Tamiang Bangkit, Menata Kembali dari Puing Banjir

oleh

“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan kehidupannya dengan aman dan layak.”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang]

  • Sepuluh bulan setelah banjir hidrometeorologi, pemulihan Aceh Tamiang masih berlangsung. Di tengah kerusakan rumah, lahan pertanian, perkebunan, dan infrastruktur, pemerintah daerah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat.

SEPULUH bulan bukan waktu yang singkat. Namun bagi masyarakat Aceh Tamiang yang terdampak banjir hidrometeorologi, waktu belum sepenuhnya menghapus dampak bencana.

Rumah yang rusak, lahan pertanian dan perkebunan yang terdampak, infrastruktur yang porak-poranda, hingga hilangnya sumber penghidupan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setelah banjir berlalu.

Bencana itu meninggalkan pekerjaan besar bagi pemerintah daerah. Pemulihan tidak cukup hanya dengan membersihkan lumpur dan memperbaiki jalan.

Kehidupan masyarakat harus kembali ditata, mulai dari tempat tinggal, ekonomi, fasilitas umum, hingga infrastruktur yang menjadi penopang aktivitas sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, bersama jajaran pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait, mendorong percepatan pemulihan.

Upaya tersebut kemudian mendapat apresiasi tingkat nasional melalui penghargaan Pemimpin Daerah Award 2026 dari iNewsTV untuk kategori “Tamiang Bangkit”.

Penghargaan itu menjadi catatan atas upaya pemerintah daerah dalam menangani proses pemulihan pascabencana.

Namun, penghargaan bukanlah akhir dari pekerjaan. Di lapangan, masih terdapat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang harus diselesaikan.

Dari Bencana Menuju Pemulihan

BANJIR hidrometeorologi yang melanda Aceh Tamiang meninggalkan dampak luas terhadap masyarakat dan berbagai sektor kehidupan.

Kerusakan rumah membuat sebagian warga harus menempati hunian sementara. Sementara itu, kerusakan infrastruktur mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Pada kondisi seperti ini, pemerintah daerah menghadapi dua pekerjaan sekaligus [menangani kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek dan menyiapkan pemulihan jangka panjang].

Armia Pahmi memilih memperkuat koordinasi lintas sektor.

Pemerintah kabupaten bergerak bersama TNI, Polri, jajaran Sekretariat Daerah, perangkat daerah, lembaga terkait, serta badan usaha milik negara.

Koordinasi tersebut diarahkan untuk mempercepat penanganan kebutuhan masyarakat, sekaligus memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai tahapan.

Pemulihan rumah menjadi salah satu pekerjaan penting. Masyarakat membutuhkan tempat tinggal yang layak setelah rumah mereka mengalami kerusakan atau kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

Hunian sementara menjadi solusi pada tahap awal. Setelah itu, perhatian diarahkan pada pembangunan kembali hunian tetap bagi masyarakat terdampak.

Proses tersebut membutuhkan pendataan, perencanaan, anggaran, dan koordinasi dengan pemerintah pusat.

Mengawal Anggaran dari Pusat

BESARNYA dampak bencana membuat kemampuan pemerintah daerah tidak cukup jika hanya mengandalkan anggaran daerah.

Karena itu, komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat menjadi bagian penting dalam agenda pemulihan Aceh Tamiang.

Armia Pahmi melakukan berbagai upaya untuk memperoleh dukungan anggaran dan program pemerintah pusat. Tujuannya adalah memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani secara bertahap.

Sekitar 85 ribu jiwa penyintas menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian dalam proses pemulihan tersebut.

Angka itu menggambarkan besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan. Pemulihan bukan sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga mengembalikan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pertanian dan perkebunan, kerusakan lahan berarti hilangnya sumber pendapatan. Bagi pelaku usaha kecil, terganggunya aktivitas ekonomi berarti berkurangnya penghasilan keluarga.

Karena itu, pemulihan harus berjalan secara menyeluruh.

Pemerintahan yang Bergerak Bersama

PERCEPATAN pemulihan juga tidak dapat dibebankan kepada seorang kepala daerah.

Pemerintah kabupaten membutuhkan dukungan banyak pihak. TNI dan Polri berperan dalam penanganan lapangan. Perangkat daerah menangani sektor sesuai kewenangan masing-masing.

