“Menjadi juara adalah bonus. Yang paling utama adalah membentuk karakter, disiplin, dan akhlak yang baik. Kami berharap setiap anak yang belajar memanah dapat tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.”
[AIPTU M. Ikwan Suar, S.H].
- Dedikasi AIPTU M. Ikwan Suar, S.H. Membina Generasi Muda Aceh Tamiang Melalui AWAK Archery
Di tengah rutinitas sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia, tidak semua pengabdian diwujudkan melalui seragam, peluit, atau penegakan hukum di jalan raya.
Ada pula pengabdian yang tumbuh di lapangan latihan, ketika sebatang anak panah dilepaskan dengan penuh konsentrasi, mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan pengendalian diri kepada generasi muda.
Pengabdian itulah yang selama ini dijalankan AIPTU M. Ikwan Suar, S.H., Ps. Kaur Mintu Satlantas Polres Aceh Tamiang.
Di luar tugas kedinasannya, ia memilih mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membangun AWAK Archery Aceh Tamiang, sebuah klub panahan yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjadikan pembinaan karakter sebagai fondasi utama.
Mengukir Karakter Lewat Busur dan Anak Panah
KETIKA sebagian orang menghabiskan waktu luang untuk beristirahat selepas bertugas, AIPTU M. Ikwan Suar justru memilih berada di lapangan panahan.
Di sana, ia berdiri bukan sebagai aparat penegak hukum, melainkan sebagai seorang pelatih yang sabar membimbing anak-anak dan remaja agar mengenal arti disiplin, tanggung jawab, serta sportivitas.
Bagi pria yang sehari-hari mengemban amanah sebagai Ps. Kaur Mintu Satlantas Polres Aceh Tamiang itu, olahraga bukan sekadar ajang kompetisi.
Panahan adalah media pendidikan karakter yang mampu membentuk pribadi tangguh, sabar, serta memiliki kemampuan mengendalikan emosi.
Atas dasar pemikiran tersebut, ia membangun AWAK Archery Aceh Tamiang sebagai ruang belajar yang terbuka bagi generasi muda.
Di tempat itulah para atlet tidak hanya diajarkan teknik memegang busur, membidik sasaran, atau melepaskan anak panah secara presisi, tetapi juga diajarkan menghormati sesama, mematuhi aturan, serta menghargai setiap proses latihan.
Menurutnya, keberhasilan seorang atlet tidak diukur semata-mata dari jumlah medali yang diraih, melainkan dari karakter yang terbentuk selama menjalani proses pembinaan.
Komitmen tersebut dijalankan secara konsisten. Latihan dilaksanakan secara terprogram dengan pendekatan yang menyeimbangkan kemampuan teknik, mental bertanding, dan pembinaan akhlak.
Setiap atlet dibiasakan untuk datang tepat waktu, menjaga disiplin, menghormati pelatih maupun rekan satu tim, serta memiliki semangat pantang menyerah.
Pendekatan itu perlahan membuahkan hasil.
Sepanjang tahun 2026, atlet-atlet AWAK Archery Aceh Tamiang berhasil menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam berbagai kejuaraan panahan.
Mereka sukses mengoleksi 40 medali, terdiri atas 14 medali emas, 12 medali perak, dan 14 medali perunggu.
Seluruh raihan tersebut diperoleh melalui empat ajang bergengsi, yakni Langkat Memanah 9, Kompetisi Panah Indonesia Sumatera Utara, Binjai Archery Championship II, dan TORCH II Aceh Tamiang.
Prestasi tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan mampu melahirkan atlet-atlet muda yang memiliki daya saing di tingkat regional.
Di balik keberhasilan para atlet, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat publik. Berjam-jam latihan dilakukan secara rutin dengan evaluasi teknik yang disiplin.
Kesalahan kecil dalam posisi tubuh, keseimbangan, hingga cara menarik tali busur menjadi bagian dari pembelajaran yang terus diperbaiki.
Bagi AIPTU M. Ikwan Suar, keberhasilan tidak pernah datang secara instan. Ia meyakini bahwa disiplin dan konsistensi merupakan kunci utama dalam membentuk atlet berprestasi.
Pengalaman yang dimilikinya turut menjadi modal penting dalam proses pembinaan tersebut.
