Peneliti: Kapolri Suyudi Punya Modal Berantas Narkoba

oleh
oleh

JAKARTA, FR – Ancaman narkoba, judi online (judol), penipuan digital hingga kejahatan terorganisasi dinilai tak lagi bisa dipandang semata sebagai persoalan kriminalitas.

Dampaknya kini merambah ketahanan keluarga, produktivitas masyarakat, kualitas generasi muda hingga kemampuan Indonesia memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Peneliti ekonomi dan ketahanan nasional Caturida Meiwanto Doktoralina, Ph.D., menilai pengalaman Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi modal penting dalam memimpin Polri.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk memperkuat pemberantasan narkoba, judi online dan kejahatan digital melalui pendekatan yang tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga pencegahan.

“Logikanya sederhana. Kalau Indonesia ingin maju, generasi penerusnya harus dijaga. Jangan sampai narkoba, judi online dan kejahatan digital menggerus karakter, produktivitas dan masa depan generasi muda,” kata Caturida di Jakarta, Minggu (4/10/2026).

100 Hari Harus Terukur

Caturida mengatakan program 100 hari kepemimpinan Kapolri Suyudi harus memiliki indikator yang jelas. Menurutnya, keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya operasi atau perkara yang berhasil diungkap.

Ia mendorong Polri menggunakan pendekatan berbasis bukti dengan menetapkan kondisi awal sebagai baseline, menjalankan intervensi secara terarah, kemudian mengukur hasil dan mengevaluasi kebijakan.

“Ukuran keberhasilan jangan berhenti pada berapa operasi dilakukan atau berapa perkara ditangani. Pertanyaannya: apakah korban berkurang, ruang digital lebih aman, peredaran narkoba dan judi online dapat ditekan, pelayanan membaik, dan kepercayaan masyarakat menguat?” ujarnya.

Soroti Momentum Irjen Cornelius Wisnu

Caturida juga menilai kehadiran Irjen Pol Cornelius Wisnu Adji Pamungkas dalam momentum uji kelayakan dan kepatutan Suyudi menarik dicermati dari perspektif ketahanan nasional.

Wisnu diketahui pernah menyusun Kertas Kerja Perorangan di Lemhannas RI berjudul “Penanggulangan Darurat Narkoba pada Generasi Muda Guna Ketahanan Bonus Demografi dalam Rangka Ketahanan Nasional”.

Menurut Caturida, hal tersebut menunjukkan adanya relevansi kuat antara persoalan narkoba, kualitas generasi muda dan ketahanan nasional.

“Kehadiran itu tidak perlu dimaknai sebagai keputusan kebijakan tertentu, tetapi menjadi pengingat bahwa penanganan narkoba memerlukan cara pandang lintas sektor. Keamanan, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi harus bergerak dalam satu arah,” katanya.

Keamanan Dinilai Sebagai Investasi

Caturida menilai narkoba, judi online dan kejahatan digital menimbulkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan kerugian langsung yang dialami korban.

Negara dan masyarakat, kata dia, turut menanggung kehilangan produktivitas, biaya kesehatan dan rehabilitasi, penegakan hukum, pemasyarakatan hingga meningkatnya kerentanan keluarga.

Karena itu, ia mendorong adanya riset mengenai cost of prevention versus cost of inaction untuk menghitung biaya pencegahan dibandingkan potensi kerugian sosial-ekonomi jika negara terlambat bertindak.

“Jika pencegahan lintas sektor terbukti mampu menekan kerugian, maka keamanan bukan hanya cost centre. Keamanan adalah investasi pembangunan. Namun manfaat dan potensi penghematan APBN harus dihitung dengan data, bukan diasumsikan,” tegasnya.

Dorong Kolaborasi Polri dan Kampus

Caturida melihat arah tersebut sejalan dengan Asta Cita dan program prioritas Presiden, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia, keamanan, penegakan hukum dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Perguruan tinggi, menurutnya, perlu mengambil peran lebih nyata melalui riset yang independen dan dapat diuji.

“Polri mempunyai data dan pengalaman lapangan, pemerintah mempunyai arah kebijakan, sedangkan kampus mempunyai metodologi dan kapasitas ilmiah. Hampir semua kampus memiliki roadmap penelitian. Mari petakan bagian yang dapat memperkuat program pemerintah tanpa kehilangan independensi akademik,” katanya.

Ia menyebut sejumlah bidang yang dapat menjadi fokus kolaborasi riset, mulai dari narkoba dan ketahanan generasi muda, judi online dan ekonomi rumah tangga, kejahatan siber, early warning system, keamanan investasi, efektivitas pelayanan kepolisian, biaya ekonomi kejahatan hingga pengukuran kepercayaan publik.

Optimistis, tapi Harus Dibuktikan

Caturida optimistis kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian program prioritas Presiden.

Pengalaman di bidang penegakan hukum dan pemberantasan narkoba dinilai menjadi modal untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga keamanan sekaligus melindungi kualitas generasi penerus bangsa.

“Asta Cita bukan pekerjaan satu institusi. Pemerintah, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat memiliki ruang untuk berkontribusi dalam visi yang sama. Jaga generasinya, perkuat keamanannya, bangun kebijakannya berdasarkan data dan riset. Dengan sinergi itulah keamanan menjadi fondasi bagi kemajuan dan ketahanan Indonesia,” ujar Caturida.

Ia juga meyakini kepemimpinan baru Polri dapat membuka ruang lebih luas bagi kolaborasi ilmu pengetahuan, teknologi dan riset dalam mendukung kebijakan keamanan nasional yang semakin presisi serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Selamat kepada Bapak Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto atas amanah sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Semoga melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat, kepemimpinan Bapak semakin memperkuat kedekatan Polri dengan rakyat, menghadirkan penegakan hukum yang adil, melindungi generasi penerus dari narkoba dan berbagai ancaman kejahatan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian Asta Cita dan penguatan ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Caturida.

Penulis: Caturida Meiwanto Doktoralina, Ph.D.

No More Posts Available.

No more pages to load.