Lembaga pemerintah dan BUMN turut mendukung sesuai kapasitas dan program yang dimiliki.

Dalam kondisi pascabencana, pola kerja semacam itu menjadi penting karena kebutuhan masyarakat datang secara bersamaan.

Jalan harus diperbaiki. Jembatan harus dipulihkan. Rumah harus dibangun. Pelayanan publik harus kembali berjalan. Perekonomian masyarakat harus digerakkan.

Di tengah tuntutan tersebut, pemerintah daerah dituntut mampu menentukan prioritas sekaligus menjaga koordinasi.

Armia Pahmi menempatkan agenda pemulihan sebagai salah satu pekerjaan utama pemerintahannya.

Langkah tersebut tidak selalu berlangsung cepat. Ada proses administrasi, verifikasi data, penganggaran, koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta pelaksanaan pembangunan di lapangan.

Namun, tahapan itu harus terus dikawal agar tidak berhenti pada perencanaan.

Penghargaan dan Pekerjaan yang Belum Selesai

PENGHARGAAN Pemimpin Daerah Award 2026 dalam kategori “Tamiang Bangkit” memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Armia Pahmi dalam mendorong pemulihan Aceh Tamiang.

Bagi pemerintah daerah, penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi untuk melanjutkan pekerjaan.

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan pemulihan bukan semata penghargaan.

Ukuran yang lebih nyata berada di lapangan: rumah yang kembali berdiri, infrastruktur yang kembali berfungsi, ekonomi masyarakat yang bergerak, lahan produktif yang kembali dimanfaatkan, serta pelayanan publik yang pulih.

Di titik itulah pekerjaan Armia Pahmi dan pemerintah daerah masih berlangsung.

Sepuluh bulan setelah banjir, sebagian masyarakat mungkin telah kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.

Masih ada rumah yang harus dibangun. Infrastruktur yang harus diperbaiki. Ekonomi yang harus dipulihkan. Dan masyarakat yang membutuhkan kepastian bahwa kehidupan mereka akan kembali normal.

Tamiang yang Terus Bergerak

BENCANA telah mengubah banyak hal di Aceh Tamiang. Namun, kehidupan tidak berhenti setelah banjir surut.

Pemerintah daerah bersama masyarakat harus menghadapi tahap yang tidak kalah berat [membangun kembali].

Armia Pahmi kini berada pada fase tersebut. Setelah masa tanggap darurat dan penanganan awal, pekerjaan bergerak menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dukungan pemerintah pusat tetap diperlukan. Koordinasi dengan kementerian dan lembaga harus terus dilakukan.

Program pemulihan juga harus dikawal agar benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pada akhirnya, penghargaan hanya menjadi satu catatan dari perjalanan panjang tersebut.

Yang lebih penting adalah hasil yang dapat dirasakan masyarakat.

Jalan yang kembali dapat dilalui. Rumah yang kembali menjadi tempat tinggal. Lahan yang kembali menghasilkan. Pasar yang kembali ramai.

Anak-anak yang kembali bersekolah. Dan keluarga yang perlahan dapat menata kembali kehidupan mereka.

Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih.

Tetapi dari kondisi yang porak-poranda, proses untuk bangkit terus berjalan.

Masyarakat dan Dampak Bencana

SEPULUH bulan setelah banjir, luka itu belum seluruhnya tertutup. Sebagian masyarakat masih berhadapan dengan dampak yang ditinggalkan bencana.

Namun, pemulihan juga menghadirkan tanda bahwa kehidupan mulai ditata kembali.

Bagi Armia Pahmi, pekerjaan tersebut tidak berhenti pada penghargaan. Tanggung jawab berikutnya adalah memastikan program pemulihan berjalan, anggaran tersedia, pembangunan terlaksana, dan masyarakat terdampak memperoleh kembali ruang untuk menata masa depan.

Sebab, keberhasilan pemulihan pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya janji yang disampaikan, tetapi dari perubahan yang benar-benar terlihat dan dirasakan masyarakat.

Tamiang bangkit bukan karena bencana telah dilupakan, melainkan karena masyarakat dan pemerintah terus bekerja setelah bencana berlalu.[]

No More Posts Available.

No more pages to load.