Dari Lahan Tidur Menjadi Kebun Melon

oleh

[Tomy Wahyu Alimsyah. Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field].

“Dari petani, untuk petani, dan untuk generasi berikutnya.”

  • Melon Mutiara dan Upaya Menghidupkan Lahan Tidur

Lahan yang sebelumnya tidak produktif kini berubah menjadi hamparan tanaman melon.

Di antara barisan tanaman yang dirawat dengan teliti, buah-buah Melon Gold mulai menunjukkan hasil dari sebuah proses yang tidak singkat [mengolah tanah, merawat tanaman, belajar dari pengalaman, dan mempertahankan kualitas hingga masa panen].

Di Kampung Kebun Tanjung Semantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, lahan milik PT Pertamina EP Rantau Field tersebut dimanfaatkan melalui program pemberdayaan masyarakat.

Kelompok Tani Melon Mutiara menjadi salah satu penggeraknya.

Panen kedua menjadi penanda bahwa budidaya tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Jika pada panen perdana produksi mencapai sekitar 1,5 ton, kali ini kelompok tani menargetkan hasil antara 2,5 hingga 3 ton dalam satu kali panen.

Di balik angka tersebut, terdapat cerita tentang bagaimana sebuah lahan tidur dicoba diubah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Dari Lahan Tidur ke Sumber Ekonomi

KETUA Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi, masih mengingat capaian panen perdana kelompoknya. Produksi saat itu berada di angka sekitar 1,5 ton.

Pada panen kedua, target dinaikkan menjadi 2,5 hingga 3 ton.

Lahan yang digunakan seluas dua rantai. Tanaman membutuhkan waktu sekitar 65 hingga 75 hari sejak masa pertumbuhan hingga siap dipanen.

Bagi Beni, budidaya melon bukan sekadar perkara menanam dan menunggu buah membesar. Perawatan menjadi bagian penting yang menentukan hasil akhir.

Tanaman melon, menurut dia, memiliki karakter yang relatif lebih rentan dibandingkan semangka. Karena itu, pemilihan varietas menjadi salah satu pertimbangan.

Kelompok Tani Melon Mutiara memilih Melon Gold yang dinilai lebih mampu menghadapi kondisi lingkungan di lokasi budidaya.

“Perawatannya secara umum hampir sama dengan semangka, tetapi melon lebih rentan. Karena itu, kami memilih Melon Gold karena lebih sesuai dengan kondisi lingkungan,” kata Beni.

Dalam satu tanaman, kelompok tani tidak membiarkan terlalu banyak buah berkembang.

Maksimal hanya dua buah melon yang dipelihara.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Jumlah buah yang dibatasi dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan ukuran buah.

“Untuk mempertahankan kualitas, satu pohon hanya kami pelihara dua buah melon,” ujarnya.

Menurut Beni, buah yang berada di bagian atas tanaman menjadi salah satu indikator kualitas yang mereka perhatikan. Perawatan dilakukan secara selektif agar hasil yang dipanen tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas.

65–75 Hari yang Menentukan

MELON bukan komoditas yang dapat dipanen berkali-kali dari satu tanaman dalam satu siklus produksi.

Menurut Beni, melon yang dibudidayakan kelompoknya hanya dipanen satu kali. Karena itu, seluruh proses sejak awal pertumbuhan menjadi penting.

Masa pertumbuhan berkisar 65 hingga 75 hari. Dalam rentang waktu tersebut, petani harus memperhatikan kondisi tanaman dan melakukan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Berbagai jenis pupuk digunakan dalam proses budidaya.

Namun, Beni menekankan bahwa pupuk bukan satu-satunya penentu keberhasilan.

Pengolahan lahan, perawatan, dan ketepatan dalam menjalankan proses budidaya menjadi bagian yang tidak kalah penting.

“Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang paling utama adalah proses pengolahan dan perawatannya,” ujarnya.

Pengalaman dari panen perdana menjadi pembelajaran bagi kelompok tani. Hasil 1,5 ton menjadi pijakan untuk memperbaiki proses produksi pada musim berikutnya.

