Forumrakyat.co.id – Ketika banyak wilayah Aceh telah jatuh ke tangan Belanda, perang belum selesai. Dari hutan, lembah, pegunungan, dan pesisir barat selatan, perlawanan terus bergerak. Di antara para pemimpin yang menjaga bara perjuangan itu tetap menyala, berdiri Teuku Ben Mahmud—seorang panglima yang menjadikan gerilya sebagai jalan panjang mempertahankan kedaulatan Aceh.
Perang Aceh memasuki babak yang berbeda setelah gugurnya Teuku Umar Johan Pahlawan.
Belanda mungkin telah menguasai banyak wilayah. Sejumlah pusat kekuasaan Aceh berhasil mereka duduki. Namun, penaklukan wilayah tidak serta-merta berarti berakhirnya perang.
Di pedalaman dan kawasan perbatasan, perlawanan terus bergerak.
Nama-nama panglima muncul dari berbagai daerah. Mereka tidak selalu memiliki pasukan besar, tetapi menguasai medan, mendapat dukungan masyarakat, dan memahami bahwa perang melawan kolonial tidak harus dilakukan dengan berhadap-hadapan di medan terbuka.
Salah satu tokoh yang memainkan peran penting dalam fase panjang tersebut adalah Teuku Ben Mahmud.
Ia kelak dikenal sebagai Teuku Bentara Mahmud Setia Radja.
Di tangannya, perang gerilya bukan sekadar strategi bertahan. Ia menjadikannya jaringan perjuangan yang menghubungkan berbagai wilayah Aceh, dari Tripa, Gayo, Alas, pantai barat selatan, Singkil hingga Tanah Batak.
Aris Faisal Djamin, penulis buku Teuku Bentara Mahmud Setia Radja; Pahlawan Besar Perang Aceh, menempatkan sosok ini sebagai salah satu figur penting dalam mata rantai panjang perlawanan Aceh terhadap Belanda.
[KUTIPAN ARIS FAISAL DJAMIN — masukkan kutipan asli dari buku di bagian ini untuk memperkuat penggambaran karakter dan posisi Teuku Ben Mahmud.]
Bagi Teuku Ben Mahmud, perang bukan hanya soal menang atau kalah dalam satu pertempuran.
Perang adalah soal mempertahankan keyakinan bahwa Kesultanan Aceh belum menyerah.
Gelar Bentara dari Sultan
Ketika perang memasuki masa yang semakin berat, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah tetap berupaya mempertahankan struktur perjuangan Aceh.
Teuku Ben Mahmud mendapat kepercayaan dari Sultan. Ia diangkat sebagai pemimpin perjuangan dengan gelar Bentara.
Gelar tersebut bukan sekadar penghormatan.
Di baliknya terdapat mandat untuk menjaga perlawanan tetap hidup.
Dari jaringan yang dipimpinnya, muncul sejumlah panglima yang mengendalikan wilayah masing-masing. Di antara nama yang dikenal adalah Teuku Cut Ali, Habib Seunagan, Teungku Chik Dirundeng, Teuku Ben Tarok, dan Habib Mustafa.
Jaringan itu, menurut catatan yang dihimpun dalam buku Aris Faisal Djamin, bahkan mencakup sekitar 270 panglima wilayah.
Jumlah itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar daripada satu kelompok bersenjata.
Perlawanan Aceh bekerja sebagai jaringan.
Ada panglima di satu wilayah. Ada masyarakat yang menyediakan makanan dan informasi. Ada jalur hutan yang menjadi jalan keluar ketika pasukan Belanda mengejar. Ada pula hubungan antarpanglima yang memungkinkan gerakan perlawanan berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain.

Teuku Ben Mahmud berada di tengah jaringan tersebut.
Perang yang Bergerak dari Hutan ke Hutan
Gerilya membutuhkan kesabaran.
Tidak ada garis depan yang tetap. Tidak ada medan perang yang bisa ditandai dengan jelas. Hari ini pasukan berada di sebuah lembah; esok mereka sudah berpindah ke pegunungan.
Teuku Ben Mahmud memahami medan Aceh.
Wilayah yang luas—dari pedalaman hingga pesisir barat—memberinya ruang untuk menggerakkan pasukan.
Ia turut membantu perjuangan Sultan di Keumala, Pidie. Ia juga memberikan dukungan kepada Teuku Panglima Polem dalam Perang Batee Iliek.
Di wilayah selatan, pengaruhnya menjangkau Tripa, Gayo, Alas, Singkil, hingga kawasan Tanah Batak.
Jaringan tersebut membuat Belanda tidak pernah benar-benar merasa aman.
