Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian

oleh
oleh

Oleh: Fajar Darwis TU

Forumrakyat.co.id —  Saya sering berpikir, sebenarnya setelah perdamaian Aceh, apa yang harus kita lakukan?

Pertanyaan ini mungkin sederhana. Tapi semakin dipikirkan, jawabannya tidak sederhana.

Kita tahu, Aceh pernah melewati masa konflik yang panjang. Banyak orang yang hidup di masa itu pasti punya cerita masing-masing. Ada yang kehilangan keluarga, kehilangan harta, kehilangan masa muda, bahkan ada yang harus hidup dengan trauma sampai sekarang.

Kemudian datanglah perdamaian.

Perdamaian menjadi sebuah titik penting dalam perjalanan Aceh. Orang-orang yang sebelumnya berhadapan dalam konflik kemudian masuk ke dalam ruang politik dan pemerintahan. Masyarakat juga bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Semua itu tentu harus kita hargai.

Tetapi menurut saya, ada pertanyaan lain yang mulai perlu kita pikirkan.

Setelah perang berhenti, sebenarnya Aceh mau menjadi apa?

Menurut saya, inilah pertanyaan untuk generasi kedua perdamaian Aceh.

Generasi pertama adalah mereka yang mengalami konflik dan ikut memperjuangkan perdamaian. Mereka punya sejarah yang tidak boleh kita hapus begitu saja.

Tetapi generasi setelahnya tidak mungkin terus hidup dengan pertanyaan yang sama.

Bukan lagi hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bukan juga soal siapa yang paling berjasa dalam perjuangan.

Pertanyaan kita sekarang seharusnya lebih sederhana:

Apa yang bisa kita bangun setelah perdamaian?

Saya melihat Aceh sebenarnya punya banyak modal.

Kita punya laut yang luas. Kita punya pertanian, perkebunan, kopi, hutan, pariwisata, budaya dan sejarah. Letak Aceh juga cukup strategis karena berada di bagian paling barat Indonesia dan dekat dengan jalur perdagangan internasional.

Tetapi terkadang saya merasa kita masih terlalu sibuk membicarakan politik, sementara pembicaraan tentang ekonomi jangka panjang belum mendapatkan perhatian yang sama besar.

Misalnya soal industri.

Kenapa Aceh tidak memiliki lebih banyak industri yang mengolah hasil pertanian dan perkebunan sendiri?

Kopi Aceh sudah terkenal. Tetapi jangan sampai Aceh hanya menjadi tempat menanam kopi, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati di tempat lain.

Ilustrasi AI

Begitu juga hasil laut dan pertanian.

Kalau hanya dijual sebagai bahan mentah, nilai yang didapat tentu berbeda dengan kalau kita mampu mengolahnya sendiri.

Ini mungkin terdengar sederhana. Tapi justru hal-hal seperti inilah yang menurut saya harus mulai dipikirkan.

Kemudian ada laut.

Selama ini kita sering melihat laut sebagai kekayaan Aceh. Tetapi apakah kita sudah benar-benar menjadikan laut sebagai kekuatan ekonomi?

Perikanan, pelabuhan, perdagangan, wisata bahari dan industri hasil laut sebenarnya bisa menjadi bagian dari masa depan Aceh.

Aceh jangan hanya menjadi daerah yang berada di dekat jalur perdagangan.

Kalau memang letaknya strategis, kenapa tidak mencoba menjadi bagian penting dari jalur tersebut?

Hal yang sama juga berlaku untuk pariwisata.

Aceh punya banyak tempat indah. Tapi menurut saya, wisata Aceh jangan hanya dijual dengan kalimat “pemandangannya indah”.

Kita punya sejarah, budaya, kopi, kuliner, pulau, laut, gunung dan cerita masyarakat yang sebenarnya sangat menarik.

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana semua itu dikemas dengan baik sehingga wisatawan datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di masyarakat.

Dan yang tidak kalah penting adalah pendidikan.

Kalau generasi pertama perdamaian berjuang dalam situasi yang sangat sulit, maka generasi berikutnya harus punya medan perjuangan yang berbeda.

Medannya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.

Anak muda Aceh harus punya kesempatan untuk belajar teknologi, bisnis, ekonomi digital, pertanian modern, energi dan berbagai keahlian baru.

Jangan sampai anak-anak muda Aceh hanya menjadi pengguna teknologi.

Kalau bisa, mereka harus menjadi orang yang membuat teknologi.

Saya juga berpikir, sudah waktunya kita tidak terlalu membebani generasi muda dengan konflik masa lalu.

Sejarah tetap penting.

Perjuangan tetap penting untuk dikenang.

Tetapi sejarah seharusnya menjadi pelajaran, bukan menjadi tempat kita tinggal selamanya.

Generasi muda tidak harus mewarisi semua pertengkaran generasi sebelumnya.

Mereka cukup mewarisi pelajarannya.

Karena pada akhirnya, masyarakat membutuhkan sesuatu yang nyata.

Petani membutuhkan pasar.

Nelayan membutuhkan industri.

Anak muda membutuhkan pekerjaan.

Pengusaha membutuhkan kesempatan.

Dan keluarga membutuhkan masa depan yang lebih baik.

Mungkin inilah yang saya maksud dengan generasi kedua perdamaian Aceh.

Bukan berarti melupakan perjuangan generasi sebelumnya.

Justru sebaliknya, menghargai perjuangan mereka dengan cara melanjutkan apa yang belum selesai.

Kalau generasi pertama berjuang untuk mengakhiri konflik, mungkin generasi kedua harus berjuang untuk membangun Aceh.

Bukan dengan senjata.

Tetapi dengan pendidikan.

Bukan dengan konflik.

Tetapi dengan ekonomi.

Bukan dengan memperbesar perbedaan.

Tetapi dengan membangun sesuatu yang bisa dirasakan bersama.

Saya kira, sudah waktunya kita mulai mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

“Siapa yang menang dan siapa yang kalah?”

Tetapi:

“Apa yang sudah kita bangun setelah perdamaian?”

Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting lagi:

“Apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi Aceh setelah kita?”

Menurut saya, dari sinilah pembicaraan tentang generasi kedua perdamaian Aceh harus dimulai. FDTU

No More Posts Available.

No more pages to load.