“Insyaallah pada Jumat, 13 November 2026, akan dilakukan peletakan batu pertama yang berlokasi di Bukit Panjang Dua (Bukit Tinggi), Kecamatan Manyak Payed.” [Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang].
- Peletakan batu pertama dijadwalkan 13 November 2026. Investasi diperkirakan Rp50 miliar di atas lahan tiga hektare.
RENCANA pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari di Kabupaten Aceh Tamiang mulai memiliki jadwal pelaksanaan.
Peletakan batu pertama dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 13 November 2026, di kawasan Bukit Panjang Dua atau Bukit Tinggi, Kecamatan Manyak Payed.
Kepastian mengenai rencana tersebut disampaikan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H., dalam dialog bersama masyarakat di Cafe Retak, Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Jumat malam, 25 September 2026.
Armia menyampaikan informasi itu setelah mendapat pertanyaan warga mengenai kabar pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari di Aceh Tamiang.
Armia; Ini Bukan Kabar
ANDI, tokoh masyarakat Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, menanyakan langsung kepada Bupati mengenai kepastian rencana pembangunan rumah sakit tersebut.
Menjawab pertanyaan itu, Armia menyebut pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari bukan sekadar isu yang berkembang di masyarakat.
“Insyaallah pada Jumat, 13 November 2026, akan dilakukan peletakan batu pertama yang berlokasi di Bukit Panjang Dua (Bukit Tinggi), Kecamatan Manyak Payed,” kata Armia.
Menurut dia, pembangunan rumah sakit tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp50 miliar. Lokasi pembangunan berada di atas lahan kurang lebih tiga hektare.
Selain fasilitas rumah sakit, kata Armia, manajemen Rumah Sakit Putri Bidadari juga menyampaikan komitmen untuk membangun satu masjid di kawasan yang sama.
Dengan demikian, kawasan yang direncanakan menjadi lokasi rumah sakit tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga akan dilengkapi tempat ibadah.
Armia mengatakan, pihak investor menargetkan pembangunan rumah sakit rampung dalam waktu sekitar enam bulan setelah peletakan batu pertama.
Investasi Rp50 Miliar
RENCANA tersebut menjadi salah satu agenda pembangunan yang disampaikan Armia dalam dialog dengan masyarakat.
Berdasarkan penjelasan Bupati, proyek ini diperkirakan bernilai sekitar Rp50 miliar dengan kebutuhan lahan kurang lebih tiga hektare.
Pembangunan dijadwalkan dimulai melalui peletakan batu pertama pada 13 November 2026. Manajemen menargetkan pekerjaan konstruksi selesai dalam waktu sekitar enam bulan.
Namun, penyelesaian bangunan tidak secara otomatis menandai dimulainya pelayanan kepada masyarakat. Sebelum beroperasi, fasilitas kesehatan tersebut tetap membutuhkan pemenuhan berbagai persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.
Rincian mengenai kapasitas tempat tidur, jenis layanan medis, jumlah tenaga kesehatan, peralatan, serta tahapan perizinan operasional belum disampaikan dalam dialog tersebut.
Informasi lebih lanjut mengenai aspek teknis dan operasional masih diperlukan untuk mengetahui kesiapan rumah sakit hingga tahap pelayanan kepada masyarakat.
Disampaikan di Tengah Persoalan Pascabencana
INFORMASI pembangunan rumah sakit itu disampaikan Armia dalam forum yang juga membahas kondisi Aceh Tamiang setelah bencana.
Dalam dialog tersebut, Bupati memaparkan sejumlah persoalan yang masih ditangani pemerintah daerah. Di antaranya bantuan stimulan, pemulihan ekonomi, jatah hidup atau jadup, serta kebutuhan masyarakat terdampak lainnya.
Armia mengakui penyelesaian sejumlah persoalan tersebut membutuhkan waktu.
“Semua membutuhkan waktu dan terkadang menguras emosi kita semua, terutama terkait bantuan stimulan, pemulihan ekonomi, jadup, dan lainnya. Namun, saya pastikan saya tidak akan berhenti selama masih ada hal yang belum terselesaikan untuk masyarakat saya,” ujarnya.
Menurut Armia, penanganan dampak bencana tetap menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan pemerintah daerah. Berbagai kebutuhan masyarakat terdampak masih memerlukan koordinasi dan proses penyelesaian.
Di tengah proses tersebut, pemerintah daerah tetap menjalankan agenda pembangunan lainnya, termasuk pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan.
Rumah Sakit dan Masjid
PEMBANGUNAN Rumah Sakit Putri Bidadari direncanakan berada dalam satu kawasan dengan masjid yang akan dibangun oleh manajemen rumah sakit.
Komitmen pembangunan masjid tersebut menjadi bagian lain dari informasi yang disampaikan Armia mengenai rencana investasi tersebut.
Namun, hingga saat ini belum disampaikan secara rinci mengenai ukuran bangunan masjid, kapasitas jamaah, maupun jadwal pembangunannya.
Informasi yang disampaikan Bupati baru mencakup komitmen manajemen untuk membangun satu masjid di lokasi rumah sakit.
Pembangunan Tetap Berjalan
ARMIA menyatakan kondisi bencana yang sebelumnya berdampak terhadap berbagai sektor tidak boleh menghentikan proses pembangunan daerah.
“Bencana boleh memporak-porandakan semuanya karena itu merupakan takdir Allah yang harus kita terima. Namun, tekad untuk bangkit dan membawa Tamiang menjadi lebih baik tidak akan pernah padam,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Armia menjelaskan posisi pemerintah daerah dalam menangani dampak bencana sekaligus melanjutkan pembangunan.
Sejumlah kebutuhan pascabencana masih dalam proses penyelesaian. Pada saat yang sama, program pembangunan daerah tetap harus berjalan sesuai agenda yang telah ditetapkan.
Rencana pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari menjadi salah satu proyek yang disebut pemerintah daerah dalam konteks tersebut.
Menunggu Realisasi di Lapangan
TAHAP berikutnya adalah pelaksanaan peletakan batu pertama pada 13 November 2026.
Jika jadwal tersebut terlaksana, pembangunan akan memasuki tahap konstruksi. Berdasarkan target yang disampaikan Armia, pekerjaan diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan.
Realisasi proyek selanjutnya dapat dilihat dari perkembangan pembangunan fisik di lokasi, termasuk pemenuhan aspek teknis dan administrasi.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan investasi yang diperkirakan mencapai Rp50 miliar dan lahan sekitar tiga hektare, Rumah Sakit Putri Bidadari menjadi salah satu rencana pembangunan fasilitas kesehatan baru di Aceh Tamiang.
Yang Dijadwalkan
RENCANA pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari kini telah memiliki waktu dan lokasi yang disampaikan secara terbuka oleh Bupati Aceh Tamiang.
Peletakan batu pertama dijadwalkan pada Jumat, 13 November 2026, di Bukit Panjang Dua atau Bukit Tinggi, Kecamatan Manyak Payed. Investasi diperkirakan mencapai Rp50 miliar dengan luas lahan sekitar tiga hektare.
Manajemen juga disebut berkomitmen membangun satu masjid dalam kawasan yang sama.
Selanjutnya, perhatian akan tertuju pada realisasi pembangunan di lapangan, mulai dari peletakan batu pertama, progres konstruksi, hingga kesiapan fasilitas dan pemenuhan persyaratan sebelum rumah sakit dapat beroperasi.[]