Serangan dapat datang dari arah yang tidak diduga. Pasukan yang dianggap telah dipukul mundur dapat muncul kembali di tempat lain.
Dalam perang gerilya, kemampuan bertahan sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menyerang.
Dan Teuku Ben Mahmud memiliki keduanya.
Ketika Aceh Bertemu Batak
Salah satu episode yang menunjukkan luasnya jaringan perjuangan Teuku Ben Mahmud berlangsung di wilayah hulu Lae Cinendang, Singkil.
Di kawasan itu, ia menjalin hubungan dengan pasukan Si Singamangaraja.
Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak selalu terikat oleh batas wilayah yang kemudian dikenal sebagai batas administratif modern.
Hutan dan jalur sungai menjadi penghubung.
Begitu pula kepentingan yang sama: menghadapi kekuatan kolonial yang terus memperluas pengaruhnya.
Dari perspektif Belanda, jaringan semacam ini merupakan ancaman serius.
Perlawanan tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lokal. Ia bergerak melintasi wilayah, etnis, dan pusat-pusat kekuasaan.
Teuku Ben Mahmud menjadi salah satu simpulnya.
2.000 Pasukan dari Gayo
Pada suatu fase perang, Teuku Ben Mahmud bahkan mampu mengerahkan sekitar 2.000 pasukan Gayo untuk menyerang Blangpidie dan Tapaktuan.
Serangan tersebut memperlihatkan betapa jauh pengaruhnya.
Blangpidie dan Tapaktuan bukan sekadar titik geografis. Keduanya merupakan bagian penting dari kawasan pantai barat selatan Aceh yang menjadi jalur strategis bagi Belanda.
Dengan menyerang kawasan tersebut, pasukan Teuku Ben Mahmud menunjukkan bahwa kolonial tidak sepenuhnya menguasai wilayah yang secara administratif telah mereka klaim.
Bagi Belanda, tokoh seperti Teuku Ben Mahmud menjadi persoalan yang sulit diselesaikan.
Bukan karena ia menguasai satu kota besar.
Justru karena ia tidak membutuhkan sebuah kota untuk mempertahankan perang.
Ia membutuhkan masyarakat, medan, jaringan, dan keyakinan.
Musuh yang Tak Kunjung Selesai
Bagi pemerintah kolonial, Teuku Ben Mahmud adalah salah satu lawan yang paling sulit ditaklukkan.
- Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang banyak memberikan nasihat mengenai strategi menghadapi Aceh, bahkan disebut menilai perang tidak akan benar-benar berakhir selama Teuku Ben Mahmud belum berhasil ditangkap.
Pernyataan itu menunjukkan besarnya perhatian kolonial terhadap dirinya.
Belanda telah membangun pos-pos militer. Mereka mengerahkan pasukan. Mereka melakukan pengejaran dan operasi di berbagai wilayah.
Namun, seorang panglima yang berpindah dari satu medan ke medan lain sulit dilumpuhkan dengan cara konvensional.
Teuku Ben Mahmud tidak berdiri sendirian.
Di belakangnya terdapat jaringan panglima.
Di belakang para panglima terdapat masyarakat.
Dan di atas seluruh jaringan itu terdapat gagasan bahwa perang masih harus diteruskan.
[KUTIPAN ARIS FAISAL DJAMIN — bagian ini cocok untuk kutipan mengenai mengapa Belanda memandang Teuku Ben Mahmud sebagai ancaman besar atau mengenai luasnya jaringan 270 panglima.]
Ketika Keluarga Menjadi Sandera
Namun, perang gerilya memiliki harga yang mahal.
Ketika seorang pemimpin sulit ditangkap melalui pertempuran, kolonial mencari jalan lain.
Pada 1908, Teuku Ben Mahmud akhirnya ditangkap setelah keluarganya dijadikan sandera. Penangkapan itu berkaitan dengan pengkhianatan orang-orang yang sebelumnya berada di lingkungan kepercayaannya.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain perang: bahwa kekalahan tidak selalu terjadi di medan tempur.
Kadang, seorang pejuang dijatuhkan melalui tekanan terhadap keluarga.
Teuku Ben Mahmud kemudian dijatuhi hukuman pengasingan ke Halmahera Utara.
Bagi Belanda, pengasingan adalah cara untuk memutus hubungan seorang pemimpin dengan basis perjuangannya.
Jauhkan panglima dari Aceh.
Jauhkan ia dari rakyat.
Maka perang diharapkan kehilangan salah satu penggeraknya.
Tetapi perhitungan itu tidak sepenuhnya berhasil.
