an lengkap berbahasa Melayu tertua yang masih bertahan hingga kini. Melalui kitab ini, masyarakat Melayu yang tidak menguasai bahasa Arab memperoleh kesempatan memahami kandungan Al-Qur’an dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Pengaruhnya melampaui Aceh.
Naskah tersebut beredar ke berbagai wilayah Nusantara hingga Semenanjung Melayu dan menjadi salah satu rujukan penting dalam perkembangan studi Islam di kawasan ini.
Selain tafsir, Syeikh Abdurrauf juga menghasilkan puluhan karya lain dalam bidang fikih, hadis, akidah, tasawuf, dan ilmu kalam, baik dalam bahasa Arab maupun Melayu.
Jejak Ilmu yang Menyebar ke Nusantara
Warisan Syeikh Abdurrauf tidak berhenti pada buku-buku yang ditulisnya.
Ia juga melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi ulama besar di berbagai daerah, di antaranya Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat, Syekh Abdul Muhyi di Jawa Barat, serta sejumlah ulama dari Terengganu dan wilayah Melayu lainnya.
Melalui para murid inilah jaringan intelektual Aceh berkembang luas dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Nusantara.
Makam yang Menjadi Destinasi Wisata Religi
Syeikh Abdurrauf wafat sekitar tahun 1693 M dan dimakamkan di samping masjid yang didirikannya di Deah Raya, Banda Aceh.
Kompleks makam tersebut kini menjadi salah satu tujuan wisata religi yang penting di Aceh. Setiap tahun, peziarah datang dari berbagai daerah untuk berdoa sekaligus mengenang jasa ulama besar yang telah memberi warna pada perkembangan Islam di kawasan Melayu.
Di Aceh Singkil juga terdapat makam yang secara tradisi lokal dikaitkan dengan Syeikh Abdurrauf. Keberadaan dua situs tersebut menjadi bagian dari sejarah dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Nama besarnya juga terus dikenang melalui Universitas Syiah Kuala, perguruan tinggi negeri terbesar di Aceh yang menggunakan gelarnya sebagai penghormatan atas jasa dan pemikirannya.
Menjaga Warisan Peradaban
Agam Aceh 2023, Vima Syaddad Alfathan, menilai bahwa perjalanan ke makam Syeikh Abdurrauf bukan sekadar ziarah, melainkan kesempatan memahami besarnya kontribusi Aceh dalam sejarah intelektual Islam.
“Syeikh Abdurrauf As-Singkili membuktikan bahwa Aceh tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh besar yang memberi pengaruh bagi peradaban Islam di Nusantara. Karya dan pemikirannya adalah warisan yang patut dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa sejarah Aceh juga dibangun oleh ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Di tengah berkembangnya wisata sejarah dan religi, makam Teungku Syiah Kuala menjadi pengingat bahwa perjalanan terbaik tidak selalu menuju tempat yang indah secara visual. Ada kalanya, perjalanan paling bermakna adalah ketika seseorang menapak jejak para ulama yang pernah menerangi Nusantara dengan ilmu dan kebijaksanaan.
Karena di balik kesederhanaan kompleks makam itu, tersimpan kisah tentang seorang putra Singkil yang menghubungkan Aceh dengan pusat-pusat keilmuan Islam dunia, melahirkan karya yang dikenang lintas abad, dan meninggalkan warisan intelektual yang terus hidup hingga hari ini. Adv








