“Kami tidak hanya memikirkan keselamatan pekerja Pertamina. Masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasi juga menjadi perhatian kami.”
[Tomi Wahyu Alimsyah. Field Manager Pertamina EP Rantau Field]
- Pertamina EP Rantau Field Bangkit Pascabanjir, Memulihkan Produksi dan Menopang Masyarakat
Pada 26 November 2025, air tidak hanya menggenangi jalan dan halaman rumah. Di kawasan operasi Pertamina EP Rantau Field, Aceh Tamiang, banjir memutus akses, menghentikan fasilitas produksi, melumpuhkan sistem kelistrikan dan pengolahan air, serta membuat kompleks perusahaan terisolasi.
Ketinggian air disebut mencapai sekitar empat meter.
Di tengah kondisi itu, masjid, gedung arsip, dan gedung tempat uji kompetensi menjadi tempat berlindung. Sekitar 1.300 orang [pekerja Pertamina dan masyarakat] mengamankan diri di bangunan yang relatif lebih tinggi.
Bahan makanan menjadi barang berharga. Air bersih sulit diperoleh. Evakuasi dilakukan secara bertahap, termasuk menggunakan helikopter dari Medan.
Bagi Pertamina EP Rantau Field, banjir tersebut bukan sekadar gangguan operasional. Peristiwa itu menjadi ujian terhadap kemampuan perusahaan untuk bertahan, memulihkan fasilitas produksi, sekaligus tetap hadir di tengah masyarakat yang mengalami bencana.
Dari titik itulah cerita pemulihan Rantau dimulai.
Ketika Rantau Terisolasi
FIELD Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, mengingat kembali situasi pada 26 November 2025.
Menurut dia, seluruh wilayah operasi Pertamina EP Rantau Field ikut terdampak banjir. Akses keluar-masuk kompleks perusahaan terputus.
Salah satu jalur melalui kawasan Bukit Sulang mengalami longsor. Jalur lainnya menuju Upah juga tidak dapat dilalui secara normal karena pohon tumbang dan kondisi jembatan yang nyaris sejajar dengan permukaan air.
“Pada tanggal 26 tersebut, kami sebenarnya seperti terisolasi. Akses keluar hanya melalui dua jalan. Jalan pertama melalui Bukit Sulang, tetapi mengalami longsor. Jalan kedua melalui Upah, di sana juga ada pohon tumbang dan jembatannya hampir sejajar dengan air,” kata Tomi.
Situasi tersebut membuat penghuni kompleks Pertamina tidak dapat bergerak bebas.
Sejak Kamis, 26 November, hingga beberapa hari kemudian, akses darat belum memungkinkan. Bantuan akhirnya didatangkan melalui udara.
Pada Sabtu, helikopter dari Medan masuk membawa obat-obatan dan bahan makanan. Helikopter tersebut sekaligus membantu proses evakuasi sejumlah warga dan pekerja yang membutuhkan pertolongan.
Setelah jalur darat mulai memungkinkan, proses evakuasi kemudian dilakukan menggunakan kendaraan.
Banjir telah mengubah kompleks operasi Pertamina menjadi ruang bertahan hidup.
Masjid Menjadi Tempat Perlindungan
KETINGGIAN air yang mencapai sekitar empat meter membuat sejumlah bangunan dengan posisi lebih tinggi menjadi tempat penyelamatan.
Masjid menjadi salah satu lokasi utama.
Sekitar 1.300 orang bertahan di sana.
Yang menarik, menurut Tomi, perhatian Pertamina tidak hanya diarahkan kepada pekerjanya.
Bahan makanan yang berhasil didatangkan juga dibagikan kepada masyarakat sekitar.
“Ketika bahan makanan datang, bantuan itu tidak hanya untuk kami. Justru proporsinya lebih banyak untuk masyarakat karena jumlah mereka jauh lebih banyak daripada kami,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, pembagian makanan mungkin merupakan hal sederhana. Namun, di tengah bencana, satu paket makanan dapat berarti kesempatan untuk bertahan sehari lagi.
Kondisi tersebut juga dialami oleh para pekerja Pertamina sendiri.
Jefri, salah seorang pekerja yang ikut mengalami masa darurat di kompleks Pertamina, menggambarkan bagaimana makanan harus dibagi kepada banyak orang.
“Untuk makan, kami harus berbagi. Bahkan satu piring pernah dibagi untuk sekitar delapan orang,” katanya.
Persoalan lain muncul setelah fasilitas produksi dan sistem kelistrikan tidak berfungsi.
Sistem pengolahan air juga berhenti.
Kebutuhan air untuk mandi, mencuci, sanitasi, bahkan memasak menjadi persoalan serius.
Dalam kondisi darurat, air dari sistem yang diperuntukkan bagi pemadaman kebakaran terpaksa dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari.
