“Bantuan Rumoh Aceh Mandiri ini tidak hanya menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga memberikan harapan baru serta semangat untuk bangkit bagi masyarakat yang terdampak musibah.”
[Ismail, S.E.I., Wakil Bupati Aceh Tamiang].
- Laznas Al Irsyad Bangun 54 Hunian untuk Korban Banjir, Kolaborasi Kemanusiaan Percepat Pemulihan Aceh Tamiang
Program Rumoh Aceh Mandiri menjadi simbol kebangkitan penyintas banjir. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
DI TENGAH upaya pemulihan pascabencana banjir yang melanda Aceh Tamiang, harapan kembali hadir bagi puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Rumah-rumah baru yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.
Harapan tersebut diwujudkan melalui Program Rumoh Aceh Mandiri yang diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Al Irsyad. Sebanyak 54 unit rumah dibangun untuk warga terdampak banjir di tiga kecamatan, yaitu Rantau, Bendahara, dan Karang Baru.
Prosesi serah terima bantuan dilaksanakan di Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, pada Minggu, 28 Juni 2026 lalu, dan dihadiri oleh pemerintah daerah, unsur Forkopimcam, tokoh masyarakat, aparatur kampung, pengurus Laznas Al Irsyad, serta para penerima manfaat.
Momentum tersebut menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Kolaborasi Kemanusiaan
PEMERINTAH Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan apresiasi kepada Laznas Al Irsyad atas kontribusinya dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak banjir.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, S.E.I., menyatakan bahwa bantuan hunian tersebut merupakan wujud nyata kepedulian sosial yang memberikan harapan baru bagi masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada Laznas Al Irsyad beserta seluruh donatur. Bantuan Rumoh Aceh Mandiri ini tidak hanya menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga memberikan harapan baru serta semangat untuk bangkit bagi masyarakat yang terdampak musibah,” ujar Ismail.
Ia menambahkan bahwa percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana memerlukan sinergi dari seluruh pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut mencerminkan kuatnya nilai gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat Aceh.
Rumah yang Dibangun dengan Semangat Gotong Royong
PROGRAM Rumoh Aceh Mandiri dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik budaya Aceh serta kebutuhan masyarakat penyintas bencana. Selain memperhatikan aspek keamanan, konsep hunian juga mengedepankan kenyamanan agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
Wakil Direktur Laznas Al Irsyad, Zaid Al Hadadi, menjelaskan bahwa pembangunan seluruh unit rumah dilaksanakan melalui semangat kebersamaan.
“Alhamdulillah, sebanyak 54 unit rumah telah kami bangun di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Rantau, Bendahara, dan Karang Baru. Seluruh proses pembangunan dilaksanakan secara gotong royong agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap rumah-rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi awal kehidupan baru bagi para penerima manfaat.
Menurut Zaid, keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan para donatur yang telah menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya untuk membantu masyarakat Aceh Tamiang.
Menuju Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
PEMERINTAH Kabupaten Aceh Tamiang saat ini terus mengarahkan penanganan bencana dari fase tanggap darurat menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pada tahap ini, pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup pemulihan aspek sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat terdampak.
Kehadiran berbagai lembaga kemanusiaan dinilai berperan penting dalam mempercepat proses tersebut, sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal.
Program Rumoh Aceh Mandiri menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi yang efektif dalam memberikan solusi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Simbol Kebangkitan
BAGI para penerima manfaat, rumah baru memiliki makna yang lebih dari sekadar tempat tinggal.
Setiap bangunan yang berdiri mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Setiap pintu yang terbuka menjadi simbol keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun kembali, meskipun pernah dilanda bencana.
Prosesi penyerahan bantuan ditandai dengan pemotongan pita sebagai simbol dimulainya kehidupan baru bagi para penerima manfaat. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama antara pemerintah daerah, pengurus Laznas Al Irsyad, serta masyarakat.
Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian dan semangat gotong royong merupakan kekuatan utama dalam mendukung masyarakat bangkit dari keterpurukan.
Rumoh Aceh Mandiri
BENCANA dapat meruntuhkan bangunan fisik, namun tidak mampu menghilangkan kepedulian. Ketika pemerintah, lembaga kemanusiaan, para donatur, dan masyarakat bersinergi, proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan bermakna.
Sebanyak 54 unit rumah yang dibangun melalui Program Rumoh Aceh Mandiri bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan, melainkan bukti nyata bahwa solidaritas tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kembali kehidupan.
Di Aceh Tamiang, setiap rumah yang kembali berdiri tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa masa depan dapat dibangun kembali secara bersama-sama. [].