Kini, target 2,5 hingga 3 ton menjadi ukuran keberhasilan yang hendak dicapai.

Pasar Tidak Hanya di Tamiang

HASIL panen Melon Gold dari Kebun Tanjung Semantoh tidak hanya menyasar konsumen lokal.

Menurut Beni, pembeli juga datang dari luar Kabupaten Aceh Tamiang.

Pasarnya berkembang mengikuti kualitas buah yang dihasilkan.

Ia menyebut masyarakat keturunan Tionghoa sebagai salah satu kelompok konsumen yang memiliki minat tinggi terhadap melon.

Harga jual yang disebutkan berada di kisaran Rp20.000 per kilogram.

Dengan harga tersebut, kualitas menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari strategi budidaya.

Sebab, melon dengan kualitas yang baik akan memiliki peluang pasar yang lebih besar.

Sekolah Lapang: Belajar dari Kebun

PROGRAM tersebut tidak berhenti pada produksi.

Kelompok Tani Melon Mutiara bersama pihak pendukung program juga membuka sekolah lapang.

Konsepnya sederhana [kebun menjadi ruang belajar].

Masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana tanaman dipersiapkan, dirawat, hingga menghasilkan buah.

Beni mengatakan, sekolah lapang dibuka bagi masyarakat yang ingin mempelajari teknik budidaya melon dengan benar.

Dengan cara tersebut, pengetahuan tidak hanya berhenti pada anggota kelompok tani.

Petani lain dapat belajar dari pengalaman yang sudah berlangsung di lapangan.

Bagi program pemberdayaan, transfer pengetahuan menjadi penting karena keberlanjutan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sarana atau modal awal.

Pengetahuan yang dapat ditularkan dari satu petani kepada petani lainnya justru berpotensi menjadi modal jangka panjang.

Ketika Lahan Pertamina Menjadi Ruang Pemberdayaan

DATOK Kampung Kebun Tanjung Semantoh, Wahyu Risma Novita, S.E., menyampaikan apresiasi kepada PT Pertamina EP Rantau Field atas dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat di kampung tersebut.

Menurut Wahyu, dukungan itu diwujudkan melalui pengembangan budidaya melon sekaligus pembukaan sekolah lapang bagi warga.

Ia menilai program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian.

Dalam sambutannya pada kegiatan panen raya, Wahyu juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Pertamina, termasuk dalam proses awal pemanfaatan lahan dan pengembangan program budidaya.

“Terima kasih kepada PT Pertamina EP Rantau Field yang telah memberikan dukungan melalui program CSR untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya pengembangan budidaya melon dan sekolah lapang bagi warga,” kata Wahyu.

Menurutnya, program seperti itu diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Kampung Kebun Tanjung Semantoh.

Camat: Lahan Tidur Harus Menghasilkan

CAMAT Karang Baru, Fachrurazzi Syamsuyar, S.STP., M.AP., melihat pemanfaatan lahan tersebut dari sisi yang lebih luas.

Baginya, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat menjadi sumber ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Ia mengapresiasi PT Pertamina EP Rantau Field yang memberikan ruang bagi Kelompok Tani Melon Mutiara untuk mengembangkan budidaya pertanian.

Fachrurazzi menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan lahan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

“Lahan tidur yang sebelumnya tidak produktif dapat diolah menjadi sumber ekonomi masyarakat,” kata Fachrurazzi.

Ia menilai hasil budidaya Melon Gold menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya terlantar masih memiliki potensi untuk memberikan nilai ekonomi.

Buah melon yang dihasilkan memiliki berat sekitar 1,5 hingga 2 kilogram per buah.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa proses budidaya mulai memberikan hasil.

Namun, bagi pemerintah kecamatan, tantangan berikutnya adalah bagaimana kegiatan tersebut dapat berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat.

Pertamina: Dari Petani untuk Petani

FIELD Manager PT Pertamina EP Rantau Field, Tomy Wahyu Alimsyah, mengatakan pemanfaatan lahan milik perusahaan untuk kegiatan produktif merupakan bagian dari upaya mendorong pemberdayaan masyarakat.