Ia pernah mengikuti Pelatihan Pelatih di Kota Binjai, serta memiliki pengalaman mengikuti berbagai kejuaraan horsebow archery di tingkat nasional maupun internasional.
Dari sejumlah kejuaraan itu, ia juga berhasil meraih berbagai penghargaan dan medali.
Pengalaman tersebut kemudian ditransformasikan kepada para atlet melalui metode latihan yang lebih sistematis dan terukur.
Kini, hasil pembinaan mulai terlihat dari lahirnya atlet-atlet muda berprestasi. Di antara mereka terdapat Rifa Afifah yang berhasil mengoleksi tujuh medali, Alliya Hafida Suar dengan enam medali, Said Labib Khairy meraih empat medali, Sayed Khabir Sauqi Al Idrus menyumbangkan tiga medali emas, serta Khayla Sakhi yang mengoleksi empat medali.
Prestasi tersebut bukan sekadar kebanggaan bagi klub, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Aceh Tamiang karena menunjukkan bahwa daerah memiliki potensi atlet panahan yang mampu bersaing di berbagai kompetisi.
Dalam menjalankan pembinaan, AIPTU M. Ikwan Suar tidak bekerja sendiri. Ia didampingi Coach Rahmadana, pelatih SIGAP Cabang Olahraga Persatuan Berkuda Memanah (PBM), sehingga proses latihan dapat berlangsung lebih optimal melalui kolaborasi pengalaman dan kompetensi masing-masing pelatih.
Keduanya memiliki harapan yang sama, yakni menjadikan AWAK Archery Aceh Tamiang sebagai pusat pembinaan atlet yang mampu melahirkan generasi berprestasi sekaligus memiliki karakter yang kuat.
Lebih jauh lagi, keberadaan klub ini diharapkan menjadi ruang positif bagi anak-anak dan remaja agar memiliki aktivitas yang produktif serta terhindar dari berbagai pengaruh negatif di lingkungan sosial.
Di tengah perkembangan zaman yang menghadirkan berbagai tantangan bagi generasi muda, olahraga dinilai menjadi salah satu sarana efektif dalam membangun karakter, memperkuat mental, serta menumbuhkan rasa percaya diri.
Karena itulah, setiap keberhasilan atlet tidak pernah dipandang sebagai tujuan akhir. Medali hanyalah simbol dari proses panjang yang dilalui dengan kerja keras, latihan, dan kedisiplinan.
Nilai-nilai itulah yang terus ditanamkan kepada seluruh atlet AWAK Archery Aceh Tamiang.
Bagi AIPTU M. Ikwan Suar, seorang pelatih memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar daripada sekadar mengantarkan atlet menuju podium juara.
Seorang pelatih juga berkewajiban membentuk manusia yang memiliki akhlak baik, menghormati orang tua, mencintai daerahnya, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, panahan bukan lagi sekadar olahraga, melainkan menjadi sarana pendidikan karakter yang membentuk generasi muda agar tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab.
Jejak pengabdian itu menjadi bukti bahwa seorang anggota Polri dapat menjalankan peran sosial yang luas di tengah masyarakat.
Tidak hanya menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga turut membangun masa depan daerah melalui pembinaan olahraga yang berkelanjutan.
Dedikasi itu pula yang menjadikan AWAK Archery Aceh Tamiang terus berkembang sebagai wadah pembinaan atlet muda yang diharapkan mampu mengharumkan nama Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, hingga Indonesia pada berbagai kejuaraan di masa mendatang.
Melesat Jauh Melampaui Podium Kejuataan
BUSUR dapat melesatkan anak panah hingga mengenai sasaran. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan melalui olahraga mampu melesat jauh melampaui podium kejuaraan.
Di tangan seorang pelatih yang mengedepankan keteladanan, setiap latihan menjadi ruang pembelajaran tentang kesabaran, tanggung jawab, dan integritas.
Jejak pengabdian AIPTU M. Ikwan Suar, S.H. menunjukkan bahwa membangun generasi muda tidak selalu dilakukan dari balik meja atau ruang kelas.
Terkadang, perubahan besar justru lahir dari sebuah lapangan latihan sederhana, ketika seorang pelatih dengan tulus mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal medali, melainkan tentang menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.[]







