“Event ini bukan sekadar ajang meraih medali, melainkan panggung kebangkitan bersama bagi seluruh warga Aceh Tamiang. Kami ingin menunjukkan bahwa Aceh Tamiang terus bergerak maju dan bangkit.”
[Ketua Panitia TORCH-II 2026]
- TORCH-II 2026 Menjadi Simbol Kebangkitan Olahraga, Silaturahmi, dan Optimisme Baru Aceh Tamiang Pascabencana
SUARA anak panah yang melesat silih berganti memecah keheningan Lapangan Sport Center Aceh Tamiang, Kecamatan Karang Baru, Minggu 26 Juli 2026.
Di atas hamparan lapangan yang beberapa bulan lalu sempat terdampak banjir, ratusan pemanah dari berbagai daerah kembali berkumpul.
Mereka datang bukan semata mengejar medali, melainkan menghadirkan harapan bahwa olahraga mampu menjadi ruang untuk bangkit bersama.
Selama dua hari, 25–26 Juli 2026, Tamiang Open Archery Championship (TORCH-II) 2026 menjadi lebih dari sekadar kompetisi panahan.
Ajang ini menjelma sebagai momentum mempererat persaudaraan, membangun optimisme, sekaligus menandai bangkitnya Aceh Tamiang setelah diterpa bencana.
Kejuaraan yang digelar atas rekomendasi resmi Pengurus Cabang Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI) Aceh Tamiang dan Pengurus Provinsi FESPATI Aceh tersebut diikuti 258 atlet dari berbagai klub, sekolah, pesantren, dan komunitas panahan di sejumlah daerah.
Filosofi yang diusung panitia pun mencerminkan semangat tersebut, yakni “10 persen kompetisi, 20 persen ngopi, dan 70 persen silaturahmi.”
Kalimat sederhana itu menjadi penegas bahwa olahraga tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang membangun hubungan antarsesama, memperluas jejaring, serta menumbuhkan semangat kebersamaan.
Ketua Panitia TORCH-II mengatakan penyelenggaraan kejuaraan ini merupakan bagian dari upaya membangkitkan kembali gairah olahraga sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui penyelenggaraan kegiatan berskala regional.
Menurutnya, kehadiran ratusan atlet beserta pelatih, ofisial, dan keluarga peserta memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, pedagang makanan, penyedia jasa, hingga sektor perhotelan di sekitar lokasi kegiatan.
“Event ini bukan sekadar ajang meraih medali, melainkan panggung kebangkitan bersama bagi seluruh warga Aceh Tamiang. Kami ingin menunjukkan bahwa Aceh Tamiang terus bergerak maju dan bangkit,” ujar Ketua Panitia TORCH-II.
Olahraga Menjadi Bagian dari Proses Pemulihan
PEMERINTAH Kabupaten Aceh Tamiang turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan TORCH-II 2026.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui pemulihan sarana olahraga yang sebelumnya terdampak banjir sehingga kembali layak digunakan sebagai lokasi pertandingan.
Dalam sambutannya saat membuka kejuaraan, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Aceh Tamiang, Farid, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendukung proses pemulihan pascabencana, termasuk melalui kegiatan olahraga.
Menurut Farid, sebelum kejuaraan dilaksanakan, pemerintah bersama berbagai pihak melakukan gotong royong membersihkan kawasan Sport Center agar dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.
Ia berharap penyelenggaraan event olahraga seperti TORCH-II dapat terus berlanjut sebagai bagian dari pembinaan atlet sekaligus membangkitkan semangat masyarakat setelah melewati masa sulit akibat bencana banjir.
Persaingan Ketat, Tuan Rumah Tampil Dominan
SELAMA dua hari pelaksanaan, TORCH-II mempertandingkan sembilan kategori yang terbagi ke dalam 20 sesi pertandingan.
Kategori yang diperlombakan meliputi Pelajar U-9 jarak 7 meter, Pelajar U-12 jarak 10 meter, Pelajar U-17 jarak 15 meter, Umum Putri jarak 25 meter, Umum Putra jarak 30 meter (Zamby), serta Umum Putra jarak 50 meter.
Selain memperebutkan medali dan sertifikat, para juara juga memperoleh uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih.
Pada akhir kompetisi, AWAK Archery Aceh Tamiang tampil sebagai Juara Umum setelah mengoleksi 11 medali, terdiri atas 4 emas, 3 perak, dan 4 perunggu.
Posisi kedua ditempati Johan Horseback Archery dengan raihan 2 medali emas dan 1 perunggu, sedangkan Bintang Muda Archery berada di peringkat ketiga melalui koleksi 1 emas dan 1 perak.
Empat medali emas bagi AWAK Archery dipersembahkan oleh Said Labib Khairy pada kategori Pelajar U-12 Putra, Rifa Afifah pada Pelajar U-12 Putri, Sayed Khabir Sauqi Al Idrus pada Pelajar U-17 Putra, serta Alliya Hafida Suar pada Pelajar U-17 Putri.
Pada kategori dewasa, medali emas diraih Sulastri dari Berantakan Archery Club pada nomor Umum Putri, Muhammad Satria Bangun dari Johan Horseback Archery pada nomor Umum Putra 30 meter, serta Muslim dari KPBI Sumatera Utara pada nomor Umum Putra 50 meter.
Lebih dari Sekadar Kejuaraan
DI BALIK setiap pertandingan, TORCH-II juga menjadi ruang bertemunya komunitas-komunitas panahan tradisional dari berbagai daerah.
Para atlet saling berbagi pengalaman, bertukar pengetahuan teknik memanah, hingga mempererat hubungan antarklub.
Suasana kompetitif tetap berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Canda, diskusi, dan kebersamaan mewarnai setiap jeda pertandingan, memperlihatkan bahwa olahraga mampu menjadi media pemersatu lintas usia dan daerah.
Bagi Aceh Tamiang, kejuaraan ini mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa daerah yang beberapa waktu lalu dilanda banjir kini perlahan kembali bangkit. Aktivitas olahraga, ekonomi masyarakat, dan ruang-ruang interaksi sosial mulai kembali hidup.
Setiap busur yang ditarik dan setiap anak panah yang melesat menuju sasaran seolah menjadi simbol tekad masyarakat Aceh Tamiang untuk melangkah ke depan.
TORCH-II 2026 bukan hanya mencatat nama-nama juara, tetapi juga memperlihatkan bagaimana olahraga mampu menjadi instrumen pemulihan sosial setelah bencana.
Dari arena panahan lahir optimisme baru, bahwa semangat gotong royong, persaudaraan, dan pembinaan generasi muda tetap tumbuh di tengah berbagai tantangan.
Keberhasilan penyelenggaraan TORCH-II menjadi bukti bahwa Aceh Tamiang tidak berhenti pada cerita tentang bencana. Daerah ini memilih menatap masa depan melalui prestasi, kebersamaan, dan kerja kolektif.
Dari Lapangan Sport Center Aceh Tamiang, anak-anak panah bukan sekadar melesat menuju sasaran. Ia juga membawa pesan bahwa harapan selalu menemukan jalannya untuk bangkit kembali.[]