Halmahera Tidak Memadamkan Api
Di tanah pengasingan, Teuku Ben Mahmud tidak berhenti bergerak.
Ia tetap berhubungan dengan masyarakat. Ia mendampingi mereka dan menanamkan semangat untuk melawan penjajahan.
Aceh telah jauh di belakang.
Tetapi bagi dirinya, perjuangan tidak berhenti hanya karena ia dipisahkan dari tanah kelahirannya.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Ia tidak hanya menjalani pengasingan sebagai hukuman. Ia menjadikannya ruang baru untuk membangun pengaruh.
Perjuangannya bahkan berlanjut hingga masa pendudukan Jepang dan memasuki periode awal kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian, perjalanan Teuku Ben Mahmud melampaui batas Perang Aceh.
Ia hidup melewati perubahan zaman: dari Kesultanan Aceh, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.
Bendera Merah Putih di Dada
Ada satu detail yang membuat kisah panjang Teuku Ben Mahmud terasa sangat personal.
Bendera kecil merah putih selalu melekat di dada bajunya.
Simbol itu menjadi penanda perjalanan seorang pejuang yang hidup dalam pergantian rezim.
Ketika ia memulai perjuangan, Indonesia sebagai negara belum lahir.
Yang dipertahankan adalah kedaulatan Kesultanan Aceh.
Namun, puluhan tahun kemudian, ketika Indonesia telah merdeka, semangat perlawanan terhadap penjajahan menemukan bentuk baru.
Merah putih menjadi simbol yang ia bawa.
Di sana terlihat perubahan zaman sekaligus kesinambungan sebuah keyakinan: bahwa tanah tempat ia hidup tidak boleh berada di bawah kekuasaan asing.
Panglima yang Hidup Melampaui Zaman
Teuku Ben Mahmud wafat pada 28 Maret 1974.
Usianya diperkirakan sekitar 114 tahun.
Jika angka tersebut benar, rentang hidupnya mencakup lebih dari satu abad sejarah Aceh dan Indonesia.
Ia lahir ketika Kesultanan Aceh masih menjadi kekuatan politik penting. Ia tumbuh dalam suasana perang. Ia menjadi panglima ketika kolonialisme Belanda berusaha menundukkan Aceh. Ia menjalani pengasingan di Halmahera. Ia melewati pendudukan Jepang.
Dan ia masih hidup ketika Indonesia telah berdiri sebagai negara merdeka selama hampir tiga dekade.
Karena itu, Teuku Ben Mahmud bukan hanya tokoh Perang Aceh.
Ia adalah saksi hidup perubahan sebuah zaman.
Warisan terbesarnya mungkin bukan semata jumlah pasukan yang pernah dipimpinnya, atau banyaknya panglima yang berada di bawah koordinasinya.
Warisan itu terletak pada daya tahan.
Ketika pusat-pusat kekuasaan jatuh, ia memindahkan perang ke pedalaman.
Ketika pasukannya diburu, ia menggunakan hutan dan gunung.
Ketika jaringan perjuangannya ditekan, ia membangun kembali hubungan dengan panglima lain.
Dan ketika dirinya dibuang jauh dari Aceh, ia tetap membawa keyakinan yang sama.
Aris Faisal Djamin melalui buku Teuku Bentara Mahmud Setia Radja; Pahlawan Besar Perang Aceh berupaya mengembalikan sosok tersebut ke dalam ingatan sejarah.
[KUTIPAN PENUTUP ARIS FAISAL DJAMIN — masukkan kutipan asli yang merangkum makna perjuangan atau warisan Teuku Ben Mahmud.]
Pada akhirnya, sejarah Teuku Ben Mahmud bukan sekadar sejarah tentang seorang panglima yang berperang melawan Belanda.
Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah perlawanan dapat bertahan ketika kekuatan militer berada dalam posisi yang tidak seimbang.
Ia menunjukkan bahwa perang dapat berpindah dari istana ke hutan, dari medan terbuka ke jaringan masyarakat, dari Aceh ke tanah pengasingan.
Dan mungkin karena itulah nama Teuku Bentara Mahmud Setia Radja tetap penting dikenang.
Ia tidak menyerah ketika wilayahnya dipersempit.
Ia tidak berhenti ketika dirinya diasingkan.
Bahkan ketika zaman berubah dan perang telah usai, sebuah bendera kecil merah putih tetap berada di dadanya.
Seolah mengingatkan bahwa bagi seorang pejuang, kemerdekaan bukan hanya perkara sebuah tanggal.
Ia adalah keyakinan yang dibawa sepanjang hidup. Adv







