Warisan Bunyi Tanah Rencong, Ketika Alat Musik Menyimpan Sejarah dan Identitas

oleh
oleh

Forumrakyat.co.id  Kekayaan budaya Aceh tidak hanya dapat ditemukan dalam tarian, syair dan teater rakyat. Di balik berbagai pertunjukan tradisional, terdapat alat-alat musik yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan menyimpan cerita tentang sejarah, adat, komunikasi hingga aktivitas sehari-hari.

Dari tiupan Bangsi Alas di dataran tinggi Aceh Tenggara, lantunan Serune Kalee di berbagai wilayah Aceh, tabuhan Rapai dan Geundrang, hingga bunyi Celempong di Aceh Tamiang, setiap alat musik memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa musik tradisional Aceh bukan sekadar hiburan. Sebagian alat musik dahulu berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat, penanda kegiatan adat, pengiring tari, hingga bagian dari kehidupan sosial.

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan keberadaan alat musik tradisional perlu dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang menyimpan pengetahuan dan identitas masyarakat.

“Setiap alat musik tradisional memiliki cerita dan fungsi yang berbeda. Ada yang menjadi pengiring seni pertunjukan, ada yang dahulu digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat, dan ada pula yang erat dengan tradisi adat. Karena itu, pelestariannya bukan hanya menjaga alatnya, tetapi juga menjaga pengetahuan, cara memainkan, serta nilai budaya yang ada di dalamnya.”

Bangsi Alas, Suara Tradisi dari Tanah Alas

Di Kabupaten Aceh Tenggara, masyarakat Alas mengenal Bangsi Alas, alat musik tiup yang dibuat dari bambu.

Bangsi memiliki kisah tradisional yang unik dalam proses pembuatannya. Dalam penuturan masyarakat, pembuatan Bangsi dikaitkan dengan adanya orang yang meninggal dunia di kampung tempat alat musik tersebut dibuat.

Bangsi yang telah selesai dibuat kemudian dihanyutkan ke sungai. Setelah diambil oleh anak-anak yang menemukannya, alat tersebut kembali diambil oleh pembuatnya. Bangsi yang melalui proses tersebut dipercaya menghasilkan suara yang merdu.

Dalam perkembangannya, terdapat pula Bangsi milik kalangan berada yang dihias menggunakan perak atau suasa.

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa alat musik dalam masyarakat tradisional tidak hanya memiliki aspek teknis, tetapi juga dibalut dengan kepercayaan dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Serune Kalee, Identitas Musik Tradisional Aceh

Jika berbicara tentang musik tradisional Aceh, Serune Kalee merupakan salah satu instrumen yang memiliki posisi penting.

Alat musik tiup ini dikenal di berbagai wilayah Aceh, antara lain Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Serune Kalee umumnya dimainkan bersama Rapai dan Geundrang, terutama dalam pertunjukan seni, tari-tarian maupun penyambutan tamu.

Bahan pembuatannya menggunakan material seperti kayu, kuningan dan tembaga. Bentuknya menyerupai alat musik tiup sejenis serunai, dengan karakter bunyi yang khas.

Dalam berbagai pertunjukan tradisional, Serune Kalee, Geundrang dan Rapai membentuk satu kesatuan musikal yang menjadi salah satu warna penting dalam kebudayaan Aceh.

Rapai, Denyut Perkusi Tanah Rencong

Rapai merupakan alat musik perkusi yang terbuat dari kayu dan kulit. Bentuknya menyerupai rebana dan dimainkan dengan cara dipukul.

Rapai hadir dalam berbagai bentuk dan fungsi. Di antaranya dikenal Rapai Pasee atau Rapai Gantung, Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng, Rapai Pulot, serta Rapai Anak.

Keberadaan berbagai jenis Rapai menunjukkan luasnya tradisi perkusi dalam kesenian Aceh. Tabuhannya menjadi pengiring berbagai pertunjukan dan kerap berpadu dengan syair serta gerakan tari.

Dalam konteks seni pertunjukan, Rapai bukan hanya menghasilkan ritme. Ia menjadi bagian dari energi pertunjukan yang membangun suasana sekaligus memperkuat kekompakan para pemain.

Geundrang, Pengatur Tempo Musik Aceh

Pasangan penting dalam perangkat musik tradisional Aceh adalah Geundrang.

Alat musik pukul ini dimainkan menggunakan tangan atau pemukul dan dikenal di sejumlah wilayah, termasuk Aceh Besar serta kawasan pesisir seperti Pidie dan Aceh Utara.

Dalam perangkat musik Serune Kalee, Geundrang berperan memberikan dan menjaga tempo sehingga permainan musik terdengar lebih dinamis dan teratur.

Perpaduan Serune Kalee, Geundrang dan Rapai menjadi salah satu bentuk ensambel tradisional yang terus mewarnai berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat Aceh.

Tambo, Dahulu Penanda Waktu dan Pengumpul Warga

Tidak semua alat musik tradisional Aceh sejak awal diciptakan untuk pertunjukan.

Tambo, misalnya, merupakan alat pukul yang pada masa lalu memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Tambo dibuat menggunakan bahan seperti batang iboh, kulit sapi dan rotan sebagai peregang kulit.

Dalam kehidupan masyarakat dahulu, bunyi Tambo digunakan untuk menyampaikan tanda waktu, termasuk berkaitan dengan waktu salat, serta mengumpulkan masyarakat ke meunasah untuk membicarakan berbagai persoalan kampung.

