“Setiap anak adalah lentera bagi kehidupan dan bangsa ini. Tugas kita adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang inklusif, aman, dicintai, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.”
[Tomi Wahyu Alimsyah. Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field]
- Pertamina EP Rantau Field dan SLBN Pembina Aceh Tamiang Rayakan Hari Anak Nasional dengan Semangat Inklusi dan Kesetaraan
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi halaman Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang, Kamis, 30 Juli 2026.
Senyum tulus terpancar dari wajah-wajah anak berkebutuhan khusus yang sejak pagi telah bersiap menyambut tamu kehormatan.
Sebagian dari mereka berdiri rapi di sepanjang pintu masuk. Ada yang tersenyum malu, ada pula yang melambaikan tangan dengan penuh semangat.
Momen sederhana itu menjadi pembuka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar bersama PT Pertamina EP Rantau Field.
Perayaan bertema “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depannya” itu bukan sekadar seremoni tahunan.
Di balik rangkaian senam ceria, lomba mewarnai, pentas seni hingga pertunjukan bakat, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menghadirkan ruang yang setara bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.
Bahasa Isyarat yang Menghapus Sekat
SEBELUM acara dimulai, suasana menjadi hangat ketika Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, menyapa para siswa menggunakan bahasa isyarat.
Sapaan sederhana itu sontak mengundang tepuk tangan para guru dan orang tua. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, bahasa bukan lagi menjadi pembatas, melainkan jembatan yang menghadirkan kedekatan.
Dalam sambutannya, Tomi menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkembang tanpa diskriminasi.
“Setiap anak adalah lentera bagi kehidupan dan bangsa ini. Mereka memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan. Tugas kita bersama memastikan setiap anak memperoleh lingkungan yang inklusif, kasih sayang, perlindungan, pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan mengembangkan potensi terbaiknya,” ujar Tomi Wahyu Alimsyah.
Ia menjelaskan, Pertamina EP Rantau Field secara konsisten menjalankan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang berorientasi pada perlindungan dan pemenuhan hak anak, khususnya bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir perusahaan telah berkolaborasi dengan SLBN Pembina Aceh Tamiang melalui berbagai program pendidikan yang bertujuan menciptakan kesempatan belajar yang setara.
Program tersebut mencakup penguatan kapasitas guru, pengembangan Kelas Berdaya, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak.
“Program ini merupakan bentuk keberpihakan kami agar anak-anak berkebutuhan khusus tetap memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, berkarya, dan mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki,” katanya.
Panggung untuk Mereka Bersinar
SEDIKITNYA 120 siswa berkebutuhan khusus, didampingi orang tua serta sekitar 70 tenaga pendidik, mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional.
Peserta berasal dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB.
Beragam penampilan dipersembahkan, mulai dari tarian, pertunjukan seni, fashion show, hingga unjuk bakat yang memukau para tamu undangan.
Tak sedikit yang mengaku terharu melihat semangat anak-anak tampil percaya diri di atas panggung.
Mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.
Lagu untuk Sang Ayah
PUNCAK haru terjadi ketika Sayed Rahmad Tuikram, siswa tunanetra SLBN Pembina Aceh Tamiang, tampil membawakan beberapa lagu.
Suaranya yang merdu membuat seluruh ruangan hening.
Saat lagu “Ayah” berkumandang, suasana berubah emosional. Sejumlah tamu tampak menundukkan kepala, sementara sebagian lainnya menyeka air mata.
Bagi Sayed, lagu itu bukan sekadar penampilan.
Sejak kehilangan ayahnya pada usia enam tahun akibat penyakit kelenjar getah bening, ia tumbuh sebagai anak yatim yang menjadikan lantunan ayat suci Al-Qur’an sebagai cara melepas rindu kepada sosok ayahnya.
Di balik keterbatasannya, Sayed justru menunjukkan prestasi membanggakan.
Berkat dukungan lingkungan belajar yang inklusif di SLBN Pembina Aceh Tamiang, ia berhasil meraih Juara I Vocal Solo Putra Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Provinsi Aceh.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan yang sama mampu melahirkan capaian luar biasa.
Kesaksian Seorang Ibu
MOMENTUM Hari Anak Nasional juga menghadirkan kisah menyentuh dari Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua TP Posyandu Provinsi Aceh, Marlina Muzakir.
Di hadapan para orang tua, ia mengisahkan pengalaman pribadi membesarkan anak berkebutuhan khusus yang telah berpulang pada usia 23 tahun.
Dengan suara bergetar, Marlina mengaku memahami perjuangan para orang tua yang setiap hari mendampingi anak-anak mereka.
“Allah juga pernah menitipkan kepada saya seorang anak berkebutuhan khusus. Saya memahami apa yang dirasakan para ibu karena saya pun menjadi ibu sekaligus guru bagi anak saya di rumah,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pada masa konflik Aceh, sekolah luar biasa masih sangat terbatas.
Kini, keberadaan SLBN di berbagai daerah menjadi harapan baru bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Karena itu, Marlina mendukung perluasan akses pendidikan inklusif melalui pembangunan SLBN di lebih banyak kabupaten dan kota.
“Saya sebenarnya dijadwalkan memperingati Hari Anak Nasional di Banda Aceh. Namun saya memilih hadir di Aceh Tamiang karena pernah berjanji akan kembali ke sekolah ini. Saya bahagia melihat anak-anak tampil penuh percaya diri memperlihatkan kreativitas mereka,” katanya.
Komitmen Berkelanjutan
PERTAMINA EP Rantau Field menegaskan akan terus menjalankan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) secara berkelanjutan pada sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga tanggap bencana.
Perusahaan yang berada di bawah naungan Pertamina Hulu Rokan Zona 1 itu mengelola kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Provinsi Aceh di bawah koordinasi SKK Migas Perwakilan Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) serta Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).
Wilayah operasionalnya mencakup empat kabupaten/kota, empat kecamatan, dan 20 desa.
Melalui berbagai program sosial tersebut, perusahaan berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang mandiri sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
HARI Anak Nasional di SLBN Pembina Aceh Tamiang berakhir dengan senyum dan pelukan hangat.
Di balik setiap tawa anak-anak itu, tersimpan harapan besar bahwa mereka akan terus memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih cita-cita.
Sebab, ukuran masa depan seorang anak bukan ditentukan oleh keterbatasan yang dimilikinya, melainkan oleh seberapa besar ruang yang diberikan masyarakat untuk tumbuh dan berkembang.
Dan pada hari itu, di sebuah sekolah luar biasa di Aceh Tamiang, ruang itu terasa nyata.[]