Tomi mengatakan, perusahaan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk kembali menghidupkan sistem pengolahan air.
“Kalau kami yang berada di dalam kompleks saja mengalami kondisi seperti itu, saya yakin masyarakat yang berada di luar kompleks mengalami keadaan yang jauh lebih berat,” katanya.
Dari Nol, Menyusun Jalan Pulang
BANJIR tidak hanya memutus akses fisik.
Fasilitas produksi Pertamina EP Rantau Field juga terdampak.
Produksi yang sebelum banjir berada di kisaran 1.900 barel per hari sempat berhenti.
Angka produksi turun menjadi nol.
Dalam kondisi tersebut, muncul perkiraan bahwa pemulihan operasi membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun.
Perkiraan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen Pertamina EP Rantau Field.
Perusahaan kemudian menyusun target pemulihan dalam waktu sekitar enam bulan.
Tomi mengatakan, proses tersebut dilakukan secara bertahap. Fasilitas yang rusak diperbaiki, sistem operasi dipulihkan, dan sumur-sumur produksi yang sebelumnya berhenti mulai dihidupkan kembali.
Memasuki bulan kelima setelah banjir, sebagian besar sumur yang sebelumnya berhenti telah dapat dioperasikan kembali.
“Setelah banjir, produksi kami sempat dari nol. Namun, secara bertahap kami pulihkan. Memasuki bulan kelima, sumur-sumur yang sebelumnya mati akibat banjir sudah bisa kami hidupkan kembali,” kata Tomi.
Produksi kemudian kembali meningkat. Bahkan, pada satu periode, menurut Tomi, produksinya sempat melampaui tingkat sebelum banjir.
Bagi perusahaan, angka produksi memang menjadi salah satu ukuran pemulihan.
Namun, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada angka produksi.
Ada masyarakat yang kehilangan tanaman, lahan, sumber penghasilan, dan tempat bergantung.
Di titik itu, keberadaan perusahaan diuji bukan hanya melalui kemampuan menghidupkan kembali sumur produksi, tetapi juga melalui seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekitar.
Bencana dan Tanggung Jawab Sosial
PERTAMINA EP Rantau Field menjalankan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui tiga bidang utama: sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Program tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pertanian, perikanan, UMKM, penghijauan, hingga penguatan kelompok masyarakat dalam menghadapi bencana.
Di bidang pendidikan, salah satu program diarahkan kepada pengembangan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas di Aceh Tamiang, antara lain melalui SLBN Pembina Aceh Tamiang di Desa Landuh.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga pengembangan keterampilan, kesenian, dan aktivitas produktif.
Di bidang kesehatan, Pertamina menjalankan program peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasi, termasuk dukungan terhadap kegiatan Posyandu serta pendampingan bagi anak yang mengalami masalah pertumbuhan.
Sementara di bidang ekonomi, program diarahkan kepada pemberdayaan pemuda, pertanian, budidaya ikan air tawar, pengembangan kopi, dan penguatan produk UMKM.
Salah satu fasilitas yang direncanakan menjadi pusat atau galeri produk UMKM juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
Namun, banjir membuat sejumlah rencana harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Ketika Penyandang Disabilitas Menjadi Penolong
SALAH satu program yang menarik perhatian adalah penguatan kelompok difabel tanggap bencana.
Program ini berangkat dari gagasan bahwa penyandang disabilitas tidak seharusnya selalu ditempatkan sebagai kelompok yang hanya menerima pertolongan ketika bencana terjadi.
Mereka juga dapat berperan sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana.
Melalui program tersebut, penyandang disabilitas diberikan ruang untuk terlibat dalam kegiatan kesiapsiagaan dan penanganan bencana sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dengan pendekatan itu, konsep inklusivitas bergerak lebih jauh.
Penyandang disabilitas tidak semata-mata dilihat sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan dan peran.
Dari Lumpur, Petani Memulai Lagi
CERITA pemulihan tidak hanya berlangsung di lingkungan operasi Pertamina.
Di luar pagar kompleks perusahaan, masyarakat binaan juga berusaha memulai kembali kehidupan mereka.
Salah satunya adalah Razak Mubarroq, anggota kelompok tani yang sekaligus berprofesi sebagai wartawan.
Razak merupakan bagian dari Kelompok Tani Tunas Muda.
Sebelum banjir, kelompok tersebut sedang mengembangkan kegiatan pertanian.
Namun, bencana datang ketika usaha itu baru berjalan sekitar dua bulan.
Tanaman rusak. Lahan tertutup lumpur.
Ketebalan lumpur disebut mencapai sekitar 60 sentimeter hingga hampir satu meter.
“Awalnya saya berpikir, mungkin saya yang paling berat. Tetapi setelah melihat kondisi masyarakat lain, ternyata banyak yang mengalami kerugian lebih besar,” kata Razak.
