Aspal Baru, Nadi Lintas Timur Kembali Berdenyut

oleh

“Dengan kualitas jalan yang baik, tentu saja akan berpengaruh pada semua sektor, terutama pengguna transportasi dan pedagang keliling yang menjajakan dagangannya.”

[Ismail, SE.I. Wakil Bupati Aceh Tamiang].

  • Dari Peureulak, Langsa hingga Perbatasan Sumatera Utara, Jalan Nasional yang Mulus Membuka Kembali Arus Orang, Barang, dan Harapan. Di balik hamparan aspal baru terdapat investasi APBN, pekerjaan konstruksi, pengawasan mutu, dan kepentingan ribuan pengguna jalan. Bagi masyarakat, manfaatnya sederhana: perjalanan lebih aman, lalu lintas lebih lancar, dan aktivitas ekonomi kembali bergerak.

Pagi belum terlalu tinggi ketika kendaraan mulai memadati lintasan timur Aceh.

Mobil pribadi, sepeda motor, angkutan barang, kendaraan niaga hingga pedagang keliling bergerak dalam arus yang perlahan mengalir dari satu daerah ke daerah lainnya.

Dulu, lubang di badan jalan menjadi bagian yang harus diwaspadai.

Pengendara memperlambat laju kendaraan. Sebagian memilih mengambil sisi jalan yang dianggap lebih aman.

Truk dan kendaraan angkutan barang harus berhati-hati agar tidak menghantam lubang yang dapat merusak ban, velg, bahkan mengancam keselamatan.

Kini pemandangan itu mulai berubah.

Permukaan jalan yang sebelumnya rusak di sejumlah titik telah ditangani. Hamparan aspal baru membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Kendaraan dapat melaju lebih lancar. Kekhawatiran terhadap lubang jalan pun berkurang.

Bagi pemerintah, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari penanganan jaringan jalan nasional.

Bagi masyarakat, maknanya jauh lebih sederhana. Jalan mulus berarti perjalanan lebih aman.

Namun di balik permukaan aspal yang terlihat hitam dan rata, terdapat cerita yang lebih panjang; tentang uang negara, perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan mutu, dan tanggung jawab memastikan infrastruktur yang dibangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jalan yang Kembali Mulus

RUAS JALAN nasional yang membentang dari Peureulak–Langsa–Kuala Simpang hingga Perbatasan Sumatera Utara merupakan salah satu koridor penting di bagian timur Aceh.

Jalur ini bukan hanya digunakan masyarakat untuk bepergian dari satu daerah ke daerah lain.

Ia menjadi lintasan distribusi barang, kendaraan logistik, hasil perkebunan, kebutuhan pokok, aktivitas perdagangan, hingga mobilitas masyarakat yang bekerja dan bersekolah.

Ketika kondisi jalan terganggu, efeknya tidak berhenti pada pengendara.

Waktu tempuh bertambah. Kendaraan bekerja lebih berat. Biaya operasional meningkat. Risiko kecelakaan juga ikut membesar.

Sebaliknya, ketika jalan kembali mantap, manfaatnya bergerak secara berantai.

Perjalanan menjadi lebih lancar. Distribusi barang lebih cepat. Kendaraan dapat beroperasi lebih efisien. Pedagang keliling lebih mudah menjangkau pelanggan.

Di titik inilah pembangunan jalan berubah dari sekadar pekerjaan konstruksi menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat.

“Sekarang Tidak Takut Lagi”

BAGI Farida Hanum (50), warga Karang Baru, kondisi jalan yang semakin baik memberikan rasa nyaman dalam perjalanan.

Ia mengatakan jalan yang sebelumnya memiliki lubang di sejumlah titik membuat pengendara harus lebih berhati-hati.

Kini, kondisi tersebut jauh lebih baik.

“Kami tentu senang melihat jalan sudah bagus dan mulus. Kalau sebelumnya ada lubang, kita harus menghindar dan kadang waswas ketika kendaraan dari arah berlawanan juga melintas. Sekarang perjalanan terasa lebih nyaman,” kata Farida.

Menurutnya, jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan.

Keselamatan pengguna jalan juga menjadi pertimbangan utama.

“Yang paling penting bagi kami, jangan sampai jalan rusak dan berlubang menyebabkan kecelakaan. Kalau jalannya bagus, kita juga lebih tenang saat bepergian,” ujarnya.

Perasaan serupa disampaikan Ibrahim (30), warga Kampung Alur Baung.

