[Ustaz Dede Nujana, Eks Napiter Aceh Tamiang]
“Mengibarkan Bendera Merah Putih bukan hanya tradisi setiap Agustus. Itu adalah penghormatan kepada jasa para pahlawan dan wujud cinta kepada NKRI. Mari kita jaga persatuan, rawat keberagaman, dan isi kemerdekaan dengan kedamaian.”
- Eks Napiter Aceh Tamiang Mengajak Masyarakat Mengibarkan Bendera sebagai Simbol Cinta NKRI
Kemerdekaan bukan sekadar peringatan yang datang setiap bulan Agustus. Di balik berkibarnya Merah Putih, tersimpan kisah pengorbanan, perjuangan, sekaligus perjalanan panjang bangsa untuk menjaga persatuan.
Bagi sebagian orang, nasionalisme mungkin lahir dari bangku sekolah atau lingkungan keluarga.
Namun bagi Ustaz Dede Nujana, mantan narapidana kasus terorisme (eks napiter) asal Kabupaten Aceh Tamiang, kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) justru lahir dari proses perenungan, pembelajaran, dan perubahan hidup yang tidak mudah.
Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ia berdiri di hadapan masyarakat dengan sebuah pesan sederhana, tetapi sarat makna [kibarkanlah Bendera Merah Putih sebagai simbol persatuan bangsa].
Dari Jalan Kelam Menuju Merah Putih
MENYAMBUT Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mantan narapidana kasus terorisme (eks napiter) Kabupaten Aceh Tamiang, Ustaz Dede Nujana, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di rumah, lingkungan permukiman, perkantoran, sekolah, hingga tempat usaha.
Ajakan tersebut bukan sekadar seruan seremonial menjelang peringatan kemerdekaan, melainkan refleksi atas perjalanan hidup seseorang yang pernah berada di jalan yang salah, kemudian memilih kembali kepada nilai-nilai kebangsaan dan persatuan Indonesia.
Menurut Ustaz Dede Nujana, Bendera Merah Putih bukan hanya kain berwarna merah dan putih yang dikibarkan setiap bulan Agustus.
Lebih dari itu, bendera merupakan simbol pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan darah, air mata, dan jiwa raga.
“Mengibarkan Bendera Merah Putih bukan sekadar tradisi tahunan. Itu adalah bentuk penghormatan kepada para pahlawan sekaligus wujud rasa cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita jaga persatuan dan bersama-sama membangun bangsa ini,” ujar Ustaz Dede Nujana.
Ia mengatakan, momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat persaudaraan antarsesama warga negara, tanpa memandang latar belakang, suku, agama, maupun pilihan politik.
Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman. Oleh karena itu, setiap perbedaan harus dipandang sebagai kekuatan untuk memperkokoh persatuan, bukan sebaliknya menjadi alasan untuk saling memecah belah.
“Bangsa ini besar karena mampu menjaga kebersamaan. Perbedaan adalah anugerah yang harus dirawat. Jangan biarkan kebencian merusak persaudaraan yang telah diwariskan para pendiri bangsa,” katanya.
Perjalanan hidup Ustaz Dede Nujana menjadi bukti bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Masa lalu yang pernah membawanya berhadapan dengan hukum kini dijadikan pelajaran berharga agar tidak terulang, baik bagi dirinya maupun generasi muda.
Kini, ia lebih memilih mengabdikan diri melalui dakwah yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan persatuan.
Baginya, Islam mengajarkan kasih sayang, menjaga keamanan, serta menghormati negara sebagai bagian dari ikhtiar menciptakan kemaslahatan bersama.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, ia berharap semangat nasionalisme tidak berhenti pada pemasangan bendera atau berbagai perlombaan semata.
Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu menjaga persatuan, saling menghormati, dan menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing sehingga seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh semangat kebangsaan.
Menurutnya, menjaga keamanan merupakan tanggung jawab bersama. Kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan besar harus diisi melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Ajakan tersebut menjadi semakin bermakna karena datang dari seseorang yang pernah mengalami fase kehidupan penuh konflik, tetapi kemudian memilih kembali memeluk nilai-nilai kebangsaan.
Perubahan itu menunjukkan bahwa proses deradikalisasi bukan sekadar program pemerintah, melainkan perjalanan batin yang membutuhkan kesadaran, dukungan keluarga, masyarakat, serta kesempatan untuk memulai kehidupan baru.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, pesan Ustaz Dede Nujana menjadi pengingat bahwa cinta tanah air dapat tumbuh dalam diri siapa saja.
Masa lalu tidak harus menjadi hukuman seumur hidup apabila seseorang memiliki kemauan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Momentum Hari Kemerdekaan pun menjadi ruang refleksi bahwa persatuan Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang sempurna, melainkan oleh mereka yang bersedia belajar dari kesalahan, saling memaafkan, dan bersama-sama menjaga rumah besar bernama Indonesia.
Ketika Merah Putih berkibar di setiap sudut kampung, sekolah, kantor, dan rumah warga, yang sesungguhnya sedang dikibarkan bukan hanya selembar bendera.
Di sana berkibar harapan, rekonsiliasi, dan keyakinan bahwa persatuan akan selalu menjadi fondasi utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sang Saka Merah Putih
TIDAK semua orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki jalan hidupnya.
Namun ketika kesempatan itu datang, pilihan untuk kembali kepada nilai-nilai kebangsaan adalah keberanian yang patut dihargai.
Kisah Ustaz Dede Nujana mengajarkan bahwa nasionalisme tidak selalu lahir dari mereka yang tidak pernah salah. Justru, dalam banyak keadaan, cinta kepada Indonesia tumbuh paling kuat setelah seseorang memahami arti kehilangan, penyesalan, dan pentingnya hidup berdampingan dalam damai.
Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ajakan mengibarkan Bendera Merah Putih menjadi lebih dari sekadar seruan simbolik.
Ia menjadi pesan bahwa Merah Putih adalah lambang persatuan, pengingat sejarah, sekaligus harapan bahwa setiap anak bangsa [apa pun masa lalunya] dapat mengambil bagian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]






