Forumrakyat.co.id – Di tengah bentang alam dataran tinggi Gayo yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan, masyarakat Aceh Tengah menyimpan kekayaan seni tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satunya adalah Tari Bines, kesenian tradisional masyarakat Gayo yang tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, tetapi juga menyampaikan syair, nasihat, kesedihan serta pesan kehidupan.
Tari Bines tumbuh dan berkembang di kawasan pedesaan yang secara historis berada di sekitar wilayah bekas Kerajaan Linge, antara lain Linge, Jamat, Serna Kilang, Pante Nangka dan sejumlah kawasan lainnya. Dalam perkembangannya, kesenian ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedalaman Gayo.
Pada masa ketika akses transportasi dan teknologi informasi belum semudah sekarang, kesenian tradisional menjadi salah satu bentuk hiburan penting bagi masyarakat. Berbagai acara adat, terutama perkawinan dan penyambutan tamu, menjadi ruang bagi Tari Bines untuk ditampilkan.
Bagi masyarakat setempat, pertunjukan Bines bukan sekadar hiburan. Kehadirannya juga menjadi kebanggaan karena memperlihatkan identitas budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Seni yang Tumbuh dari Kehidupan Masyarakat
Keterbatasan akses pada masa lalu justru membuat Tari Bines berkembang dalam lingkungan budaya yang relatif kuat. Pertunjukannya lebih banyak dilakukan di antara masyarakat yang memiliki hubungan sosial dan kekerabatan yang dekat.
Undangan pertunjukan bahkan kerap datang dari kampung-kampung sekitar yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Kondisi tersebut membuat perkembangan Tari Bines berlangsung secara khas. Gerak, lagu, syair serta pola penampilannya diwariskan secara turun-temurun sehingga memiliki kemiripan antara satu kampung dengan kampung lainnya.
Dalam konteks pelestarian budaya, karakter tersebut menjadi salah satu keunikan Bines. Kesenian ini mampu mempertahankan bentuk tradisionalnya sekaligus menjaga unsur-unsur lokal yang menjadi identitas masyarakat Gayo.
Syair menjadi salah satu kekuatan utama Tari Bines.
Tidak seperti pertunjukan tari yang mengandalkan alat musik sebagai pengiring utama, Bines dikenal menggunakan suara dan nyanyian para penari sebagai bagian penting dalam membangun suasana pertunjukan.
Syair yang dilantunkan dapat berisi ungkapan kesedihan, nasihat, pesan moral hingga gambaran kehidupan masyarakat. Dengan demikian, Bines tidak hanya dapat dinikmati sebagai pertunjukan visual, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai dan pengetahuan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya.
Gerak Sederhana, Sarat Makna
Dari sisi gerak, Tari Bines memiliki karakter yang khas. Para penari bergerak secara serempak dan berirama, menciptakan kesan harmonis dalam sebuah kelompok.
Gerakannya antara lain dilakukan dengan menggoyangkan pinggul sambil menepukkan kedua tangan. Posisi tubuh dapat sedikit membungkuk, kemudian diikuti gerakan mengayunkan kedua tangan dan memainkan jari-jari.
Pola gerakan tersebut dilakukan secara berkelompok, termasuk dalam formasi melingkar sambil melantunkan syair.
Keserempakan menjadi bagian penting karena kekuatan pertunjukan Bines justru terletak pada perpaduan gerak para penari.
Jika diperhatikan, gerak Tari Bines dapat memberikan gambaran tentang karakter alam Gayo. Gerak yang naik dan turun, bergerak ke kanan dan kiri serta dilakukan secara beriringan seolah menggambarkan dinamika bentang alam pegunungan dengan bukit dan lembah.
Pertunjukan Bines dapat dilakukan di berbagai tempat, baik di atas panggung maupun di ruang terbuka. Fleksibilitas tersebut membuatnya tetap dapat hadir dalam berbagai kegiatan budaya dan masyarakat.
Nurlaila: Mari Rawat Seni yang Menjadi Identitas Gayo
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Tari Bines merupakan salah satu kekayaan seni tradisional yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara seni, kehidupan masyarakat dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
“Tari Bines bukan hanya tentang gerakan tari, tetapi juga tentang syair dan pesan yang diwariskan masyarakat Gayo. Karena itu, kita perlu menjaga kesenian ini agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi muda,” ujar Nurlaila.
Menurutnya, pelestarian seni tradisional membutuhkan keterlibatan bersama, terutama generasi muda yang akan menjadi penerus kebudayaan.
“Mari kita rawat dan hidupkan terus seni tradisi kita. Anak-anak muda dapat mengenalnya melalui sanggar, sekolah, festival, pertunjukan maupun ruang digital. Semakin sering dikenalkan dan dimainkan, semakin besar peluang warisan budaya ini untuk terus hidup,” katanya.
Menjaga Bines di Tengah Modernisasi
Perkembangan zaman menghadirkan tantangan tersendiri bagi kesenian tradisional. Modernisasi, perubahan pola hiburan, perkembangan teknologi serta semakin terbukanya akses masyarakat terhadap berbagai bentuk kesenian dari luar daerah dapat memengaruhi keberadaan seni tradisional.
Namun, Tari Bines memiliki modal penting untuk terus bertahan. Bukan hanya karena geraknya yang khas, tetapi juga karena di dalamnya tersimpan syair dan pesan moral yang relevan untuk diwariskan kepada generasi muda.
Pelestarian Bines dapat dilakukan melalui sanggar seni, pendidikan di sekolah, festival budaya, dokumentasi digital hingga pertunjukan dalam agenda pariwisata Gayo.
Upaya tersebut penting agar Bines tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap menjadi kesenian yang hidup dan dikenal masyarakat luas.
Di tengah pesona Danau Laut Tawar, perkebunan kopi Gayo serta panorama pegunungan Aceh Tengah, Tari Bines menjadi bagian lain dari daya tarik budaya dataran tinggi Gayo.
Tari ini menunjukkan bahwa kekayaan sebuah daerah tidak hanya berada pada keindahan alamnya. Ia juga hidup dalam gerak, suara, syair dan ingatan masyarakat yang terus diwariskan.
Tari Bines adalah cermin budaya Gayo: sederhana dalam gerak, kuat dalam syair dan kaya akan pesan kehidupan.
Menjaganya bukan hanya tugas pemerintah atau pelaku seni. Merawat Bines adalah bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan suara dan nilai budaya Gayo tetap terdengar di tengah perubahan zaman. ADV