Baginya, jalan yang mulus membuat perjalanan sehari-hari menjadi lebih mudah.

“Kalau jalan bagus, kita tidak perlu lagi terlalu khawatir dengan lubang. Kendaraan juga lebih nyaman dibawa. Apalagi kalau malam atau hujan, kondisi jalan yang baik sangat membantu,” kata Ibrahim.

Ia berharap perbaikan tidak berhenti setelah aspal selesai dikerjakan.

“Mudah-mudahan jalan yang sudah bagus ini dirawat. Jangan sampai beberapa tahun kemudian kembali berlubang dan masyarakat harus menghadapi persoalan yang sama,” katanya.

Bagi Pedagang, Jalan Adalah Penghidupan

BAGI sebagian orang, jalan adalah tempat kendaraan melintas.

Bagi pedagang keliling, jalan adalah bagian dari mata pencaharian.

Barang dagangan harus dibawa dari satu tempat ke tempat lain. Semakin lancar perjalanan, semakin luas pula wilayah yang dapat dijangkau.

Destian (45), warga Kota Kuala Simpang, melihat perbaikan jalan dari sudut yang berbeda.

Menurutnya, jalan yang baik membantu pedagang dan pelaku usaha kecil bergerak lebih cepat.

“Kalau jalan mulus, pedagang yang berkeliling juga lebih mudah membawa dagangan. Waktu perjalanan lebih singkat dan kendaraan tidak cepat rusak,” kata Destian.

Ia menyebut kondisi jalan yang baik juga memberikan rasa aman bagi masyarakat yang harus melakukan perjalanan cukup jauh.

“Bukan hanya pedagang. Semua pengguna jalan pasti merasakan manfaatnya. Kita bisa bepergian lebih nyaman dan tidak terlalu khawatir dengan lubang yang tiba-tiba muncul,” ujarnya.

Bagi masyarakat seperti Destian, manfaat pembangunan jalan tidak selalu dihitung dalam angka.

Ia dirasakan dari hal-hal sederhana: kendaraan lebih nyaman, perjalanan lebih cepat, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu oleh kondisi jalan.

Dari Aspal Ke Pergerakan Ekonomi

MANFAAT pembangunan jalan nasional tidak berhenti pada permukaan jalan.

Ada efek berantai yang mengikuti.

Ketika kendaraan dapat bergerak lebih lancar, distribusi barang menjadi lebih efisien. Ketika distribusi lebih cepat, aktivitas perdagangan ikut bergerak.

Dari luar Aceh, barang dan kebutuhan masyarakat dapat masuk lebih lancar.

Sebaliknya, berbagai komoditas dari Aceh dapat bergerak menuju pasar di wilayah lain, termasuk Sumatera Utara.

Jalur Peureulak–Langsa–Kuala Simpang–Perbatasan Sumatera Utara karena itu memiliki fungsi strategis sebagai penghubung aktivitas ekonomi antarwilayah.

Jalan yang baik memperpendek waktu.

Waktu yang lebih singkat menekan biaya.

Biaya yang lebih efisien memberi ruang bagi aktivitas ekonomi untuk tumbuh.

Efeknya dapat dirasakan oleh pengemudi angkutan, pedagang, petani, pelaku UMKM, pekerja, hingga masyarakat yang membutuhkan akses terhadap layanan publik.

APBN Di Balik Aspal 

DI BALIK jalan yang kembali mulus terdapat anggaran negara yang harus dikelola secara transparan dan akuntabel.

Ruas tersebut merupakan bagian dari jaringan jalan nasional, sehingga penanganannya berada dalam kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.

Dalam dokumen pemaketan yang telah ditelusuri, salah satu paket penanganan permanen pada ruas Peureulak–Batas Kota Langsa/Aceh Timur–Kota Langsa tercatat sepanjang 12,33 kilometer dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp129,45 miliar dalam skema tahun jamak 2026–2027.

Alokasi yang tercatat terdiri atas sekitar Rp98,91 miliar untuk 2026 dan Rp30,55 miliar untuk 2027.

Namun angka tersebut perlu ditempatkan secara tepat.

Nilai pemaketan atau kebutuhan anggaran tidak otomatis sama dengan nilai kontrak.

Dalam membaca penggunaan APBN, terdapat beberapa angka yang harus dipisahkan: pagu, HPS, nilai penunjukan, nilai kontrak, dan realisasi pembayaran.

Pemisahan itu penting agar pemberitaan tidak keliru menyebut seluruh nilai pemaketan sebagai uang yang telah dibayarkan kepada penyedia.

