Forumrakyat.co.id |ACEH BARAT : Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat, kembali berlangsung meriah. Tahun ini, masyarakat setempat menghadirkan 11 ornamen unik berbahan makanan ringan (snack) dengan beragam bentuk, sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan dan terus dikembangkan dari tahun ke tahun.
Peringatan Maulid Akbar tersebut digelar pada Kamis, 25 September 2026, dengan melibatkan masyarakat secara swadaya. Untuk membuat 11 ornamen tersebut, masyarakat menghabiskan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp200 juta.
Beragam bentuk ornamen yang ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Di antaranya Pedang Zulfikar, Rumah Meureuhom, Rumah Aceh, Turbin Angin, Lambang Lafaz Muhammad, Rumah A, Kupiah Meukeutop, Lambang Putrajaya, Lambang Tauhid Tasawuf, Rumah Kopi Gampong, serta Gapura.
Salah satu panitia penyelenggara, Tengku Khalil Munawar, mengatakan seluruh ornamen dikerjakan secara berkelompok oleh masyarakat selama kurang lebih tiga pekan.
“Pengerjaan seluruh ornamen ini memakan waktu sekitar tiga pekan dan dikerjakan oleh masing-masing kelompok,” ujar Tengku Khalil Munawar.
Menurutnya, tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, masyarakat Kubu terus memberikan sentuhan inovasi dengan menghadirkan konsep dan bentuk ornamen yang berbeda setiap tahunnya.
Tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tradisi tersebut kini juga menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Kubu yang terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan kemeriahan Maulid tahun ini juga terlihat tinggi. Pengunjung tidak hanya berasal dari Desa Kubu, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain, seperti Kecamatan Woyla, Samatiga, hingga Kota Meulaboh.
Acara Maulid Akbar dimulai setelah salat Zuhur dengan menghadirkan rombongan dike atau jamaah zikir dari sepuluh desa yang diundang oleh panitia. Seluruh tamu undangan disebut telah hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
“Acara Maulid Akbar dimulai siang setelah salat Zuhur. Ada sepuluh kampung yang kami undang dan Alhamdulillah seluruh tamu undangan sudah berhadir di sini,” kata Tengku Khalil Munawar kepada tim Forum Rakyat.
Sementara itu, salah seorang jamaah zikir asal Desa Peuribu, Satari, mengaku melihat kemeriahan Maulid di Kubu tahun ini jauh lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Satari, kemeriahan itu tidak hanya terlihat dari banyaknya ornamen yang dipamerkan, tetapi juga dari penyambutan terhadap para tamu. Setiap desa undangan mendapatkan nasi beserta bu balai, yakni nasi ketan yang dihias dan menjadi salah satu bagian dari tradisi masyarakat setempat.
“Maulid di Kubu kali ini jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap tamu undangan bukan hanya mendapat nasi, tetapi bu balai juga. Ada empat buah yang dibagikan untuk setiap desa,” ujar Satari.
Ia menilai hal tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kondisi perekonomian masyarakat setempat terus mengalami perkembangan.
Bagi masyarakat Kubu, kemeriahan Maulid bukan sekadar perayaan tahunan. Di balik ornamen snack yang penuh warna dan kreativitas, tersimpan semangat gotong royong, kebersamaan, serta upaya menjaga warisan budaya masyarakat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Tradisi boleh terus berubah mengikuti zaman, tetapi nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya menjadi warisan yang tetap dijaga masyarakat Kubu dari generasi ke generasi.
( Zaini Dahlan / forum rakyat )







