ACEH UTARA | FR — Banjir bandang yang menerjang Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, pada akhir 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Bencana itu juga sempat mengganggu kenyamanan anak-anak untuk belajar dan bermain di TK Raudhatul Jannah.
Namun, di tengah situasi sulit tersebut, muncul sosok yang memilih untuk tidak menyerah. Martunis, S.Pd., Kepala TK Raudhatul Jannah, terus berjuang memastikan pendidikan anak-anak tetap berjalan dan sekolah yang rusak kembali menjadi ruang yang layak bagi tumbuh kembang mereka.
Kerusakan bangunan dan hilangnya sejumlah fasilitas bermain tidak membuat Martunis berpangku tangan. Ia bersama para guru, orang tua, masyarakat dan berbagai pihak terus mendorong pemulihan sekolah.
Bagi Martunis, sekolah bukan sekadar bangunan dengan ruang kelas dan meja belajar. Sekolah adalah tempat anak-anak mengenal dunia, bermain, bersosialisasi, membangun karakter, sekaligus menanamkan harapan tentang masa depan.
Karena itu, ketika bencana menghantam, yang harus dipulihkan menurutnya bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman dan semangat anak-anak untuk kembali belajar.
“Anak-anak tidak boleh kehilangan masa depan hanya karena mereka menjadi korban bencana. Sekolah harus bangkit, dan anak-anak harus kembali memiliki ruang untuk belajar dan bermain,” ujar Martunis, pada media, Sabtu, (8/8).
Perjuangan tersebut juga berangkat dari pengalaman pribadinya. Sebagai penyandang disabilitas, Martunis memahami betul bahwa kesempatan, akses dan perlakuan yang setara merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, termasuk anak-anak.
Kepeduliannya terhadap hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten Aceh Utara turut membentuk cara pandangnya dalam mengelola pendidikan. Baginya, lingkungan pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang tanpa dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang mereka.
Perlahan, harapan itu mulai terlihat.
Dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Save the Children, Nurani Astra, serta melalui Program Revitalisasi Satuan PAUD Tahun 2026, menjadi bagian penting dalam proses pemulihan TK Raudhatul Jannah.
Pembangunan gedung permanen sekolah kini telah mencapai sekitar 95 persen. Setelah sebelumnya terdampak bencana, sekolah tersebut perlahan kembali memiliki wajah baru dan harapan baru bagi anak-anak Gampong Geudumbak.
Meski demikian, perjalanan belum sepenuhnya selesai.
Masih terdapat sejumlah kebutuhan yang perlu dipenuhi agar sekolah benar-benar dapat menjadi lingkungan belajar yang aman, nyaman dan ramah bagi anak. Di antaranya alat permainan edukatif (APE) luar ruangan, taman bermain, sarana air bersih, serta sejumlah pekerjaan pembangunan yang masih membutuhkan penyelesaian.
Bagi Martunis, capaian 95 persen bukanlah garis akhir. Justru, itu menjadi penanda bahwa perjuangan untuk menghadirkan pendidikan yang layak bagi anak-anak harus terus dilanjutkan.
“Kita tidak hanya membangun kembali gedung sekolah. Kita sedang membangun kembali harapan anak-anak,” katanya.
Kalimat itu menggambarkan prinsip yang terus ia pegang. Baginya, keberhasilan pemulihan sekolah tidak cukup diukur dari berdirinya bangunan baru. Lebih jauh, keberhasilan itu terlihat ketika anak-anak kembali datang dengan wajah ceria, bermain bersama teman-temannya, belajar tanpa rasa takut, dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi.
Dari sebuah sekolah yang pernah dihantam banjir bandang, Martunis menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Dengan dukungan guru, orang tua, masyarakat, pemerintah, lembaga kemanusiaan dan para pihak lainnya, ia terus berupaya memastikan TK Raudhatul Jannah bukan hanya kembali berdiri, tetapi kembali hidup sebagai ruang tumbuh bagi generasi kecil Gampong Geudumbak.
Sebab, bagi Martunis, membangun kembali sekolah berarti menjaga satu hal yang jauh lebih besar, masa depan anak-anak yang tidak boleh ikut hanyut bersama bencana.(Sayed Panton)