Waskita Dan Jejak Pekerjaan

DALAM penelusuran dokumen yang tersedia, PT Waskita Karya (Persero) Tbk teridentifikasi terkait dengan pekerjaan penanganan jalan nasional pada ruas Peureulak–Batas Kota Langsa.

Sistem penanganan bencana Kementerian PU mencatat aktivitas pekerjaan pada ruas tersebut dan menyebut koordinasi dengan Waskita Karya dalam sejumlah kegiatan.

Proyek penanganan mendesak ruas Peureulak–Batas Kota Langsa/Aceh Timur juga tercantum dalam pelaporan perusahaan Waskita Karya.

Namun, prinsip kehati-hatian jurnalistik tetap diperlukan.

Keterlibatan Waskita dalam pekerjaan tidak boleh serta-merta dimaknai bahwa Rp129,45 miliar merupakan nilai kontrak Waskita.

Nilai kontrak harus dibuktikan melalui dokumen primer seperti SPPBJ, SPMK dan kontrak pekerjaan.

Demikian pula, mekanisme penanganan dalam kondisi darurat harus dilihat berdasarkan dokumen pengadaan dan dasar hukum yang berlaku.

Ada Uang Negara, Ada Tanggung Jawab

PERCEPATAN pembangunan pascabencana memiliki alasan kepentingan publik yang kuat.

Masyarakat membutuhkan jalan segera kembali berfungsi.

Distribusi bantuan harus berjalan.

Aktivitas ekonomi harus dipulihkan.

Namun percepatan tidak berarti menghilangkan kewajiban pengawasan.

Justru karena menggunakan uang negara dan dilakukan dalam situasi yang membutuhkan percepatan, setiap tahapan tetap perlu dapat dipertanggungjawabkan.

Mulai dari perencanaan, pengadaan, desain, volume pekerjaan, mutu material, pelaksanaan, pembayaran hingga serah terima.

Karena itu, sejumlah dokumen menjadi penting dalam melihat proyek secara utuh:

SPPBJ, SPMK, kontrak, HPS, RAB, BOQ, gambar rencana, STA, spesifikasi teknis, RMPK, ITP, laporan progres, dokumen pembayaran, addendum, PHO dan FHO.

Dokumen-dokumen tersebut bukan sekadar administrasi.

Di sanalah publik dapat melihat apa yang direncanakan, apa yang dikerjakan, berapa volumenya, berapa nilainya, dan bagaimana kualitasnya dipastikan.

12,33 Kilometer Dan Pertanyaan Sta

SALAH satu hal yang perlu diperjelas adalah lokasi pasti paket sepanjang 12,33 kilometer tersebut.

Ruas Peureulak–Batas Kota Langsa secara keseluruhan lebih panjang daripada paket yang sedang ditelaah.

Karena itu, angka 12,33 kilometer tidak boleh dipahami sebagai seluruh panjang koridor.

Yang diperlukan adalah informasi STA atau titik awal dan titik akhir pekerjaan.

STA akan menjadi penghubung antara dokumen dan kondisi lapangan.

Dengan STA, masyarakat dapat mengetahui:

• di mana pekerjaan dimulai;

• di mana pekerjaan berakhir;

• bagian mana yang diperbaiki;

• volume pekerjaan pada setiap segmen;

• dan apakah terdapat paket lain pada lokasi yang sama.

Ini penting karena dalam koridor Peureulak–Langsa–Kuala Simpang–Perbatasan Sumatera Utara terdapat beberapa kegiatan penanganan jalan yang harus dibedakan berdasarkan lokasi dan lingkup pekerjaannya.

Bukan Hanya Soal Aspal

JALAN yang terlihat mulus belum otomatis menjawab seluruh persoalan.

Jika kerusakan sebelumnya berkaitan dengan banjir atau genangan, maka sistem drainase juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan jalan.

Air yang tidak terkendali dapat kembali mengganggu struktur perkerasan.

Karena itu, pembangunan jalan perlu dilihat secara menyeluruh:

badan jalan, drainase, gorong-gorong, bahu jalan, elevasi, struktur perkerasan, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.

Sebagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, KJL memandang pembangunan infrastruktur harus memperhatikan hubungan antara jalan dan tata air.

Jalan yang kuat membutuhkan sistem pengelolaan air yang baik.

Jika tidak, masyarakat dapat kembali menghadapi siklus yang sama: jalan diperbaiki, kemudian rusak kembali karena persoalan dasar belum terselesaikan.