Kelompok tersebut memiliki sekitar 22 anggota.
Banjir membuat mereka harus menghitung kembali apa yang masih dapat diselamatkan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi berat: setelah semuanya rusak, dari mana harus memulai?
Mereka kemudian mencari dukungan dan berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan lahan yang dapat digunakan kembali.
Dari situ muncul gagasan memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan pertanian.
Lumpur tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sisa bencana.
Dengan perlakuan dan pengelolaan yang tepat, lahan tersebut dicoba kembali menjadi media produksi.
Pada tahap pertama, sekitar 2.700 batang tanaman ditanam.
Tahap berikutnya sebanyak 1.800 batang.
Hasilnya mulai terlihat.
Tanaman pada tahap pertama, menurut Razak, telah tumbuh dengan baik.
Bagi kelompok tani tersebut, keberhasilan itu bukan sekadar angka jumlah tanaman.
Ia adalah tanda bahwa kehidupan dapat dimulai kembali setelah bencana.
Apresiasi dan Ruang bagi Pers
DI TENGAH cerita tentang pemulihan tersebut, Pertamina EP Rantau Field juga memberikan ruang kepada insan pers melalui kegiatan Apresiasi Jurnalistik Pertamina.
Kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan kepada wartawan dan media yang selama ini berkontribusi dalam menyampaikan informasi mengenai kegiatan Pertamina kepada masyarakat.
Pertamina menyebut kegiatan tersebut sebelumnya dikenal sebagai Anugerah Jurnalistik Pertamina.
Namun, pendekatan yang dikembangkan kini lebih ditekankan pada apresiasi terhadap media yang secara konsisten menjadi mitra komunikasi perusahaan.
Kehadiran wartawan dari media nasional, media di Medan, serta media lokal Aceh Tamiang menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Bagi perusahaan, pers memiliki posisi penting dalam menyampaikan informasi kepada publik, terutama ketika perusahaan berhadapan dengan situasi yang memiliki dampak luas seperti bencana.
Pada titik inilah hubungan perusahaan dan media tidak semestinya berhenti pada publikasi positif.
Media tetap memiliki kewajiban jurnalistik untuk melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, dan menyampaikan fakta kepada publik.
Sebaliknya, perusahaan memiliki kepentingan untuk membuka akses informasi agar publik dapat mengetahui proses yang sedang dilakukan.
Pemulihan Bukan Sekadar Menghidupkan Mesin
BANJIR November 2025 meninggalkan cerita yang panjang.
Ada fasilitas yang rusak, produksi yang berhenti, akses yang terputus, kebutuhan dasar yang terganggu, dan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan.
Pertamina EP Rantau Field memilih mempercepat pemulihan operasi dengan target enam bulan. Pada bulan kelima, sebagian besar sumur yang sebelumnya berhenti telah kembali dioperasikan.
Namun, pemulihan yang sesungguhnya tidak dapat diukur hanya dari kembalinya produksi.
Ia juga dapat dilihat dari bagaimana masyarakat mulai menanam kembali.
Dari bagaimana kelompok tani mengolah lahan yang sebelumnya tertutup lumpur.
Dari bagaimana penyandang disabilitas dilibatkan dalam kesiapsiagaan bencana.
Dan dari bagaimana masyarakat sekitar kembali memiliki ruang untuk membangun kehidupan.
[Razak Mubarroq Anggota Kelompok Tani Tunas Muda]
“Setelah bencana, kami mencoba menghitung kembali apa yang masih bisa diselamatkan dan apa yang dapat dilakukan untuk memulai kembali usaha.”
Di Rantau, pemulihan tidak dimulai dari keadaan yang sempurna.
Ia dimulai dari air yang surut perlahan, jalan yang kembali terbuka, fasilitas yang diperbaiki satu demi satu, dan sumur produksi yang kembali dihidupkan.
Di luar pagar perusahaan, pemulihan dimulai dari lahan yang tertutup lumpur.
Dari tangan petani yang kembali menanam.
Dari kelompok masyarakat yang mencoba bangkit.
Dari penyandang disabilitas yang tidak ingin hanya menjadi objek pertolongan, tetapi mengambil bagian dalam penanganan bencana.
Banjir memang sempat membuat produksi Pertamina EP Rantau Field jatuh ke titik nol.
Tetapi bagi masyarakat dan perusahaan, angka nol bukan berarti akhir.
Ia menjadi titik untuk menghitung kembali kekuatan, menyusun strategi, dan memulai perjalanan pulang.
Di atas tanah yang pernah tertutup lumpur, 2.700 batang tanaman mulai tumbuh.
Di dalam fasilitas yang pernah terendam, mesin kembali bekerja.
Dan di tengah masyarakat yang pernah kehilangan banyak hal, harapan perlahan menemukan jalannya kembali.[].







