BANDA ACEH, FR – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) berkolaborasi dengan DEMA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar nonton bareng dan diskusi film Surat Kaleng 1949.
Kegiatan yang mengangkat sejarah melalui medium sinema tersebut berlangsung di Teater Library Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), Rabu (7/10/2026). Sekitar 80 mahasiswa dan civitas akademika menghadiri kegiatan tersebut.
Diskusi menghadirkan sutradara Surat Kaleng 1949, Ahmad Fauzan, dan dosen FISIP UIN Ar-Raniry, Mardani Malemi, sebagai pemantik. Diskusi dipandu Muhammad Yufanza Raviansyah.
Ketua Panitia, Fathin Rizqi Erasqal, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menikmati karya sinema, tetapi juga mengkaji nilai sejarah, sosial, dan diplomasi yang terkandung di dalam film.
“Melalui kolaborasi FAH dan FISIP, kegiatan ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menikmati karya sinema, tetapi juga membedah nilai-nilai sejarah dan diplomasi di dalamnya,” kata Fathin.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan jajaran pimpinan akademik UIN Ar-Raniry. Wakil Dekan II FISIP UIN Ar-Raniry, Dr. Saifullah Maysa, M.A., mengapresiasi inisiatif mahasiswa memanfaatkan media audiovisual sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan analisis sosial dan politik.
Sementara itu, Dekan FAH UIN Ar-Raniry, Syarifuddin, M.Ag., Ph.D., membuka kegiatan sekaligus menyampaikan ulasan mengenai film Surat Kaleng 1949.
Menurut Syarifuddin, pemilihan Teater Library DPKA sebagai lokasi kegiatan juga memiliki nilai penting karena menjadikan perpustakaan sebagai ruang interaksi dan pertukaran gagasan.
“Langkah mahasiswa menggelar diskusi di Teater Library DPKA adalah bentuk nyata kampanye kreatif dalam merawat serta mempromosikan perpustakaan. Perpustakaan modern bukan lagi tempat yang sunyi, melainkan pusat kebudayaan, ruang lahirnya ide-ide besar, dan panggung gagasan kritis anak muda,” ujarnya.
Setelah pemutaran film, diskusi berlangsung interaktif. Para peserta membahas berbagai catatan sejarah pada 1949, termasuk dinamika hubungan pusat dan daerah serta relevansinya dengan persoalan kebebasan berpendapat pada masa kini.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Wakil Dekan III FAH UIN Ar-Raniry Umar bin Abd Aziz, S.Ag., S.S., M.A., serta sejumlah akademisi dan perwakilan organisasi mahasiswa di lingkungan UIN Ar-Raniry.
Melalui kegiatan tersebut, DEMA FAH dan DEMA FISIP UIN Ar-Raniry berupaya menjadikan film sebagai medium untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah sekaligus mendorong mahasiswa membaca persoalan masa kini melalui perspektif masa lalu.
Film Surat Kaleng 1949 tidak hanya dipandang sebagai karya sinema yang merekam sejarah, tetapi juga sebagai bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami perjalanan bangsa, relasi pusat dan daerah, serta dinamika sosial-politik yang terus berkembang. (Ril)