Apresiasi Pemerintah Daerah

WAKIL Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE.I., menyampaikan apresiasi atas penanganan jalan nasional yang dilakukan pemerintah melalui BPJN dan pelaksana pekerjaan.

Menurutnya, peningkatan kualitas jalan nasional memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan berbagai sektor ekonomi.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada BPJN dan pelaksana kegiatan pekerjaan jalan nasional yang telah melakukan perbaikan. Dengan kualitas jalan yang baik, tentu akan berpengaruh terhadap berbagai sektor, terutama pengguna transportasi dan masyarakat yang melakukan aktivitas perdagangan,” ujar Ismail.

Ia menilai kelancaran lalu lintas memiliki efek berantai terhadap perekonomian daerah.

“Ketika lalu lintas lancar, efek dominonya akan terasa di berbagai sektor. Arus kendaraan dari luar Aceh yang masuk ke Aceh maupun sebaliknya dapat bergerak lebih cepat. Ini tentu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi,” katanya.

Menurut Ismail, pemerintah daerah berharap peningkatan kualitas jalan nasional terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami tentu berharap peningkatan jalan nasional terus dilakukan sehingga konektivitas semakin baik dan dapat menciptakan stabilitas di berbagai lintas sektor,” ujarnya.

Jalan Yang Menghubungkan Banyak Kepentingan

PERBAIKAN jalan nasional tidak hanya mempertemukan satu kota dengan kota lainnya.

Ia mempertemukan kepentingan yang jauh lebih luas.

Seorang pedagang membutuhkan jalan untuk membawa dagangannya.

Petani membutuhkan jalan untuk membawa hasil produksi.

Pengemudi membutuhkan jalan yang aman untuk bekerja.

Keluarga membutuhkan jalan untuk bepergian.

Pelaku usaha membutuhkan jalur distribusi yang efisien.

Pemerintah membutuhkan jaringan transportasi untuk menjaga konektivitas wilayah.

Semua kepentingan itu bertemu di satu tempat:

jalan.

Karena itu, keberadaan jalan yang baik memiliki nilai sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar angka panjang jalan yang selesai diaspal.

Jalan Mulus, Tapi Pengawasan Tak Boleh Lalai

KEGEMBIRAAN masyarakat atas jalan yang mulus adalah hal yang nyata.

Namun pekerjaan belum selesai hanya karena permukaan jalan telah terlihat baik.

Jalan harus diuji. Mutu harus diawasi. Volume harus sesuai.

Pembayaran harus berdasarkan prestasi pekerjaan.

Perubahan pekerjaan harus memiliki dasar.

Dan hasil akhir harus dapat dipertanggungjawabkan.

Inilah titik temu antara manfaat pembangunan dan pengawasan publik.

Masyarakat berhak menikmati jalan yang baik.

Negara berkewajiban memastikan jalan tersebut dibangun dengan tata kelola yang baik.

Media berkewajiban mengawasi tanpa menghakimi.

Dan pemerintah berkewajiban membuka informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Aspal Bukan Akhir Cerita

PADA akhirnya, jalan yang mulus memang membawa kegembiraan sederhana.

Tidak ada lagi lubang yang harus dihindari.

Tidak ada lagi rasa waswas ketika kendaraan melaju di malam hari.

Tidak ada lagi ketegangan setiap kali roda mendekati bagian jalan yang rusak.

Tetapi bagi negara, hamparan aspal baru bukanlah akhir dari sebuah pekerjaan.

Ia justru awal dari kewajiban yang lebih panjang; memastikan jalan bertahan, dirawat, aman digunakan, dan mampu mendukung kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun.

Di sepanjang Peureulak, Langsa, Kuala Simpang hingga perbatasan Sumatera Utara, jalan itu akan terus dilalui.

Pedagang akan kembali berjualan. Truk akan kembali mengangkut barang. Petani akan membawa hasil kebun. Keluarga akan bepergian.

Dan kendaraan dari luar Aceh akan terus datang dan bergerak menuju wilayah-wilayah lain.

Jika jalan tetap terjaga, manfaatnya akan terus mengalir.

Karena sesungguhnya, yang dibangun bukan hanya jalan.

Yang dibangun adalah konektivitas, keselamatan, pergerakan ekonomi, dan harapan masyarakat.

Namun di balik semua itu tetap ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan:

Setiap meter jalan yang dibangun dengan uang negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat. []

No More Posts Available.

No more pages to load.