Forumrakyat.co.id | Aceh Selatan — Tokoh masyarakat Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Mailizar Aris, angkat bicara terkait maraknya pemberitaan mengenai kondisi lingkungan dan aktivitas pertambangan di wilayah Kluet Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Mailizar menilai, pemberitaan mengenai Kluet Tengah perlu disajikan secara utuh, berimbang, dan berdasarkan hasil penelusuran langsung di lapangan. Ia meminta media tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber tanpa terlebih dahulu melihat kondisi sebenarnya di lokasi.
“Belakangan ini Kluet Tengah sering sekali menjadi bahan utama pemberitaan di sejumlah media online. Namun, ada pemberitaan yang menurut kami belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Bahkan, ada narasumber yang kami ketahui tidak pernah turun langsung ke lokasi,” ujar Mailizar kepada media, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, masyarakat Kluet Tengah tidak keberatan apabila persoalan lingkungan maupun aktivitas pertambangan diberitakan. Namun, informasi yang disampaikan kepada publik harus didasarkan pada fakta dan dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang berkaitan.
“Kami tidak anti terhadap pemberitaan. Silakan diberitakan, tetapi tolong lihat kondisi di lapangan dan dengarkan juga masyarakat yang berada di lokasi. Jangan sampai masyarakat yang sehari-hari berada di sana justru tidak mendapatkan ruang untuk menyampaikan kondisi yang sebenarnya,” katanya.
Kekeruhan Sungai Disebut Berkaitan dengan Aktivitas Penyemprotan di Pegunungan
Mailizar juga memberikan penjelasan terkait kondisi air Sungai Kluet yang belakangan terlihat keruh.
Ia mengakui bahwa kekeruhan air memang terjadi. Namun, berdasarkan informasi dan pengamatannya di lapangan, ia menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas penambangan emas yang berada di kawasan pegunungan Alur Keliat.
“Air memang keruh. Tetapi menurut yang kami lihat, kekeruhan itu berasal dari aktivitas penambangan emas di atas gunung Alur Keliat yang menggunakan sistem penyemprotan air langsung ke tanah,” jelasnya.
Meski demikian, Mailizar mengakui bahwa persoalan kekeruhan air tetap harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat
Masyarakat Diminta Tidak Selalu Diposisikan sebagai Pihak yang Bersalah
Lebih lanjut, Mailizar berharap persoalan pertambangan di Kluet Tengah tidak hanya dilihat dari satu sisi. Ia meminta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas tersebut turut menjadi pertimbangan.
“Kami berharap semua pihak memahami posisi masyarakat setempat. Mereka bekerja di tempat sendiri untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Jangan setiap persoalan kemudian masyarakat yang selalu disalahkan,” katanya.
Ia menyebut aktivitas masyarakat di kawasan pegunungan Kluet Tengah bukan persoalan yang baru muncul. Menurutnya, kondisi kawasan tersebut telah mengalami perubahan sejak puluhan tahun lalu.
“Kalau memang kita bicara kerusakan gunung, persoalan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Mengapa baru sekarang masyarakat yang mencari nafkah menjadi sorotan? Persoalan ini harus dilihat secara menyeluruh,” ujar Mailizar.
Namun, ia juga menegaskan bahwa masyarakat memahami adanya dampak lingkungan yang dapat muncul dari aktivitas pertambangan, termasuk ketika air menjadi keruh.
“Kami mengetahui dan sangat memahami dampak air keruh yang terjadi sekarang. Tetapi pada saat yang sama, kami juga harus mempertimbangkan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari kegiatan tersebut,” katanya.
Mayoritas Penambang Disebut Bukan Warga Kluet Tengah
Mailizar juga menyampaikan bahwa masyarakat yang melakukan aktivitas penambangan di kawasan pegunungan tersebut tidak seluruhnya berasal dari Kecamatan Kluet Tengah.
Bahkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari sejumlah penambang yang ditemui di lapangan, sebagian di antaranya disebut berdomisili di wilayah lain di kawasan Kluet Raya.
“Beberapa penambang yang kami temui di sana








