Dari Kursi Roda Menuju Sekolah Lapang

oleh

“Yang terpenting bukan sekadar menghasilkan melon yang besar, tetapi bagaimana ilmu bertani itu bisa diwariskan kepada generasi muda agar mereka mampu hidup dari pertanian.”

[Chaidir Saleh. Petani Melon Golden Alisha dan Mentor Sekolah Lapang]

  • Chaidir Saleh Menularkan Rahasia Melon Golden Alisha, Melahirkan Petani Milenial Baru di Aceh Tamiang

Sore itu, sinar matahari masih hangat menyelimuti hamparan kebun melon di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru.

Di antara ratusan polybag yang tertata rapi, dua perempuan tampak tekun menggemburkan media tanam.

Tanah dicampur sekam bakar dan pupuk kandang sebagai persiapan memasuki musim tanam berikutnya setelah banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025.

Di sudut kebun, seorang pria berusia 62 tahun mengamati setiap proses dengan saksama. Sesekali ia memberikan arahan kepada belasan anak muda yang mengikuti Sekolah Lapang.

Dialah Chaidir Saleh, petani melon yang pernah berkali-kali gagal, sempat terserang stroke ringan, namun kini justru menjadi guru bagi generasi petani baru.

Merintis dari Nol, Berkali-kali Gagal

“Fermentasi tanah cukup dilakukan pada bagian atas polybag. Campurkan sekam bakar dengan pupuk kandang agar struktur tanah tetap gembur,” ujar Chaidir sambil menunjukkan teknik pengolahan media tanam kepada para peserta pelatihan.

KEBUN miliknya berada tidak jauh dari Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7) Pertamina EP Field Rantau. Di atas lahan seluas tiga rante atau sekitar 1.200 meter persegi, ratusan tanaman Melon Golden Alisha F1 tumbuh subur menggunakan sistem budidaya polybag berukuran 50 x 60 sentimeter.

Seluruh lahan dimanfaatkan secara optimal. Jarak antartanaman dibuat rapat, sedangkan jalur antarbaris sekitar 1,5 meter untuk memudahkan perawatan. Beberapa ruas batang dan daun dipangkas agar nutrisi tanaman lebih terfokus pada pembesaran buah.

“Pemangkasan dilakukan supaya perkembangan buah lebih mudah dipantau, baik jumlah maupun bentuknya,” kata Chaidir.

Perjalanan menuju keberhasilan tidak diraih dalam waktu singkat. Ia mengaku pernah mengalami empat kali kegagalan saat mulai membudidayakan melon.

Namun, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Secara otodidak, Chaidir terus mempelajari teknik budidaya hingga akhirnya kembali mencoba menanam pada 2020.

Panen pertamanya memang berhasil. Akan tetapi, rasa buah masih hambar sehingga hanya bisa dijual kepada agen dengan harga di bawah pasar.

Bagi Chaidir, panen pertama tetap menjadi pencapaian penting.

“Yang terpenting waktu itu saya sudah berhasil panen. Tinggal mencari bagaimana menghasilkan melon yang manis,” kenangnya.

Menemukan Formula Rasa Manis

RASA penasaran mendorong Chaidir terus melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman.

Ia menemukan bahwa kualitas rasa tidak hanya dipengaruhi pemupukan, tetapi juga umur panen.

Jika umumnya melon dipanen pada usia sekitar 55 hari, Chaidir justru membiarkan buah tetap berada di pohon hingga berumur 60 sampai 70 hari dengan pengaturan nutrisi yang tepat sejak fase vegetatif.

Hasilnya mulai terlihat.

Melon yang dipanen memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi sehingga diminati konsumen.

Sejak saat itu, permintaan terus meningkat. Penjualan melalui media sosial berkembang pesat. Bahkan, sejumlah pusat perbelanjaan dan swalayan mulai memesan hasil panennya.

Sayangnya, kapasitas produksi belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.

Stroke Tak Menghentikan Semangat

COBAAN kembali datang pada Desember 2024.

Chaidir mengalami stroke ringan yang membuat aktivitas bertaninya terhenti sementara dan harus menggunakan kursi roda.

Di tengah keterbatasan tersebut, Pertamina EP Field Rantau hadir melalui Program Smart Agriculture Melonesia.

Program pemberdayaan itu tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan usaha Chaidir, tetapi juga membuka ruang agar pengalaman panjangnya dapat diwariskan kepada generasi muda.

Kini, Chaidir dipercaya menjadi mentor Kelompok Tani Melon Mutiara sekaligus pengajar dalam Sekolah Lapang.

Di hadapan para petani milenial, ia membagikan berbagai pengalaman, mulai dari teknik budidaya, pengelolaan nutrisi tanaman hingga formula menghasilkan melon dengan cita rasa manis.

Salah satu inovasi yang diperkenalkannya ialah penggunaan media tanam polybag secara berulang.

Jika praktik budidaya konvensional umumnya hanya mampu menggunakan media tanam dua hingga empat kali, metode Chaidir memungkinkan media yang sama dimanfaatkan hingga 22 kali masa tanam.

Dengan biaya sekitar Rp8.000 untuk setiap polybag, penggunaan berulang membuat biaya media tanam setiap siklus hanya berkisar Rp400 hingga Rp500.

Efisiensi tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan keuntungan petani.

Menyiapkan Generasi Baru Petani

MANAGER Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Field Rantau.

Menurut dia, pengalaman panjang Chaidir menjadi modal penting dalam proses transfer pengetahuan kepada generasi muda.

“Bapak Chaidir Saleh memiliki pengalaman panjang sebagai petani. Beliau akan menjadi mentor dalam 12 kali pertemuan Sekolah Lapang untuk membagikan teknik budidaya melon kepada peserta,” ujar Iwan.

Ia menilai regenerasi petani menjadi salah satu tantangan utama sektor pertanian saat ini.

Karena itu, kemampuan generasi muda perlu diperkuat agar mampu melihat pertanian sebagai sektor ekonomi yang menjanjikan.

“Program ini bukan sekadar kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Kami berharap Melon Golden dapat menjadi ikon kebanggaan baru bagi Aceh Tamiang,” katanya.

Tentang Pertamina EP Field Rantau

PT PERTAMINA EP Field Rantau merupakan salah satu wilayah kerja di bawah Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 yang menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi di Provinsi Aceh.

Kegiatan operasional perusahaan berada di bawah koordinasi dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) serta Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Wilayah operasionalnya tersebar di empat kabupaten/kota yang meliputi empat kecamatan dan 20 desa.

Melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM), Pertamina EP Field Rantau mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan pada sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta penanggulangan bencana sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

Di tengah keterbatasan fisik akibat stroke, Chaidir Saleh membuktikan bahwa semangat tidak pernah mengenal usia.

Kebun melon yang dahulu dibangun dengan kerja keras kini tidak hanya menghasilkan buah berkualitas, tetapi juga melahirkan harapan baru bagi regenerasi petani di Aceh Tamiang.

Melalui Sekolah Lapang, pengalaman yang lahir dari kegagalan, ketekunan, dan keberanian mencoba terus diwariskan.

Sebab, keberhasilan sejati seorang petani bukan hanya diukur dari banyaknya hasil panen, melainkan dari seberapa banyak ilmu yang mampu ditanamkan kepada generasi berikutnya.[]

No More Posts Available.

No more pages to load.