BANDA ACEH, FR – Dunia pers di Aceh sedang diujung tanduk. Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia-Aceh (FPRMI) menyebut 64 persen berita online saat ini adalah hoax. Ditambah tekanan algoritma platform dan AI yang membuat pendapatan media anjlok.
Hal itu disampaikan Ketua FPRMI Wilayah Aceh, Muhammad Saleh saat audiensi dengan Plt. Sekda Aceh, Taufik di Kantor Gubernur, Rabu (2/9/2026).
Saleh membeberkan data Digital Report Juli 2026. Dari 1500 laporan ke Dewan Pers, 90 persen di antaranya terkait pemberitaan yang tidak berimbang.
“Ini anomali. Di satu sisi kita dituntut menjaga kode etik, di sisi lain dituntut viralitas. Akibatnya kepercayaan masyarakat ke media menurun,” ujar Saleh.
Ia merinci 5 tantangan besar media saat ini: Banjir hoax, laporan Dewan Pers, persaingan dengan influencer, perubahan algoritma YouTube, TikTok, Instagram, hingga tekanan ekonomi akibat AI.
“Perubahan algoritma bisa membuat berita yang tadinya banyak dilihat, tiba-tiba hilang jangkauannya. Ini tekanan besar bagi industri media,” katanya.
Untuk merespons itu, FPRMI Aceh akan menggelar pelantikan pengurus 9 Oktober 2026 dan diskusi “Potensi Jerat Pidana Dalam Produk Jurnalistik” pada 10 Oktober di Banda Aceh. Pematerinya dari PP FPRMI, Dewan Pers dan akademisi.
Saleh berharap Pemerintah Aceh mendukung agenda tersebut.
Menanggapi hal itu, Plt. Sekda Taufik menyatakan dukungan. Ia meminta media menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi pembangunan yang akurat dan berimbang.
“Kami mendukung kegiatan yang baik. Yang penting bagaimana kita saling mendukung untuk menyampaikan informasi yang bertanggung jawab kepada masyarakat,” kata Taufik.
FPRMI sendiri dibentuk 17 Juli 2023 dengan tujuan mengawal profesionalisme jurnalisme di era digital dan mewujudkan ekosistem pers yang sehat.