Ia mengapresiasi gagasan pemanfaatan lahan tidur sebagai ruang pengembangan pertanian.

Menurut Tomy, gagasan tersebut dapat memberikan nilai tambah apabila dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat.

“Menarik apa yang disampaikan Pak Camat, bahwa lahan tidur milik Pertamina dapat dimanfaatkan menjadi sumber nilai ekonomi yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Aceh Tamiang,” ujar Tomy.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Kelompok Tani Melon Mutiara yang terus belajar dan mengembangkan kemampuan dalam budidaya melon.

Pertamina, kata Tomy, mendukung keberadaan sekolah lapang sebagai bagian dari edukasi pertanian.

Melalui sekolah lapang, pengetahuan mengenai budidaya melon diharapkan tidak berhenti pada satu kelompok.

Petani dapat belajar dari petani.

Pengetahuan tersebut kemudian diharapkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Dari petani, untuk petani, dan untuk generasi berikutnya,” kata Tomy.

Target Berikutnya: Memperluas Lahan

PANEN kedua belum menjadi garis akhir bagi Kelompok Tani Melon Mutiara.

Beni mengatakan kelompoknya memiliki rencana untuk menambah luas lahan budidaya. Namun, pengembangan tersebut direncanakan berada di luar lokasi yang saat ini digunakan.

Rencana itu menunjukkan bahwa pengalaman dari dua kali siklus panen mulai memberikan kepercayaan diri bagi kelompok tani untuk mengembangkan kegiatan.

Namun, perluasan lahan tentu akan membawa tantangan baru.

Semakin luas lahan, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga kerja, sarana produksi, pemeliharaan, pengendalian kualitas, serta kepastian pasar.

Karena itu, keberhasilan budidaya tidak semata-mata diukur dari berapa ton melon yang dapat dipanen.

Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan kelompok menjaga kualitas, menemukan pasar, mengembangkan pengetahuan, dan memastikan kegiatan tetap berjalan setelah dukungan program berakhir.

[Beni Fauzi. Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara]

“Untuk mempertahankan kualitas, satu pohon hanya kami pelihara dua buah melon.”

65–75 hari

MASA pertumbuhan hingga panen.

2 buah

Jumlah buah yang dipelihara dalam satu tanaman untuk menjaga kualitas.

Rp20.000/kg

Harga jual yang disebutkan oleh kelompok tani.

2,5–3 ton

Target produksi pada panen kedua.

1,5 ton

Capaian produksi pada panen perdana.

Kalimat tersebut menjadi gambaran pendekatan pemberdayaan yang ingin dibangun melalui sekolah lapang: pengetahuan budidaya tidak berhenti pada satu kelompok, tetapi dapat berkembang dan diteruskan kepada petani lain.

Dua Buah Melon Satu Pohon

DI KEBUN Tanjung Semantoh, perubahan itu tidak datang dalam semalam.

Ada tanah yang harus dibersihkan, tanaman yang harus dirawat, buah yang harus diseleksi, dan pengetahuan yang harus terus dipelajari.

Dua buah melon dalam satu tanaman mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik keputusan tersebut terdapat pilihan untuk mengutamakan kualitas daripada sekadar mengejar jumlah.

Panen perdana 1,5 ton menjadi pengalaman.

Panen kedua dengan target 2,5 hingga 3 ton menjadi tantangan.

Dan rencana memperluas lahan menjadi langkah berikutnya.

Pada akhirnya, cerita Melon Mutiara bukan hanya tentang buah yang dipanen dari tanah.

Ia adalah cerita tentang bagaimana lahan yang sebelumnya belum produktif dicoba untuk dihidupkan kembali, bagaimana petani belajar dari kebun mereka sendiri, dan bagaimana sebuah program pemberdayaan diuji oleh satu pertanyaan sederhana:

Mampukah lahan yang hari ini menghasilkan melon, terus menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat pada tahun-tahun berikutnya?. []

No More Posts Available.

No more pages to load.