“Pak Armia tetap fokus bekerja. Beliau terus membangun komunikasi dengan Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat agar penanganan bencana serta penyaluran bantuan kepada masyarakat dapat dipercepat. Hari ini masyarakat mulai merasakan manfaat dari perjuangan tersebut.”
[Hendra, ST. Kabid Media Diskominfosan Aceh Tamiang].
- Armia Pahmi dan Ikhtiar Panjang Memulihkan Aceh Tamiang
PAGI ITU, Aceh Tamiang nyaris tak lagi dikenali. Lumpur setinggi lutut menutup jalan-jalan kampung. Kayu gelondongan, pasir, kerikil, hingga puing-puing rumah berserakan di mana-mana. Air bah yang datang bersama material dari hulu menyapu permukiman, lahan pertanian, sekolah, rumah ibadah, hingga fasilitas umum.
Sebanyak 216 kampung di 12 kecamatan terdampak bencana ekologis dan hidrometeorologi yang kemudian tercatat sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah Kabupaten Aceh Tamiang.
Ribuan keluarga kehilangan rumah, harta benda, serta sumber penghidupan. Aktivitas ekonomi lumpuh. Jalur distribusi terputus. Pemerintahan daerah pun dihadapkan pada situasi yang belum pernah dialami sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, memilih tetap berada di daerah bersama masyarakat.
Ia memimpin koordinasi penanganan darurat sekaligus membangun komunikasi intensif dengan Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat untuk mempercepat masuknya bantuan.
Perjalanan itu tidak mudah.
Berbagai kritik, tudingan, hingga cemoohan datang silih berganti. Namun di balik dinamika tersebut, proses penanganan bencana terus berjalan hingga memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hari ini, ketika bantuan mulai diterima masyarakat dan aktivitas ekonomi perlahan kembali bergerak, pemerintah daerah menilai perjalanan panjang tersebut mulai memperlihatkan hasil.
Memimpin di Tengah Bencana
BENCANA yang melanda Aceh Tamiang bukan sekadar banjir biasa. Material lumpur, pasir, bebatuan, hingga kayu gelondongan yang terbawa arus menghancurkan banyak kawasan permukiman. Di sejumlah titik, rumah-rumah rata dengan tanah. Ribuan warga terpaksa mengungsi.
Dalam situasi darurat itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang harus bergerak cepat. Prioritas utama adalah menyelamatkan warga, menyediakan kebutuhan dasar, membuka akses jalan, serta memastikan distribusi logistik tetap berjalan.
Menurut Hendra, ST, Kepala Bidang Media Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Aceh Tamiang, Bupati Armia Pahmi hampir tidak pernah meninggalkan wilayah terdampak selama masa-masa kritis tersebut.
“Pak Bupati memilih tetap berada bersama masyarakat. Beliau memimpin langsung koordinasi lapangan sambil terus membangun komunikasi dengan Pemerintah Aceh, kementerian, BNPB, Kemensos, hingga berbagai lembaga lainnya agar bantuan segera turun,” ujar Hendra.
Komunikasi lintas pemerintahan itu menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah. Sebab, skala kerusakan yang terjadi tidak memungkinkan seluruh kebutuhan ditangani hanya dengan kemampuan anggaran daerah.
Melewati Berbagai Tahapan Penanganan
PENANGANAN bencana dilakukan secara bertahap.
Dimulai dari masa tanggap darurat untuk penyelamatan korban dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, kemudian memasuki masa transisi pemulihan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Selama proses tersebut, berbagai kementerian dan lembaga pemerintah mulai menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Bantuan tersebut meliputi bantuan kebutuhan hidup (jadup), stimulan rumah rusak, penggantian perabot rumah tangga, rehabilitasi rumah, hingga berbagai bentuk dukungan sosial lainnya.
Menurut Hendra, perjuangan memperoleh bantuan tersebut membutuhkan koordinasi yang panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Semua harus melalui proses administrasi, verifikasi, validasi data, hingga penetapan penerima manfaat. Pemerintah daerah terus mengawal proses tersebut agar bantuan dapat segera diterima masyarakat,” katanya.
Di Tengah Kritik dan Cibiran
SEBAGAIMANA lazim terjadi dalam penanganan bencana berskala besar, pemerintah daerah tidak lepas dari kritik.
Berbagai komentar, tudingan, bahkan serangan di media sosial sempat mewarnai proses penanganan.
Namun, Hendra menilai seluruh dinamika tersebut tidak mengubah fokus pemerintah daerah.
Menurutnya, Bupati Armia memilih tetap bekerja daripada menjawab seluruh kritik yang berkembang.
“Pak Armia tetap fokus bekerja. Beliau terus membangun komunikasi dengan Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat agar penanganan bencana serta penyaluran bantuan kepada masyarakat dapat dipercepat. Hari ini masyarakat mulai merasakan manfaat dari perjuangan tersebut,” ujar Hendra.
Ia mengatakan ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan ditentukan oleh banyaknya komentar di ruang publik, melainkan sejauh mana masyarakat dapat kembali bangkit.
Meluruskan Informasi Penyaluran Bantuan
SALAH satu isu yang menurut Hendra perlu diluruskan adalah mekanisme penyaluran bantuan pemerintah pusat.