Namun, perubahan teknologi komunikasi membuat fungsi tersebut semakin ditinggalkan. Kehadiran pengeras suara dan perangkat komunikasi modern menyebabkan penggunaan Tambo semakin jarang.

Kondisi ini menjadikan Tambo salah satu alat tradisional yang membutuhkan perhatian dalam upaya pelestarian.

Taktok Trieng, dari Meunasah hingga Tengah Sawah

Taktok Trieng merupakan alat pukul yang dibuat dari bambu dan dikenal di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Pidie dan Aceh Besar.

Dalam penggunaannya, terdapat Taktok Trieng yang ditempatkan di meunasah, balai pertemuan atau tempat-tempat tertentu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Ada pula bentuk yang digunakan di persawahan. Alat tersebut ditempatkan di tengah sawah dan dihubungkan dengan tali menuju dangau. Ketika digerakkan, bunyinya digunakan untuk mengusir burung atau gangguan lain yang dapat merusak tanaman padi.

Dari meunasah hingga sawah, Taktok Trieng memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu memanfaatkan bunyi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bereguh, Alat Komunikasi dari Tanduk Kerbau

Ada pula Bereguh, alat tiup tradisional yang dibuat dari tanduk kerbau.

Pada masa lalu, Bereguh dikenal di sejumlah wilayah seperti Aceh Besar, Pidie dan Aceh Utara. Alat ini memiliki jangkauan nada yang terbatas, dengan variasi bunyi yang sangat bergantung pada teknik meniup.

Fungsi utamanya bukan sebagai alat musik pertunjukan, melainkan alat komunikasi, khususnya ketika seseorang berada di hutan atau berada cukup jauh dari orang lain.

Seiring perkembangan teknologi komunikasi, penggunaan Bereguh semakin jarang ditemukan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana perubahan zaman dapat membuat fungsi alat tradisional perlahan tergantikan.

Canang, Bunyi yang Mengiringi Tradisi

Canang merupakan salah satu alat musik tradisional yang dikenal luas di berbagai daerah Aceh.

Umumnya Canang dibuat dari kuningan dan bentuknya menyerupai gong berukuran tertentu. Meski terdapat di banyak wilayah, fungsi dan pemaknaannya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Secara umum, Canang digunakan untuk mengiringi tarian tradisional. Dalam kehidupan masyarakat, alat ini juga pernah menjadi bagian dari hiburan, termasuk dimainkan oleh kelompok perempuan muda ketika berkumpul setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah atau pada waktu senggang.

Celempong, Warisan Bunyi dari Tamiang

Di Aceh Tamiang terdapat Celempong, alat musik tradisional yang memiliki bentuk dan cara memainkan yang khas.

Celempong terdiri atas beberapa potongan kayu yang disusun dan dimainkan dengan posisi tertentu di antara kedua kaki pemain.

Secara tradisional, Celempong banyak dimainkan oleh perempuan, khususnya gadis-gadis. Alat musik ini juga digunakan sebagai pengiring Tari Inai, salah satu tradisi budaya masyarakat Tamiang.

Keberadaan Celempong yang telah lama hidup di tengah masyarakat menunjukkan bahwa Aceh Tamiang memiliki khazanah musik tradisional yang tidak kalah menarik dibandingkan wilayah Aceh lainnya.

Namun, kemampuan memainkan Celempong kini semakin terbatas pada generasi tertentu. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya proses regenerasi agar keterampilan memainkan alat musik tradisional tidak berhenti pada generasi tua.

Merawat Bunyi, Menjaga Ingatan Budaya

Beragam alat musik tersebut memperlihatkan satu hal penting: musik tradisional Aceh memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat.

Ada alat yang digunakan untuk mengiringi tarian, ada yang menghidupkan suasana perayaan, ada yang menjadi bagian dari adat, bahkan ada yang dahulu digunakan untuk berkomunikasi dan mengatur kehidupan masyarakat.

Nurlaila menilai pelestarian alat musik tradisional membutuhkan keterlibatan lintas generasi.

“Tantangan kita adalah bagaimana alat-alat musik tradisional ini tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi muda. Dokumentasi, pendidikan, komunitas seni, pertunjukan dan pemanfaatan media digital dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan tersebut. Jangan sampai kita hanya mengenal namanya, tetapi tidak lagi mengetahui bagaimana bunyi dan cara memainkannya.”

Di tengah kemajuan teknologi, alat komunikasi modern dan berkembangnya industri musik, keberadaan alat musik tradisional memang menghadapi tantangan.

Namun, warisan tersebut masih memiliki ruang untuk berkembang. Sekolah, sanggar seni, komunitas budaya, pemerintah daerah dan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses regenerasi.

Sebab setiap tabuhan dan tiupan bukan hanya menghasilkan suara.

Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, pengetahuan lokal dan ingatan kolektif masyarakat Aceh.

Dari Bangsi Alas hingga Celempong Tamiang, dari Serune Kalee hingga Rapai, dari Tambo hingga Bereguh, semuanya menjadi bagian dari mozaik besar seni musik Aceh.

Menjaga alat musik tradisional berarti memastikan suara masa lalu tetap memiliki tempat di masa depan. Adv

No More Posts Available.

No more pages to load.