SERANG| Forumrakyat.co.id – Kamis (13/8/2026) — Apa yang menjadi ancaman nyata bagi generasi muda di era digital saat ini? Salah satu jawabannya adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kehadiran AI memang memberikan banyak kemudahan. Berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan cepat dan efisien. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi membuat kemampuan berpikir manusia menjadi tumpul dan tidak lagi terasah. Jika tidak dikendalikan, AI justru dapat memperbudak manusia.
Kendali atas perkembangan AI menjadi salah satu tantangan Indonesia menjelang 81 tahun kemerdekaan. Tantangan ini semakin besar karena generasi muda mulai terbiasa menggunakan teknologi tersebut dalam berbagai aspek kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Caturida Meiwanto Doktoralina, Ph.D., M.Ak., yang akrab disapa Pak Doktor, saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Banten, Rabu (12/8/2026).
Taprof Lemhannas RI yang juga dosen Universitas Dian Nusantara (Undira), Jakarta, itu membawakan materi bertema “Kearifan Lokal dan Pemahaman Hak dan Kewajiban dalam Bela Negara.” Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga jati diri bangsa di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi.
Menurut Pak Doktor, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, integritas, dan nilai-nilai kebangsaan.
“Kita harus menguasai AI dan perkembangan teknologi. Namun, jangan sampai kemajuan membuat generasi muda kehilangan jati diri, nilai kebangsaan, dan tanggung jawab sebagai warga negara,” kata Pak Doktor.
Ia menilai, makna kemerdekaan pada era digital juga harus diwujudkan melalui kemampuan generasi muda untuk berpikir mandiri, kritis terhadap informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi bagi kepentingan masyarakat dan bangsa.
Kearifan Lokal Jadi Perisai
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan AI, kearifan lokal dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga identitas kebangsaan.
Menurut Pak Doktor, kearifan lokal bukan sekadar tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan yang mampu membentuk identitas, memperkuat gotong royong, solidaritas, etika, serta kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks Banten, ia menyoroti nilai religiusitas, gotong royong, keberanian, musyawarah, solidaritas, serta penghormatan terhadap budaya dan sejarah.
“Dalam konteks Banten, saya menyoroti religiusitas, gotong royong, keberanian, musyawarah, solidaritas, serta penghormatan terhadap budaya dan sejarah sebagai perisai sekaligus senjata. Ketokohan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi warisan bagi masyarakat Banten dalam membangun nilai keberanian, kemandirian, kepemimpinan, perjuangan, dan keberpihakan terhadap kepentingan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjadi modern bukan berarti menggergaji pohon dan mencabut akarnya. Sebaliknya, nilai-nilai kearifan lokal harus terus dihidupkan melalui berbagai cara, termasuk menanam kembali bibit dan menjaganya agar tumbuh besar.
Bibit yang ditanam hari ini, menurutnya, bukan semata-mata untuk dinikmati oleh penanamnya, melainkan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Bela Negara di Era AI
Kepada para mahasiswa, Pak Doktor juga mengingatkan bahwa hakikat bela negara harus mengikuti perubahan zaman.
Bela negara, kata dia, merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara melalui profesi masing-masing dan menjadi kewajiban setiap warga negara Indonesia.
“Bagi mahasiswa, bela negara harus berwujud menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kesungguhan belajar, lulus tepat waktu dengan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas sebagai mahasiswa, merupakan bagian dari bela negara. Nilai-nilai tersebut kemudian harus diamalkan dalam pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa integritas mahasiswa harus diwujudkan melalui keterlibatan dalam melawan hoaks dan disinformasi, menolak miskomunikasi, serta menghindari dampak negatif kebohongan publik, termasuk melalui teknologi deepfake.
“Kehancuran sebuah nilai sangat mungkin terjadi ketika generasi muda, termasuk mahasiswa, tidak mampu melawan deepfake. Bela negara hanya menjadi sebuah mimpi jika kesadaran untuk melawan deepfake lemah karena mahasiswa tidak memiliki jati diri dan integritas,” tegasnya.
Kampus Harus Jadi Agen Perubahan
Dalam penutup pembekalannya, Pak Doktor meminta perguruan tinggi mengambil posisi strategis sebagai agent of change atau agen perubahan.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan tinggi juga harus membentuk manusia yang memiliki karakter kebangsaan, integritas, kemampuan beradaptasi, serta semangat menjadi pejuang bangsa.
Presiden Mahasiswa UNTIRTA, Muhamad Ridam, menyambut pesan tersebut. Ia menegaskan mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan AI tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, kesungguhan belajar, kejujuran akademik, sikap kritis terhadap hoaks, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan bentuk nyata bela negara di lingkungan kampus.
Sementara itu, Al Kautsar Azhari, yang mewakili mahasiswa, menilai nasionalisme harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Menguasai AI tidak berarti menyerahkan kemampuan berpikir kepada mesin. Ilmu dan teknologi harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
Sinergi Lemhannas, Kampus dan TNI
Rangkaian kegiatan Pak Doktor di Banten juga mendapat sambutan dari jajaran Kodim 0602/Serang di bawah Korem 064/Maulana Yusuf.
Kedatangan Tenaga Profesional Lemhannas RI tersebut disambut Komandan Kodim 0602/Serang, Kolonel Arm. Oke Kisrtiyanto, S.A.P., bersama Kapten Inf Supandi, selaku Komandan Koramil (Danramil) 0602-09/Cikeusal.
Sinergi antara Lemhannas RI, perguruan tinggi, mahasiswa, dan komando kewilayahan tersebut memperkuat pesan menjelang 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
AI boleh hidup dan berkembang. Namun, jati diri bangsa harus jauh lebih kuat. (**)