Ia menegaskan bantuan tersebut sama sekali tidak masuk ke rekening pribadi kepala daerah maupun rekening Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.
Seluruh bantuan disalurkan sesuai mekanisme pemerintah pusat melalui lembaga penyalur resmi.
“Bantuan dari pemerintah pusat disalurkan langsung melalui Bank Syariah Indonesia dan Kantor Pos Indonesia kepada masyarakat penerima manfaat. Jadi, bukan masuk ke rekening bupati ataupun pemerintah daerah,” tegasnya.
Penjelasan tersebut, kata Hendra, penting agar masyarakat memahami proses penyaluran bantuan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar.
Ekonomi Mulai Bergerak
MASUKNYA bantuan pemerintah pusat mulai memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat.
Pasar-pasar tradisional kembali ramai.
Warung-warung kecil mulai buka.
Sebagian warga membeli kembali kebutuhan rumah tangga yang hilang saat bencana.
Bahkan sejumlah pelaku usaha kecil mulai membuka kembali usahanya.
Misnan (40), warga Kampung Harum Sari, mengaku bantuan yang diterimanya menjadi modal awal untuk menata kehidupan keluarganya.
“Saya bisa membeli kembali kebutuhan rumah tangga. Ini menjadi awal bagi kami untuk bangkit setelah kehilangan banyak hal akibat banjir,” katanya.
Ramadhan (41), warga Kampung Bundar, juga menyampaikan hal serupa.
Menurutnya, bantuan tersebut menjadi penyemangat untuk kembali membuka usaha keluarga.
Ia berharap masyarakat yang masih menunggu proses penyaluran bantuan tetap bersabar mengikuti mekanisme yang sedang berjalan.
Harapan dari Hunian Sementara
DI HUNIAN Sementara (Huntara) II Karang Baru, Linda (35) masih mengingat hari-hari ketika keluarganya harus meninggalkan rumah yang rusak diterjang banjir.
Kini, setelah bantuan mulai diterima, ia mengaku sedikit lega.
“Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami. Kami bisa memenuhi kebutuhan bayi yang baru lahir dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” ujarnya.
Bagi Linda, bantuan tersebut bukan sekadar bantuan sosial.
Lebih dari itu, bantuan menjadi simbol bahwa negara hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang memulai kehidupan baru.
Solidaritas pada Hari-Hari Awal
SEBELUM bantuan pemerintah pusat tiba, berbagai bentuk solidaritas bermunculan.
Menurut Hendra, Bupati Armia bersama rekan-rekannya di lingkungan Polri menggalang bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Aceh Tamiang.
Dana yang terkumpul kemudian digunakan membeli berbagai kebutuhan pokok.
Logistik tersebut didistribusikan menggunakan sejumlah truk menuju Aceh Tamiang.
Langkah itu dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pada masa-masa awal bencana.
Pandangan dari Luar Daerah
PERHATIAN terhadap Aceh Tamiang juga datang dari masyarakat luar daerah.
Herman (50), warga Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mengaku mengikuti perkembangan penanganan bencana sejak awal.
Menurutnya, proses pemulihan di Aceh Tamiang memperlihatkan kerja sama yang kuat antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, aparat keamanan, relawan, serta masyarakat.
“Saya melihat pemerintah daerah terus bekerja sampai bantuan mulai diterima masyarakat. Mudah-mudahan proses pemulihan berjalan semakin baik,” ujarnya.
Kepercayaan yang Perlahan Kembali
BENCANA besar selalu menyisakan pekerjaan panjang.
Membangun rumah mungkin dapat dilakukan dalam hitungan bulan.
Namun memulihkan kehidupan masyarakat membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menilai kepercayaan masyarakat mulai kembali seiring masuknya berbagai bantuan dan mulai bergeraknya roda ekonomi.
Meski demikian, pekerjaan belum selesai.
Masih ada rumah yang harus dibangun kembali.
Masih ada infrastruktur yang harus dipulihkan.
Masih ada penyintas yang membutuhkan pendampingan.
Karena itu, pemerintah daerah berharap seluruh elemen masyarakat tetap menjaga semangat gotong royong hingga seluruh proses rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar tuntas.
Bencana ekologis yang melanda Aceh Tamiang telah mengubah wajah daerah itu. Luka fisik mungkin perlahan dapat dipulihkan melalui pembangunan kembali rumah, jalan, sekolah, dan fasilitas umum.
Namun, membangun kembali rasa aman dan harapan masyarakat membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Di tengah seluruh dinamika tersebut, proses pemulihan terus berjalan. Pemerintah pusat menyalurkan bantuan, pemerintah daerah mengawal pelaksanaannya, sementara masyarakat berusaha bangkit dari kehilangan yang mereka alami.
Perjalanan Aceh Tamiang belum berakhir. Tetapi satu hal mulai terlihat; di balik lumpur yang pernah menenggelamkan harapan, kini tumbuh keyakinan baru bahwa kehidupan dapat kembali dibangun, sedikit demi sedikit, melalui kerja bersama, ketekunan, dan semangat untuk tidak menyerah menghadapi bencana. [].







